
DOR!
Salah satu pengawal menyerat suster tadi dan langsung menembaknya mati. Nesha dibuat kaget akan hal itu, benar-benar sangat mengerikan. Apakah setelah ini adalah gilirannya untuk dieksekusi?
Tiba di luar ruangan, Nesha kembali diseret. Nesha diseret menyusuri lorong-lorong yang sebelumnya pernah dia lewati. Lorong-lorong itu tampak sepi karena para pengawal lain sudah dikumpul dan dipindahkan ke ruangan lain. Nesha dipegang oleh seorang pengawal, sedangkan Lewis di depan sana berjalan beriringan dengan seorang pendeta.
Mereka berjalan hingga berhenti di depan sebuah pintu yang sebelumnya membuat Nesha sangat penasaran. Lewis berdiri di sampingnya, lalu pintu misterius itu pun terbuka otomatis. Pantas saja Nesha tak bisa membukanya, karena pintu misterius itu hanya bisa terbuka bila mendeteksi Lewis.
Nesha kembali diseret masuk ke dalam ruangan itu. Ketika mereka sudah masuk, pintu misterius itu kembali tertutup otomatis. Kemudian, mereka berjalan menuju ke satu sisi. Tepatnya di pojokan yang diapit dua dinding.
Nesha mengedarkan pandangan, menelisik setiap sudutnya. Namun, tak ada satu hal pun yang menarik. Ruangan luas itu tampak seperti Aula biasa. Tidak ada hal yang tampak istimewa. Semuanya terlihat biasa saja. Lalu, kenapa harus dijaga begitu ketat. Sampai-sampai pintu itu tak bisa dibuka oleh siapa pun kecuali Lewis sendiri.
__ADS_1
Pengawal itu membawa Nesha kembali berjalan, Lewis menempelkan tangannya di panel yang berkedip biru, kemudian pintu baja tersebut terbuka lebar. Nesha diseret memasuki ruangan itu. Di dalam ruangan yang dilapisi kaca anti peluru hanya terdapat satu meja dan satu kursi, ruangan tanpa lemari tanpa hiasan dan tanpa penerang berlebihan itu terlihat tak biasa.
Meski terkesan ruangan kosong, tapi keamanan di ruangan itu benar-benar tak biasa. Sepertinya ruangan penuh keamanan itu adalah ruangan rahasia milik Lewis.
Lewis kembali menekan satu tombol panel berkedip merah. Kemudian sebuah lorong panjang di hadapan mereka terbuka. Lewis mengajak pendeta untuk turun bersama. Sedangkan Nesha kembali dibawa paksa oleh seorang pengawal yang menjaganya.
Cukup jauh mereka menuruni satu persatu anak tangga, hingga tiba di ruangan luas yang lebih canggih dari ruangan sebelumnya. Ada banyak pengawal di bawah sana, mereka berjaga dan mengatur suatu sistem rahasia. Nesha memandang kagum, apa yang dilihatnya kini benar-benar mencengangkan.
"Mari, Nona," pendeta membawa Nesha berjalan perlahan, ruangan itu sangar besar dan luas. Namun, dindingnya terbuat dari beton yang kokoh. Tak ada jendela ataupun tempat masuk udara lainnya. Hanya saja, mereka masih bisa bernapas seperti biasa karena ada banyak alat pelepas udara yang terpasang di setiap sudut.
Ruangan itu tak ada bedanya dengan penjara yang sebelumnya Nesha tempati. Hanya saja, kamar di ruangan itu lebih luas dan lebih lengkap pastinya. Ranjangnya saja berukuran king size, jelas sangat berbeda dengan ranjang milik Nesha yang hanya seukuran tubuh.
__ADS_1
Tak cukup sampai di situ, meja-meja, sofa, lemari pakaian, dapur dan juga kamar mandinya lebih luas dan lebih lengkap. Singkatnya, ruangan itu persis seperti apartemen-apartemen mewah.
Nesha mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari sosok yang menepati ruangan tersebut. Tapi, Nesha tak berhasil menemukan siapa pun. Ke mana pergi seseorang yang tinggal dan menetap di penjara elit tersebut. Tak lama, muncullah seorang pria ber telan jang dada.
"Mr. Lewis."
.
.
.
__ADS_1