Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis

Terjeret Ranjang Balas Dendam Mr. Lewis
Bab 23 ~ Wanita Pembunuh


__ADS_3

"Oh ya, aku hampir lupa. Aku ingin memberikan berita duka kepadamu. Lihatlah layar di belakangmu," titah Dayan dan Diyan pun langsung membalikkan badan karena penasaran dengan berita duka yang Dayan maksud.


Dan betapa kagetnya Diyan kala melihat ada video yang menampakkan di mana Preston sang Adik tengah dibawa ke rumah sakit dengan lumuran darah yang mengalir deras dari sela-sela rambut dan juga keningnya.


Sedangkan Nesha menjatuhkan tubuhnya kasar dan terduduk di lantai, kala tak kuasa menahan lututnya yang tiba-tiba melemas. Apa lagi yang akan dilakukan Dayan kepadanya. Siksaan demi siksaan kembali membayangi pikirannya.


Video yang sebelumnya menunjukkan Preston terbaring di rumah sakit, dalam sekejap berubah menjadi pemakaman di mana juga dihadiri nenek Lore. Melihat itu, Diyan mengepalkan tangannya hingga memutih, wajahnya begitu merah seperti akan meledak, urat-urat lehernya mengencang, dengan penampilan seperti itu, Diyan terlihat tak berbeda dengan sang kakak.


"Kau! Beraninya kau membunuh Preston Adikku!" teriak Diyan sambil mendaratkan kepalan tangannya ke kaca anti peluru itu. Bukan kaca yang pecah, akan tetapi darah dari tangannya yang merubah warna kaca itu.


Sementara Dayan hanya tersenyum smirk, dia terlihat bahagia melihat bagaimana hancurnya sang adik. Hatinya benar-benar sudah sekeras batu. Bahkan, dia bisa membunuh tanpa menyentuh seseorang yang bahkan tak bersalah. Tak akan ada Dayan kembaran Diyan, karena yang ada hanyalah iblis bengis yang kejam dan tak berperasaan.


"Aku tidak akan memaafkanmu, meski kau kakakku! Aku akan membunuh Dayan!" nenek Lore tertawa puas mendengar ucapan Diyan. Ya, karena itulah yang dia inginkan.

__ADS_1


"Beraninya kau membunuh Preston, salah apa dia padamu!" pukulan demi pukulan terus Diyan daratkan dengan terus berganti tangan, darah dari tangannya muncrat ke mana-mana. Sementara Nesha sudah bisa menebak akan ke mana akhir kisah hidupnya.


"Kau jangan asal menuduh kakakmu tercinta ini. Kalau aku ingin membunuhnya, bukan begitu caraku. Apa kau lupa seberapa buayanya adikmu Preston. Preston sudah memperkosa seorang gadis SMA, dan gadis SMA itu adalah adik dari wanita yang bersimpuh di sampingmu. Dan wanita di sampingmu itulah yang sudah membunuh Preston, Adikmu." tegas Dayan dengan lantangnya.


Mendengar itu Nesha mengangkat wajahnya. Walau sudah menebak semuanya akan berakhir seperti itu, akan tetapi saja Nesha takut. Takut akan siksaan yang akan kembali di dapatnya dari orang yang berbeda, tapi wajah yang sama.


Nesha menatap Dayan dari sela-sela darah Diyan yang mengalir di kaca. Samar-samar Nesha melihat bibir Dayan yang membentuk suatu pola, pola itu seakan mengancam Nesha. Ya, tentu saja mengancam karena jelas bibir itu menyebut nama sang Adik, Diya. Dayan akan melukai bahkan membunuh Diya bila Nesha tidak mengakui apa yang sang adik lakukan kepada Preston.


Mendengar apa yang Dayan katakan, Diyan menghentikan pukulan sia-sianya pada kaca anti peluru yang melindungi sang kakak kembar. Diyan membalikkan badan, berjalan gontai mendekati Nesha yang sedari tadi hanya terisak hingga matanya membengkak..


Dengan tangan berlumuran darah, Diyan mengangkat wajah sembab yang jelas terlihat ketakutan, Diyan berkata, "Katakan padaku kalau apa yang dia (Dayan) katakan adalah salah."


Nesha tak menjawab, tapi hanya terisak dan terus terisak. Sungguh Nesha sangat membenci dirinya yang begitu cengeng. Tapi, manusia mana yang tidak sedih bila diberikan ujian seberat yang dirinya dapatkan. Tidakkah Tuhan tidak adil pada takdirnya, "Katakan!" Diyan yang geram tanpa sadar mencengkram dagu Nesha dengan erat, hingga mengalirkan darah segar dari sudut bibir pucat itu.

__ADS_1


"Benar. Apa yang dia katakan adalah benar. Aku sudah membunuhnya dengan kedua tanganku," ucap Nesha bersusah payah. Hancur, benar-benar hancur.


"Hukuman apa yang pantas untuk wanita pembunuh sepertimu!"


.


.


.


Diyan Lewis


__ADS_1


Nesha



__ADS_2