
"Lewat sini, Sayang," ajak Lewis menuntun Nesha menuju tangga.
"Apa liftnya rusak?" tanya Nesha yang mengira lift rusak, makanya Lewis mengajaknya naik ke lantai atas dengan tangga.
"Tidak, Sayang. Liftnya tidak rusak," jawab Lewis mengulum senyum, sedangkan Nesha menaikkan sebelah alisnya, menatap heran Lewis.
"Kenapa?" tanya Nesha singkat.
"Karena ini!" seru Lewis menunjuk pada tangga yang dipenuhi oleh taburan bunga mawar merah yang menyebarkan aroma semerbak, sangat harum saat wangi itu menembus indera penciuman Nesha. Nesha tak bisa menahan senyuman kebahagiaan.
"Mari naik, Tuan Putriku," tutur Lewis dengan posisi menekuk lutut, kemudian memberikan tangannya untuk Nesha genggam. Malu-malu, Nesha mengulurkan tangannya untuk Lewis genggam. Lewis tersenyum senang kala Nesha mau menerima uluran tangannya.
"Aakh!" teriak Nesha kaget saat Lewis langsung menggendongnya tanpa aba-aba membuat Nesha reflek mengalungkan kedua tangan di leher kekar Lewis. Lewis mulai menaiki satu persatu anak tangga, Nesha mengeratkan pelukannya karena takut terjatuh.
Lewis tak melepaskan Nesha walau sudah sampai di lantai atas. "Aku pasti berat," bisik Nesha di telinga Lewis.
__ADS_1
"Tidak berat sama sekali, Sayang." Lewis menurunkan Nesha setelah sudah berada di depan pintu kamarnya.
"Kamu tutup mata dulu, ya," Lewis meminta Nesha menutup mata sebelum membuka pintu kamarnya. Nesha pun patuh dan langsung memejamkan kedua mata.
Lewis mulai membuka pintu kamarnya dengan perlahan, kemudian menuntun dan membawa Nesha masuk ke dalam kamarnya yang sudah ia hiasi dengan berbagai macam jenis bunga mawar serta bunga terlangka dan termahal di dunia.
Aneka bunga itu membuat aroma harum memenuhi kamar mewah dan luas yang kini sah menjadi miliknya dan Nesha. Tak hanya bunga, tapi juga semakin diperindah dengan hiasan balon berbentuk hati dan juga lilin yang di susun berbentuk hati. Sedangkan di atas ranjang juga terdapat banyak bunga mawar yang juga ditata berbentuk hati. Lewis sendiri yang menatanya sedemikian rupa.
"Sekarang kamu sudah boleh membuka mata, Sayang." pinta Lewis dan Nesha pun langsung membuka kedua matanya.
"Sudah, Sayang. Tidak perlu terharu begini. Ini belum apa-apa, setelah ini aku pastikan akan selalu membahagiakanmu seumur hidupku," tutur Lewis membalas pelukan erat Nesha. Nesha tak merespon, tapi ia semakin mengeratkan pelukannya. Lewis dibuat keheranan.
Penasaran, Lewis pun langsung melepaskan tubuhnya dari Nesha. Merangkul wajah Nesha, kemudian menatapnya lekat. "Jangan lepaskan, berikan aku tempat sejuk itu. Tolong, aku kepanasan," tutur Nesha dengan suara anehnya.
"Mommy!" geram Lewis kemudian langsung menggendong Nesha ala bridal, sementara Nesha sibuk memeluknya erat, mencari kesejukan di tubuh kekar sang suami. Tiba di ranjang, Lewis meletakkan tubuh Nesha dengan perlahan serta berhati-hati seakan Nesha adalah benda berharga yang mudah pecah.
__ADS_1
Lewis menjatuhkan tubuhnya di samping Nesha, menghela napas berat kemudian menghembuskannya perlahan. Berharap dengan melakukan itu dapat membuat ketegangannya sedikit berkurang.
Lewis dibuat kaget saat tiba-tiba Nesha mengukung tubuhnya. Lewis langsung membalikkan badan sekuat tenaga, hingga ialah yang kini balik mengukung tubuh Nesha.
"Sayang tenanglah, biarkan aku yang melakukannya. Kamu cukup diam saja, oke."
"Panas, Aku tidak sanggup. Cepatlah," mohon Nesha dengan kedua pipi yang memerah dan keringat yang membasahi rambut panjangnya. Tapi, Nesha menurut, ia tak lagi menyerang seperti sebelumnya. Lewis bernapas lega karena dosis obat laknat yang Mommy-nya berikan tidak terlalu banyak.
"Aku akan diam, tapi cepatlah lakukan," mohon Nesha menggeliatkan tubuhnya ke sembarang arah.
"Baiklah, akan aku mulai, jangan menyesal ya, Sayang. Kamu yang memintanya."
.
.
__ADS_1
.