Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 25 ~ Keturunan


__ADS_3

"Apa yang mau kamu lakukan?" cegat Nesha kaget.


"Melepaskan pakaianmu," jawab Diyan dengan santainya.


"A-akan aku lakukan sendiri," Nesha mencoba untuk bangkit, akan tetapi dia tidak punya tenaga lebih untuk melakukannya.


"Aku akan membantumu, tidak perlu malu, bukankah kamu sudah menjadi istriku," Diyan melepaskan tali yang menggantung di pundak Nesha, tapi Nesha menahannya.


"Janji suci tadi tidak benaran, bukan?" Nesha bertanya memastikan.


"Namanya saja janji suci, mana mungkin ada yang bohongan," balas Diyan tersenyum manis


"Maksudku, kita tidak benar-benar menjadi pasangan suami istri, bukan? Kita tidak saling mengenal," ungkap Nesha menyingkirkan perlahan tangan Diyan dari pundaknya.


"Kita sudah sah menjadi pasangan suami istri di hadapan Tuhan dan Tuhan sendiri yang menjadi saksinya. Lagipula, aku tidak keberatan menjadi suamimu," jawaban Diyan membuat Nesha tercengang, bagaimana mungkin pria di hadapannya dapat mengatakan hal itu dengan mudah.


"Tapi aku keberatan menjadi istrimu," seru Nesha.


"Aku tidak memaksamu," sahut Diyan membuat Nesha kembali terdiam.


"Tapi, kalau kamu mau keluar dan bebas dari penjara ini, kita harus menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya lebih dulu," lanjutnya, Nesha mengerutkan dahi tak mengerti.


"Apa maksudmu? Apa hubungannya menjadi pasangan suami istri sesungguhnya dengan keluar dari penjara ini?"

__ADS_1


"Karena hanya kehadiran seorang bayi laki-laki yang kamu lahirkan, yang dapat mengeluarkan kita dari sini," jawab Diyan dengan wajah seriusnya.


"Maksudmu apa? Katakan dengan benar, bayi yang aku lahirkan maksudnya apa?" desak Nesha tak sabaran.


"Ya, bayi yang kamu lahirkan. Artinya anak dari hasil persetubuhan kita berdua," Diyan berucap dengan santainya, sedangkan Nesha dibuat semakin kebingungan.


"Untuk apa?"


"Dayan mandul," jawab Diyan mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedih.


"Dia menginginkan seorang bayi? Karena siapa yang dapat memberikan keturunan barulah bisa menjadi Mr. Lewis sesungguhnya," lanjutannya.


"Aku tidak mengerti konspirasi apa yang kalian lakukan. Tapi, kalau pun aku melahirkan seorang bayi, aku tidak akan memberikannya kepada siapa pun!" tegas Nesha serius.


"Ada apa? Tidak perlu bersedih, bukankah tidak terlalu buruk, dia tidak membunuh kita."


"Apa benar-benar tidak ada cara lain?" tanya Nesha dengan isakan pilu.


"Tidak ada, hanya itu satu-satunya cara," Diyan memasang raut wajah putus asa.


"Lalu, bagaimana aku bisa melihat keadaan adikku?" tangis Nesha semakin histeris kala mengingat nasib sang adik kesayangan.


"Adikmu baik-baik saja. Sekarang dia aman di kamarnya," Diyan terdiam dengan mata membulat sempurna.

__ADS_1


"Bagaimana kamu bisa tahu aku punya seorang adik yang juga ditahan? Dan bagaimana kamu bisa tahu keadaan adikku?" tanya Nesha mengintrogasi.


"Aku hanya menebak saja. Aku pernah mendengar pengawal mengatakan tentang kamu dan adikmu. Lagi pula, Dayan adalah kembaranku, sedikit banyak aku tahu apa yang dia sukai," terang Diyan mencari alasan yang tidak masuk akal.


"Maksudmu, iblis itu menyukai adikku?"


"Tidak menutup kemungkinan." balas Diyan membuat Nesha semakin bersedih.


"Apa salahku? Kenapa kalian berdua menggangguku? Aku bahkan tidak mengenal kalian, kenapa melibatkanku?"


"Ini sudah takdir. Pernikahan yang barusan juga adalah takdir kita berdua."


"Kamu, kenapa kamu tidak terlihat sedih sama sekali?"


"Aku seorang pria tangguh, Nona cantik. Apa aku harus menangis sepertimu?" balas Diyan santai. Sejak kecil dia sudah mengagungkan seorang wanita. Apalagi kalau wanita itu adalah wanita cantik sesuai seleranya. Baginya, wanita dihadirkan untuk dimanjakan dan dilimpahkan kasih sayang dan Diyan menyukai hal itu.


"Tadi kau menangisi kematian adikmu." ucapan Nesha membuat Diyan kembali serius.


"Itu hanya akting, karena sebenarnya Preston masih ....


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2