
"Nesha," panggil Lewis mengerutkan keningnya heran. Nesha hanya menatap lemah Lewis, dia tak berkata apa pun. Lewis mengalihkan pandangan pada sang mommy di samping Nesha.
"Mommy, kenapa Mommy ada di kamarku?" tanya Lewis pada sang Mommy. "Dan ... Dan kenapa kamu diinfus?" Lewis lanjut bertanya kepada Nesha, karena cemas saat melihat tangan Nesha yang tengah diinfus
"Nesha hanya kelelahan saja, Sayang. Ya sudah, kamu jagain Nesha baik-baik, ya. Segera pasang kembali cairan infusnya kalau habis. Mommy mau nyusul Daddymu untuk membahas resepsi pernikahan kalian yang akan diadakan tiga hari lagi," Mommy Asha bersyukur sang putra tak mengingat apa pun, hingga ia memilih tak menjelaskan.
Sedangkan Lewis dan Nesha terbalalak kaget mendengar apa yang barusan Mommy Asha katakan, "Resepsi?" sahut Lewis dengan volume suara yang meninggi.
"Iya, Sayang. Ingat, Mommy dan Daddy menantikan cucu dari kalian," ujar Mommy Asha membuat Nesha menelan saliva bersusah payah. Ada apa dengan takdirnya? Kenapa segala hal terjadi dengan begitu cepat? Bahkan, tak bisa ia kendalikan.
"Ya sudah, kalian berdua lanjut istirahat saja, tidur yang nyenyak," lanjut Mommy Asha langsung keluar dari kamar, meninggalkan Lewis dan Nesha yang sama-sama terkejut.
Setelah kepergian Mommy Asha, Lewis bertanya pada Nesha, "Kenapa?"
"Tidak apa-apa," jawab Nesha gugup.
"Setuju?" tanya Lewis lagi.
"Setuju apa?" tanya Nesha pura-pura tak tahu.
"Resepsi? Setuju atau tidak?"
"Maaf, aku tidak setuju," jawab Nesha jujur.
"Apa karena Adikmu Diya?" tanya Lewis lagi dan Nesha pun langsung mengangguk lemah.
__ADS_1
"Diya akan baik-baik saja, percayalah."
"Sebelum melihatnya langsung, aku tidak percaya dia baik-baik saja," balas Nesha membuat Lewis mengusap wajahnya kasar.
"Aku sudah berjanji akan membawa adikmu. Jadi, percayalah kepadaku." Nesha hanya diam tak merespon.
"Tidurlah, ini sudah larut malam," kata Lewis membuat Nesha kembali merasa aman karena sosok Lewis yang lembut sudah kembali.
"Baik," jawab Nesha patuh, Lewis pun tersenyum senang.
"Apa aku boleh memelukmu?" tanya Lewis meminta izin.
"Untuk apa?" tanya Nesha polos.
"Bo-boleh," jawab Nesha malu-malu, Lewis pun langsung memeluk Nesha dengan lembut setelah mendapat izin.
"Lebih nyaman, bukan? Sekarang istirahatlah," tutur Lewis lembut membuat tubuh Nesha merinding.
"Tidak nyaman," jawab Nesha jujur.
"Itu karena jantungmu berdebar lebih kencang, makanya tidak nyaman," balas Lewis percaya diri.
"Jantungku tidak berdebar," protes Nesha langsung menengadah, menatap wajah tampan Lewis yang mempesona.
Lewis menundukkan wajahnya, menatap wajah cantik Nesha yang sendu, hatinya dibuat berbunga-bunga, ia sangat bahagia. "Tidak mungkin kamu masih hidup kalau jantungmu tidak berdebar," balas Lewis.
__ADS_1
"Bu-bukan begitu maksudku."
"Ya sudah, apa pun itu. Tidurlah," satu kecupan hangat mendarat di kening Nesha. Nesha dapat merasakan debaran yang begitu kencang. Entah itu debaran jantungnya atau debaran dari jantung Lewis.
***
Keesokan harinya, Lewis menggandeng Nesha menuju ruang makan untuk bergabung sarapan bersama dengan Daddy Usan dan juga Mommy Asha.
"Sayang kemarilah," panggil Mommy Asha antusias. Nesha pun duduk tepat di samping Mommy Asha, sedangkan Lewis duduk di hadapan Nesha tepatnya di samping sang Daddy. Kedua pasangan itu duduk berhadapan dan langsung memulai sarapan di pagi itu.
Selesai sarapan, mereka pun memilih duduk di ruang keluarga dan berbincang-bincang di sana. "Lewis, Neshanya Mommy pinjam dulu," tutur Mommy Asha tiba-tiba.
"Nesha mau Mommy bawa ke mana?" tanya Lewis mengintrogasi.
"Tentu saja memilihkan gaun pengantin untuknya," jawaban Mommy Asha membuat Nesha menundukkan wajahnya dalam, sementara Lewis menghela napas kasar.
Sepersekian detik kemudian, Lewis pun kembali angkat bicara, "Nesha tidak ingin adanya resepsi, Mommy."
Mommy Asha mengerutkan alisnya lalu bertanya, "Kenapa?"
.
.
.
__ADS_1