
Sebenarnya, Diya tak punya sedikit pun keberanian untuk membunuh seseorang. Diya berencana akan mengatakan tentang ancaman itu kepada Nesha, dan Diya juga berencana akan membawa kakaknya pergi yang jauh dan bersembunyi.
Namun, semua rencananya batal saat dirinya terjebak di dalam perpustakaan bersama dengan Preston yang rupanya memang berencana ingin memperkosanya.
Diya pun benar-benar melukai Preston. Sungguh Diya tak ingin melakukan itu dan akan melarikan diri saja. Tapi, ancaman keadaan sudah memaksanya menjadi seorang pembunuh.
Saat ini, Diya masih meringkuk di pojokan dinding. Gadis cantik itu mengalami trauma akan segala hal yang terjadi kepadanya. Dia tidak tahu siapa Lewis? Dia bahkan juga selalu menghindari Preston.
Lalu, kenapa mereka menjadikan dirinya sebagai sasaran? Apa kesalahan yang sudah dirinya lakukan? Kenapa dia yang tidak berdosa harus menerima hukuman seberat itu?
Berniat menyelamatkan sang kakak tercinta. Diya justru menjadi pembunuh dan tak hanya sang kakak yang berada di posisi berbahaya. Tapi, juga dengan dirinya. Kelelahan terus menangis, tanpa sadar Diya terlelap dengan posisi duduk.
Keesokan harinya, Diya dibangunkan oleh seorang pelayan pria. Pelayan itu memaksa Diya untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan yang lebih layak, karena Lewis akan pulang dari Italia. Diya pun terpaksa mengiyakan keinginan pelayan tersebut.
__ADS_1
Setelah Diya masuk ke dalam kamar mandi, barulah palayan itu keluar dan langsung mengunci pintu kamar. Setelah selesai membersihkan tubuhnya asal, Diya meraih handuk dan melilitkan handuk itu ke tubuhnya.
Saat keluar dari kamar mandi, Diya dikejutkan oleh kedatangan pria kekar yang dia ketahui adalah Lewis. Melihat wajah menyeramkan itu, Diya reflek menutup kembali pintu kamar mandi.
"Cepat buka pintunya! Jangan sampai aku yang mendobraknya!" desak Lewis mengancam sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi dengan keras.
Takut akan kemarahan Lewis, Diya pun terpaksa membuka pintu kamar mandi. Lewis tersenyum nyalang, ja kunnya turun naik kala melihat tubuh seksi Diya yang lagi-lagi mampu membangkitkan hasratnya.
Sedangkan Diya langsung menundukkan wajahnya kala tak nyaman melihat mata tajam berkabut nafsu di hadapannya.
"Mister jangan," dengan mata yang sudah berkaca-kaca, Diya menaham tangan Lewis yang akan menarik handuk yang bertengger di tubuh seksinya.
"Kau tahu apa hukuman bila berani menolakku?" tekan Lewis membuat Diya terdiam membatu. Diya tak ingin menyerahkan diri kepada Lewis, tapi Diya juga tidak ingin kakaknya terluka.
__ADS_1
"Mister!" teriak Diya kaget saat Lewis menarik tengkuk dan me lu mat bibirnya dengan paksa. Diya terus berontak, memukul Lewis dengan sekuat tenaga. Lewis dibuat sangat kesal karena baru pertama kali ada wanita yang berani menolaknya.
"Kau!" bentak Lewis.
"Sa-saya berjanji akan menyerahkan diri saya kepada Mister. Tapi sebelum itu, izinkan saya untuk memastikan bahwa Kakak saya baik-baik saja," terang Diya berharap Lewis mau melepas dan membawanya bertemu dengan sang kakak yang Lewis katakan baik-baik saja dan tidak dia lukai sedikit pun.
Diya tak percaya sedikit pun pada ucapan Lewis. Diya sangat yakin Lewis tetap melukai kakaknya. Jelas Lewis tahu kakaknya tidak terlibat apa pun. Namun, entah apa alasan yang membuat pria di hadapannya itu, begitu membenci sang kakak.
"Kau kira bisa tawar menawar denganku!" Lewis langsung menarik kasar handuk yang meliliti tubuh Diya.
"Aaakh ....
.
__ADS_1
.
.