
"Baiklah, akan aku mulai, jangan menyesal ya, Sayang. Kamu yang memintanya," Lewis mendekati wajah Nesha yang berada tepat di bawah tubuhnya. Jarak semakin terkikis, tapi bibir keduanya belum juga saling menyatu. Geram, Nesha langsung mengalungkan kedua tangannya di leher kekar Lewis, menekan kepala Lewis hingga bibir mereka benar-benar telah menyatu.
Mendapatkan kesejukan itu, Nesha pun diam tanpa melakukan apa pun. Lewis juga tak melakukan apa pun, ia masih menikmati rasa manis, kenyal, dan hangat yang kini melanda hatinya, menerbangkan kupu-kupu, membuatnya merasa begitu lega.
Sepersekian detik kemudian, barulah Lewis menggerakkan bibir dan lidahnya. Meng ulum bibir bawah dan bibir atas Nesha hingga puas. Kemudian, Lewis menekan lembut dagu Nesha hingga Nesha pun membuka mulutnya. Lewis langsung Mengesklor kehangatan di kenikmatan rongga mulut Nesha yang dapat membuat hasratnya semakin membuncah.
Lewis mulai mengabsen satu persatu bagian apa saja yang ada di dalam rongga mulut Nesha. Lewis memainkan lidahnya, menari, menggelitik, meng ulum, menye sap dan meng gigitnya lembut, membuat Nesha mengeluarkan suara erotis karena tak sanggup menahan kenikmatan demi kenikmatan yang Lewis berikan padanya.
Setelah puas bermain di rongga mulut Nesha, Permainan bibir dan lidah itu mulai turun ke bawah. Lalu berhenti di ceruk leher Nesha yang jenjang, mulus, dan manis. "Uhhh ...." Lewis men jilat kemudian meng gigit lembut cu ping telinga Nesha. Membuat Nesha tak kuasa menahan lenguhannya.
Tangan nakal Lewis mulai bergerilya, menyentuh, merasai dan mere mas setiap inchi demi inci tubuh Nesha. Sedangkan Nesha terus melenguh, sentuhan-sentuhan lembut Lewis seakan mengandung magnet bertegangan tinggi, membuatnya tak kuasa menahan diri akibat hasrat yang begitu besar melandanya.
Lewis melepaskan Nesha, berdiri kemudian melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya. Setelah itu, Lewis kembali melu mat brutal bibir Nesha. Kelembutan yang semula ia lakukan perlahan menghilang, tergantikan oleh aksi yang semakin lama semakin brutal, karena hasrat yang terus membimbing serta menuntunnya, terus menuntut menginginkan hal lebih. Tangan nakal Lewis langsung mere mas gemas kedua gundukan Nesha. Kedua tangan nakal itu menyelinap, mere mas tanpa melepaskan kain yang masih membalutnya.
Lewis bangkit, melepaskan baju Nesha, lalu bra, lalu celana, meninggalkan cd yang masih betah menempel di bawah sana. Lewis terdiam, terperangah, tercengang, dan terbelalak. Ia menikmati lama pemandangan indah di depan matanya. Pemandangan indah yang akan selalu ia ingat dalam memori terlama agar tak bisa ia lupakan keindahan yang haqiqi itu.
Tak puas hanya memandangnya saja, Lewis mulai melahap dua gundukan Nesha yang sedari tadi berdiri tegak menantangnya. Lewis memainkan dua benda kenyal itu dengan gemas, Lewis juga meme lintir dan menekan gemas kedua tombol di tengahnya. Setelah itu, ia langsung melahapnya, memainkannya dengan bibir dan lidah yang handal, membuat suara erotis Nesha semakin menjadi.
Sementara salah satu tangan nakalnya mulai menyelinap, menurunkan pelan CD tanpa melihatnya karena sibuk memberikan pelayanan terbaik pada dua gundukan Nesha. Lewis bangkit, lalu menatap, memandang keindahan di bawah sana. Keindahan yang seakan mengandung magnet bertegangan paling tinggi hingga mampu membuatnya mendekat, dan berakhir membenamkan wajahnya di bawah sana.
Lewis memainkan lidahnya di sana, membuat Nesha membusungkan dada, mengangkat panggul, kemudian berteriak panjang, hingga cairan kenikmatan membasahi bagian sensitifnya di bawah sana. Lewis membiarkan Nesha beristirahat hingga napasnya kembali teratur.
Setelah napas Nesha mulai teratur dan tubuhnya sudah berhenti bergetar, barulah Lewis melancarkan kembali aksinya. Mulai memposisikan diri di atas tubuh Nesha. "Aku akan melakukannya perlahan," bisik Lewis di telinga Nesha, Nesha menganggukkan kepala cepat dan Lewis pun melai mengarahkan senjatanya di bawah sana.
"Aaargh!" teriak Nesha merintih kesakitan.
