Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 29 ~ Dayan vs Preston


__ADS_3

Di sebuah Mansion yang terletak jauh di Italia. Mansion yang cukup luas dengan nuansa estetik itu terlihat begitu indah dipandang mata. Keberadaan tepat menghadap pantai berpasir putih dengan birunya laut. Di ruang tamu tengah berbincang dua orang manusia yang tak lain ialah Nenek Lore dan juga Preston.


"Trik dan rencana yang bagus," puji Nenek Lore yang duduk santai sambil menyeruput teh miliknya.


"Tentu saja, Nek. Nenek salah besar telah meragukan kinerja Mr. Lewis. Dibandingkan dengan kakaknya Dayan, jelas lebih hebat Diyan," balas Preston membanggakan Misternya.


"Sangat hebat hingga kau hampir mati, kalau tidak ada nenek, apa kau masih bisa berbicara saat ini," Nenek Lore meletakkan kembali cawan teh yang hanya diseruput sedikit olehnya.


"Itu hanya kecelakaan, Nek. Tapi, aku memang menyukai gadis itu," ungkap Preston yang kini tengah duduk di kursi roda karena mengalami kelumpuhan yang entah kapan aku kembali sembuh.


Preston memang hanya mengalami pukulan keras di bagian kepala dan bukan di kaki. Namun, pukulan keras itu berhasil merusak sistem saraf motorik bagian atas yang berada di kepalanya.


Sedangkan sistem saraf motorik berperan penting dalam pergerakan tubuh, seperti berjalan, berbicara, menulis, makan, dan minum hingga mengambil benda tertentu.


Beruntung Preston hanya mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang masih dapat disembuhkan. Namun, belum dapat diprediksikan kapan dia akan bisa kembali berjalan seperti biasanya.


Akan tetapi, hal itu tak membuat Preston berputus asa, karena dia sendiri pun sadar kelakuannya dalam mempermainkan wanita memang sangat keterlaluan. Entah sudah berapa banyak wanita yang menjadi korban pelampiasan hasratnya.

__ADS_1


"Sayangnya gadis yang kamu sukai itu sudah menjadi milik Dayan," bibir keriput Nenek Lore melengkung memperlihatkan senyuman nyalang.


"Aku suka berkompetisi," balas Preston tak ingin kalah.


"Dua pria tanpa perasaan tengah memperebutkan seorang gadis tak berdaya. Entah siapa yang akan mendapatkannya," sahut Nenek Lore santai. Nasib Diya benar-benar malang, diperebutkan dua orang pria yang bahkan tak kenal rasa dan perasaan.


***


Mendengar kucuran air dari dalam kamar mandi, Dayan yakin Diya sedang berada di dalamnya, Dayan pun langsung mendobrak pintu dan betapa kagetnya Dayan saat melihat Diya yang terbaring di lantai dingin dengan air mengalir deras di atasnya.


Dayan reflek mematikan shower dan melepaskan jas di tubuhnya, lalu ia balutkan ke tubuh dingin Diya yang telah tak sadarkan diri. Dayan menggendong Diya keluar dari kamar mandi, lalu membaringkan Diya di atas ranjang. Kemudian dengan telaten melepaskan baju basah yang melekat di tubuh Diya dan memasang kembali dengan baju yang baru.


Hanya dalam hitungan detik, pengawal dari markas yang bernama Robert pun tiba. "Mister," panggilnya sambil mengetuk pintu kamar.


"Masuk dan cepat periksa dia!" titahnya seraya menunjuk Diya yang wajahnya semakin memucat. Robert adalah seorang pengawal yang sebelumnya juga pernah merawat Nesha yang terluka. Mendapat perintah mendesak dari sang mister, Robert pun langsung mendekati Diya dan memeriksa keadaannya.


"Bagaimana? Apa yang terjadi kepadanya?" tanya Dayan mendesak dengan ekspresi yang terlihat begitu khawatir. Pria kekar itu tak menyadari apa yang saat ini dirinya lakukan. Fokusnya hanya pada kekhawatiran akan kondisi wanita yang kini membuatnya candu akan tubuh yang menggoda.

__ADS_1


"Tak perlu khawatir, Mister. Nona ini baik-baik saja, hanya sedikit dehidrasi dan beban pikiran. Saya sudah memberikannya suntikan, beberapa saat lagi Nona akan sadarkan diri," terang Robert dengan sabar sekaligus heran dengan perempuan yang kini berada di kamar Misternya. Dan kalau gadis ini juga tahanan, kenapa tidak dipenjarakan seperti satu gadis yang ditahan di markas.


"Kau boleh pergi," usirnya dan Robert pun pamit pergi.


Setelah kepergian Robert, Dayan berdiri termenung di hadapan Diya yang masih tak sadarkan diri. Pria kekar dengan bola mata beda warna itu terlihat keheranan dengan dirinya sendiri, kala baru menyadari apa yang barusan dirinya lakukan. "Sial! Apa yang aku lakukan?"


.


.


.


Mr. Lewis (asli)



Preston

__ADS_1



__ADS_2