Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 17 ~ Menikah


__ADS_3

Diya menggelengkan kepala, menggigit bibir guna melampiaskan rasa sakit di bawah sana ketika Lewis berhasil merobek mahkota miliknya. Mahkota yang selama ini dia jaga, harus direngut paksa oleh pria bengis seperti Lewis.


Lewis tersenyum puas, pria itu mengangkat kepala, menatap langit-langit kamarnya, menikmati sensasi pijatan di bawah sana. Pria dengan salah satu bola mata kemerahan itu tampak sangat menikmati rasa keperawanan itu, rasa yang baru pertama kali dia nikmati.


Kenikmatan itu bagaikan nar kotika, meringankan tubuh dan pikiran yang terasa melayang di udara, tak ketinggalan sensasi candu yang teramat, membuatnya selalu merasa kurang, ingin lagi dan lagi.


Bila pria di atasnya tersenyum puas, Diya justru terdiam dengan tubuh yang bergetar. Tubuhnya memang dapat merasakan sakit dan nikmat di saat yang bersamaan. Tapi, tidak dengan hatinya. Wanita yang harus kehilangan keperawanan di usia enam belas tahun itu, tampak tak lagi peduli terhadap apa yang Lewis lakukan.


Wajahnya datar, pandangannya kosong, hanya fisiknya yang masih di tempat, tapi rohaninya entah melayang ke mana. Wanita cantik dengan tubuh penuh becak tanda kepemilikan itu seakan tak lagi punya semangat untuk melanjutkan hidupnya.


Bahkan, Diya tak lagi berontak ketika Lewis menghentakkan tubuhnya dengan brutal, pria itu benar-benar menikmati tanpa punya rasa kasihan secuil pun kepada Diya. Lewis tetap fokus pada hentakan demi hehentaka yang dia lakukan.


Entah sudah berapa jam berlalu, pergulatan itu tak kunjung berhenti. Lewis tetap melakukannya lagi dan lagi meski sudah tumbang berkali-kali.


***


Keesokan harinya, Diya mengerjabkan mata, yang pertama dirasakannya adalah tubuh yang terasa diremuk-remukkan, serta rasa yang sangat perih di bawah sana.


Namun jelas lebih perih hatinya. Ikatan di tangannya sudah dilepas, tapi meninggalkan bekas kemerahan yang terasa begitu perih. Diya merasai dadanya, menepuk-nepuknya pelan, berharap rasa sesak itu bisa berkurang bila melakukan itu.

__ADS_1


Air mata mulai mengalir deras saat potongan-potongan adegan semalam menari-nari di pikirannya, Diya merasa kalau dirinya adalah wanita paling menjijikan di dunia.


Perlahan, Diya mulai bangkit, memandang ke kiri dan ke kanan. Namun, tak ditemukannya pria yang semalam menggagahinya dengan paksa. Tak ingin berlarut dalam kesedihan, Diya bangkit dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang hina.


Di dalam kamar mandi, Diya menggosok kulitnya dengan kasar hingga meninggalkan luka. Gadis yang sudah tak lagi perawan itu merasa begitu jijik dengan tubuhnya. Bukannya bersih, tapi malah menambah luka di sekujur tubuhnya. Diya tak peduli karena jelas hati lebih sakit daripada tubuhnya.


***


Di Markas.


"Saya mau dibawa ke mana?" tanya Nesha kebingungan saat dirinya dibawa ke sebuah ruangan lain di markas itu.


Kini, Nesha sudah terikat sangat erat sampai-sampai kesulitan bernapas sekaligus menggerakkan tubuhnya. "Apa lagi yang ingin kalian lakukan?' tanya Nesha percuma karena pengawal itu benar-benar tak meresponnya sama sekali.


Beberapa saat kemudian, pintu baja terbuka secara otomatis. Menampakkan pria bertubuh kekar dengan bola mata sebelah kiri yang kemerahan. Pria itu datang seorang diri, tak bersama seorang Asisten yang biasanya selalu ada di sebelahnya.


Pria itu berjalan mendekat, kemudian berhenti tepat di hadapan Nesha. "Luka di kepalanya, apakah kalian yang melakukan?" tanya Lewis menatap tiga orang pengawal di belakang Nesha.


"Tidak, Mister. Tahanan terjatuh di kamar mandi," jawab tegas salah satu dari pengawal.

__ADS_1


"Lalu, kalian mengobatinya tanpa sepengetahuanku?" raut wajah itu terlihat kesal, sangat menyeramkan, benar-benar jelmaan iblis.


"Bukan kami, Mister," balas mereka cepat.


"Oh, aku mengerti." jawab Lewis maju selangkah lagi, pria itu berdiri sangat dekat dengan Nesha.


"Aston, kau pergi dan perintahkan semua pengawal di Markas untuk berkumpul di ruangan hitam," titah Lewis.


"Baik, Mister." jawab pengawal di sebelah kiri Nesha, pengawal itu pun langsung keluar dari ruangan.


Setelah kepergian pengawal itu, Lewis membungkukkan tubuhnya, kemudian menarik kasar perban yang melingkar di kepala Nesha. Nesha pun berteriak kesakitan dengan darah yang mengalir deras dari lukanya yang terbuka.


Darah itu mengalir lebih banyak daripada waktu Nesha terjatuh. Nesha meringis kesakitan. Sementara darah merubah gaun warna putih yang kala itu dipakainya.


"Guan putih dan merah, penampilan yang bagus. Sekarang waktu yang sangat tepat untuk menikah."


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2