
"Hukum saja saya, Tuan. Sentuh saya sepuasnya, tapi jangan adik saya."
"Bawa dia ke kamarku," titah Lewis meminta pengawalnya untuk membawa Diya ke kamarnya.
"Baik, Mister."
Nesha menengadah, menatap sang adik yang dibawa oleh dua orang pengawal. Diya tak berontak sama sekali, gadis cantik itu hanya pasrah saat dituntun pergi.
Entah apa yang sudah Lewis lakukan kepadanya hingga menjadi begitu patuh. Namun, Nesha yakin Lewis pasti sudah mengancam adiknya hingga menjadi takut dan tak dapat berkutik.
Nesha menelan saliva bersusah payah ketika Lewis berjalan mendekat, lalu berjongkok tepat di hadapannya. Nesha memejamkan matanya, menikmati rasa sakit saat Lewis menggenggam erat dagunya.
"Coba kau lihat dirimu, lihat betapa jelek, buruk dan dekilnya kamu. Melihatmu saja aku merasa ingin muntah, bagaimana mungkin aku sunggup menyentuhmu," ejek Lewis tersenyum smirk.
"Bukanlah lebih baik aku bersama adikmu? Lebih muda dan pastinya lebih cantik darimu. Lebih putih mulus, lebih seksi, matanya biru, tunggu ... apa kalian bersaudara? kenapa perbedaannya bagai langit dan bumi?" lanjut Lewis tak puas mengejek Nesha.
Nesha memejamkan mata dengan setetes buliran bening meluncur dengan bebasnya. Tak hanya air mata, darah segar juga mengalir dari salah satu sudut bibirnya karena ulah Lewis yang menggenggam dagunya terlalu erat. Rasa perih itu berusaha Nesha tahan.
Nesha tak bisa melakukan apa pun, selain menerima sakit dari ejekan Lewis yang membuat hatinya perih bak tersayat sembilu. Mendadak Nesha kesulitan bernapas, oksigen seakan terhisap habis oleh Lewis. Pria itu benar-benar mengerikan, bahkan sangat mengerikan.
__ADS_1
Nesha merasa sangat mengantuk, membuat matanya terasa begitu berat untuk tetap terbuka. Hingga pada akhirnya, Nesha pun kehilangan kesadaran. Lewis melepaskan genggamannya dari wajah sembab itu. Nesha pun tergeletak tak berdaya di lantai dingin.
"Bawa dia!" titah Lewis kesal. Pengawal pun mengangkat tubuh lemah Nesha. Bukannya membawa Nesha ke rumah sakit, atau pun ke kamar. Lewis justru memberi perintah kepada pengawalnya untuk membawa Nesha ke sebuah gudang yang dipenuhi debu dan barang yang berantakan.
Lagi dan lagi, mereka meninggalkan Nesha seorang diri di gudang gelap itu. Tak lupa juga mereka mengunci pintu gudang hingga Nesha tak akan bisa ke mana-mana.
Beberapa menit kemudian, Nesha terbangun. Beberapa kali Nesha mengusap matanya kasar, tapi Nesha tak kunjung melihat apa pun selain warna hitam dan gelap. Sepersekian detik kemudian barulah Nesha menyadari kalau dirinya tengah dikurung.
Nesha tak tau harus berbuat apa, Nesha yang putus asa hanya duduk meringkuk dengan air mata yang terus mengalir deras. Nesha terus memikirkan kemalangan demi kemalangan yang datang tiada henti. Kalau benar Tuhan memberikan ujian sebatas kemampuan umatnya, apakah Tuhan dapat melihat betapa Nesha tak lagi sanggup menjalani takdirnya.
Segalanya sudah hancur. Bukan hanya rumah, ketenangan dan kebahagiaan, tapi juga kesucian adiknya. Nesha selalu merasa bersalah setiap mengingat nasib adiknya Diya. Apa yang pria itu lakukan kepada Diya? Memikirkan hal terburuk, Nesha menangis semakin terisak.
***
Keesokan harinya, pengawal menemukan Nesha yang tak sadarkan diri dengan wajah pucat pasi. Lewis meminta pengawal untuk menyiram Nesha dengan seember air, akan tetapi Nesha juga tak kunjung sadarkan diri.
Melihat hal itu, barulah Lewis membolehkan pengawal untuk membawa Nesha ke kamar. Dokter dipanggilkan untuk memeriksa keadaan Nesha.
"Sangat buruk, Tuan. Dengan kondisi seburuk ini, Nona harus dirawat agar saya bi—"
__ADS_1
"Apa dia akan sadar?" potong Lewis.
"Iya, Tuan. Saya sudah memberikan obat, sebentar lagi Nona akan sadarkan diri. Akan tetapi, Nona tetap harus dira—"
"Kau boleh pergi," potong Lewis sambil memberikan kode pada Asisten Kent.
Dokter itu terdiam, lalu berkata, "Baik, Tuan." Dokter itu langsung keluar dari kamar dengan perasaan curiga.
Beberapa menit kemudian, Nesha sudah sadarkan diri. Tepat saat itu Lewis langsung mencabut paksa jarum infus di tangan Nesha. Nesha meringis.
"Kau kira, kerjamu di rumahku hanya tidur!" bentak Lewis menyerat paksa Nesha.
"Sakitt, Tuan." Lewis tak peduli, dia tetap menyeret Nesha kasar.
"Bunuh saya!"
.
.
__ADS_1
.