"Tahan sebentar, Sayang, baru kepalanya," Lewis menariknya senjatanya perlahan, kemudian mendorong lagi dengan perlahan, membuat Nesha terus merintih kesakitan.
"Cakar saja punggungku," pinta Lewis memberikan punggungnya untuk Nesha cakar dengan kuku-kuku tajamnya. Tapi, Nesha menolak, dia lebih memilih menarik rambut Lewis dengan sekuat tenaga, hingga rambut Lewis pun rontak di tangan Nesha. Lewis tak mengeluh apalagi kesakitan, dia justru lebih merasa bersalah saat berusaha menerobos pertahanan Nesha.
"Pelan sedikit," pinta Nesha dengan air mata yang mengalir dari kedua pelupuk matanya, Lewis mengecup kedua mata sembab itu dengan lembut dan penuh cinta.
"Sekali ini saja, aku berjanji setelah ini tidak akan menyakitimu lagi, Sayang. Arrg, kenapa sempit sekali," erang Lewis dengan menyebutkan janjinya. Ia terus menarik kemudian mendorong dengan perlahan. Hingga akhirnya senjata miliknya berhasil menenggelamkan diri di bagian tubuh ternikmat Nesha.
Lewis menengadahkan kepalanya menatap langit-langit, memejamkan mata menikmati sensasi pijatan di bawah sana. Sementara Nesha tak kuasa menahan lenguhannya, tubuhnya bergetar walau senjata perkasa itu belum beraksi sama sekali.
"Apa masih panas?" tanya Lewis dengan napas yang tersengal. Nesha yang telah sadarkan diri sepenuhnya langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangannya karena merasa malu. Lewis tersenyum setelah itu mulai memainkan tubuhnya di atas tubuh Nesha, melakukan gerakan sesuai ritme yang diaturnya. Hampir satu jam berlalu, barulah Lewis mempercepat ritme permainannya. Semakin cepat ia memompa, semakin kencang pula rintihan serta jeritan Nesha.
__ADS_1
"Aaaaaarrrghhh!" erangan panjang keduanya terdengar memenuhi ruangan, Lewis menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Nesha yang masih bergetar. Lewis merangkul, membenamkan tubuh polos Nesha masuk ke dalam pelukan hangatnya. Nesha yang malu tak ingin memandang raut wajah suaminya.
"Lagi, ya?" pinta Lewis meminta izin.
"Pe-rih," tutur Nesha pilu dengan suara yang serak karena terlalu banyak merintih dan berteriak. Lewis yang perkasa membuatnya kualahan, semua anggota tubuhnya terasa seperti diremuk-remukkan, benar-benar melelahkan. Nesha tak yakin ia sanggup bertahan kalau Lewis benar-benar menginginkannya lagi di malam itu.
"Baiklah, malam ini cukup sekali saja." Sekali. Tentu saja kurang bagi Lewis. Tapi, ia tak mau egois. Ia harus melakukannya ketika sang istri juga menikmati. Lewis tak ingin meninggalkan kesan buruk pada sang istri di malam pertamanya.
Setelah malam menggelora itu, malam-malam berikutnya lebih menggelorakan lagi, karena Nesha tak hanya menjadi penerima, tapi juga mampu membalas apa pun yang Lewis lakukan kepadanya. Semakin cepat waktu berlalu, semakin panas pula hasrat keduanya.
Cinta tumbuh begitu cepat, Lewis sangat mencintai istrinya, begitu pun sebaliknya, Nesha begitu mencintai suaminya. Keduanya saling menerima satu sama lain. Hidup Nesha pun hanya dikelilingi kebahagiaan yang begitu besar. Lewis dan Nesha hidup bahagia selamanya.
TAMAT!
Hallo, Guys๐๐
R : Kenapa cepat amat tamatnya, Thor?
O : Biar nggak muncul bochil, kalau sampai muncul bochil. Sudah dipastikan akan ada novel dengan judul Terjerat berikutnya๐. Jadi, Othor tamatin sampe situ aja deh๐๐๐. Karena novel author dengan judul terjerat udah ada 6 novel, Guys. Lagian, si Lewis ini udah cicit dari leluhur Jackson Baldev dan leluhur Cecilia (di novel Terjerat Nafsu CEO Miliarder)๐. Dah panjang bet kan.
R : Lah, Dayan sama Diya gimana, Thor?
Lingkaran keluarga Talsen Baldev.
Terjerat Nafsu CEO Miliarder. (Leluhur).
Terjerat Dendam CEO impoten. (Putra~Anak pertama).
__ADS_1
Terjerat Hyper Husband. (Putri~Anak kedua).
Terjerat Ranjang Hangat Si Culun Seksi. (Cucu).
Terjerat Cinta Wanita Depresi. (sahabat).
Terjerat Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis. (Cicit).
.
.
.
Lewis
Nesha
__ADS_1