
"Penampilan yang bagus, gaun putih dan merah. Sekarang waktu yang sangat tepat untuk menikah," tutur Lewis dengan tersenyum nyalang.
Nesha membulatkan mata sempurna kala mendengar ucapan Lewis. Apakah iblis di hadapannya itu benar-benar ingin menikahinya? Dan apakah ini adalah waktunya untuk menyerahkan diri? Tapi, Adiknya bagaimana? Diya bagaimana?
"Aku tidak ingin menikah dengan iblis sepertimu, sebelum kamu melepaskan adikku!" bentak Nesha dengan tenaga yang tersisa.
"Melepaskan Diya adikmu? Ck! Jangan harap karena adikmu sudah menjadi budak nafsuku," ujarnya memperlihatkan bola mata merah yang sangat menyeramkan.
"Kau bajingan! Beraninya menyentuh adikku! Bajiangan sialan! Aku tidak akan memaafkanmu! Aku akan membunuhmu!" teriak Nesha berontak.
"Coba bunuh aku, aku menantikannya."
Beberapa saat kemudian, pintu baja terbuka, memperlihatkan seorang suster yang masih mengenakan seragam rumah sakit. Suster dengan seragam seksi itu mendekati Lewis karena terpesona akan paras tampan seorang Lewis. Tidakkah Suster itu tahu bahwa lelaki itu adalah iblis yang tengah memakai topeng malaikat.
"Mister, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan suara menggoda, Nesha ingin muntah mendengarnya.
__ADS_1
"Periksa apakah wanita itu sedang dalam masa subur," titah Lewis menunjuk Nesha yang masih terikat di atas kursi. Mendengar perintah itu, Nesha membulatkan matanya sempurna, apa yang diinginkan Lewis darinya? Dan untuk apa memeriksa masa kesuburannya? Benar-benar sulit dipahami.
"Baik, Mister. Itu sangat mudah," suster centil itu langsung mendekati Nesha. Dan minta dua orang pengawal di belakang Nesha untuk melepaskan ikatan tali yang melilit tubuh Nesha.
"Jangan, saya mohon jangan!" teriak Nesha memohon. Tapi, Suster itu justru tersenyum miring.
"Bantu aku membuka kedua kakinya," kembali suster itu meminta kedua pengawal membuka kedua kaki Nesha. Nesha terus berontak membuat darah dari keningnya mengalir semakin deras, tak kunjung berhenti.
Setelah kedua kaki Nesha terbuka lebar dengan bantuan kedua pengawal, suster itu mulai menyingkap gaun putih bercampur darah yang Nesha kenakan, setelahnya, suster itu langsung menyibak cd di bagian inti Nesha agar dia bisa memeriksa cairan yang ada di sana untuk mengetahui masa subur.
Beruntung juga karena suster itu hanya memeriksa tanpa melepaskan cd Nesha. Karena kalau dilepas, maka dua orang pengawal dan juga Lewis sudah dipastikan dapat melihat bagian paling pribadi yang selama ini tidak dilihat oleh siapa pun kecuali Nesha sendiri.
"Sangat kebetulan Nona ini memang sedang dalam masa subur, Mister," suster itu menggoda Lewis dengan membusungkan dada menempelkannya pada lengan Lewis yang dia peluk.
"Kalau begitu, kau berikan obat apa pun yang akan membuatnya cepat hamil," titah Lewis tak menepis maupun menolak ketika suster itu menggodanya.
__ADS_1
"Baik, Mister." suster itu melepaskan Lewis, membuka tas yang menggantung di pundaknya, kemudian mengeluarkan satu tablet pil penyubur rahim dan beberapa tablet vitamin lainnya. Suster itu juga menjelaskan aturan minumnya kepada pengawal. Sedangkan Nesha tak tahu harus berkata apa.
Apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya, sulit dicerna akal sehatnya. Dari menikah, masa subur, dan sekarang memberikan obat agar cepat hamil. Sebenarnya, apa yang Lewis inginkan dari dirinya?
"Pastikan dia telan obat itu," perintah Lewis pada salah satu pengawal, sedangkan pengawal sebelahnya langsung membuka paksa mulut Nesha. Mereka memasukan obat dan vitamin bersamaan ke dalam mulut Nesha. Nesha berontak tak ingin menelannya, tapi mereka memaksa dan Nesha pun menelan pil itu tanpa air.
Nesha tak lagi kuasa menahan tangis, gadis berusia 25 tahun itu tak bisa melakukan apa pun lagi. Satu orang pengawal menyeretnya keluar dari ruangan.
DOR!
.
.
.
__ADS_1