
"Itu hanya akting, karena sebenarnya Preston masih—"
"Masih apa?" tanya Nesha penasaran karena pria kekar pemilik nama asli Lewis itu tak lagi melanjutkan ucapannya.
"Lain kali saja dibahas lagi. Lebih baik sekarang aku bantu kamu mengganti pakaian, setelah itu kamu istirahat agar memiliki sedikit tenaga," terang Lewis mengubah topik pembicaraan.
"Aku malu," Nesha mengeratkan genggaman di tali tipis yang menggantung di kedua pundak.
"Kalau malu, kamu tutup mata saja. Anggap aku ini adalah ibumu yang sedang menggantikan pakaianmu," sosok Lewis asli itu menemukan cara agar Nesha tak lagi merasa malu.
"Ibuku sudah meninggal. Tapi, kenapa tidak kamu saja yang tutup mata?" balas Nesha sekejab merasa sedih saat Lewis mengingatkannya akan sosok sang ibu tercinta.
"Maaf, aku tidak tahu. Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menggantikan pakaianmu kalau mataku ditutup. Bagaimana kalau aku malah salah menyentuh, bukankah lebih baik dilihat daripada disentuh," pikiran nakalnya semakin menggila. Menembak serta memukul akurat dengan mata tertutup dapat Lewis lakukan dengan mudah, apalagi membuka dan mengganti pakaian dengan mata tertutup, tentu saja itu sangat mudah bagi Lewis.
Tapi, tak baik menyia-nyiakan kesempatan dalam kesempitan. Kapan lagi dapat melihat pemandangan indah? Apalagi pemandangan itu sudah sah menjadi miliknya. Bukan hanya pemandangan, tapi semua yang ada di tubuh Nesha juga sudah menjadi miliknya.
__ADS_1
Namun, Lewis tak ingin egois. Pernikahan mereka bukan atas dasar cinta. Maka, Lewis berjanji tidak akan menyentuh Nesha sebelum mereka saling mencintai. Kalau melihat, tidak apa-apalah, ya. Anggap saja bonus di hari pernikahan. Terlalu lama mendekam di penjara rasa apartemen itu, membuat hasratnya tertahan lama. Walau hidupnya agak menyedihkan, tapi selalu Lewis jalani dengan santai agar dia tetap waras.
"Kalau begitu aku tidur dengan gaun ini saja," tolak Nesha sukses menghancurkan fantasi liar yang tadinya Lewis bayangkan.
"Aku tidak bisa tidur dengan aroma yang tidak sedap," tutur Lewis membuat Nesha langsung mencium aroma tubuhnya. Tidak ada aroma lain yang ia cium, selain aroma darah.
"Baiklah, tapi berjanjilah jangan melakukan apa pun padaku," ancam Nesha membuat Lewis mengangguk cepat. Nesha langsung memejamkan kedua mata, siap berfantasi seperti yang Lewis katakan sebelumnya. Nesha membayangkan saat dirinya masih kecil dan sang ibu tengah membantu mengganti pakaiannya.
Lewis menyeringai, lalu mulai menurunkan kedua tali tipis yang menggantung di kedua pundak Nesha. Setelah kedua tali itu terlepas, Lewis mulai menarik gaun itu dengan perlahan.
Niatnya ingin melihat pemandangan indah hancur sudah, saat malah disuguhkan pemandangan yang membuat hatinya teriris perih. Bagaimana tidak perih, saat melihat ada banyak luka lebam di sekujur tubuh Nesha. Bahkan, luka-luka itu juga ada di kedua bongkahan dua gundukan kenyal, padat dan sintal yang Lewis perkirakan berukuran lebih dari 36 d. Baju yang longgar menutupi ukuran sempurna itu.
"Aku tidak bisa tidur bila tidak mengenakan pakaian," jelas Nesha berbohong, karena lebih tepatnya dia merasa aman bila tidur tanpa pakaian, Nesha takut kalau Lewis diam-diam menaiki tubuhnya, sangat mengerikan.
"Kalau begitu aku tidak akan lama, aku akan melakukannya dengan cepat," Lewis terus melanjutkan aksinya. Sesuatu yang menegang di bawah sana dirinya abaikan. Dia harus kuat menahan hasratnya, karena kesehatan Nesha jelas lebih penting daripada nafsunya sendiri. Lewis tak ingin egois.
__ADS_1
Nesha memilih pasrah ketika Lewis melepaskan bra nya, lalu mengoleskan obat di sana. "Bagaimana bisa luka-luka ini ada di bagian dalam tubuhmu," kamu tidak di—" Lewis tak melanjutkan interogasinya.
Nesha hanya diam tak merespon, dia tahu apa yang Lewis pikirkan, tapi dia tak ingin merespon karena tak dapat mengingat sebanyak apa Lewis palsu menyakitinya.
Sementara itu, Lewis mengepalkan tangannya murka. Simpatinya pada Nesha terus dirasa, ketika dua bongkahan indah itu juga lebam. Sayang sekali, padahal gundukan itu sangatlah indah. Apalagi dihiasi chocohip berwarna merah muda, sepertinya akan sangat nikmat bila diemut. Lewis merutuki pikiran nakal dan senjata yang menegang di bawah sana. Bagaimana bisa senjata itu tidak ikut bersedih seperti hatinya. Sangat payah, melihat gundukan yang berdiri menantang saja dia sudah nyeri tak tertahan. Lewis berusaha menahannya.
Usai mengoleskan salep dan obat merah di bagian atas, kini Lewis pindah ke bagian bawah. Tak lupa bagain atas yang polos dia tutupi dengan selimut miliknya. Lewis mendengus kesal, karena hasratnya benar-benar memuncak saat pandangan nakalnya melihat bagaimana indahnya bagian inti yang diapit kedua paha itu. Lewis memukul kepala, agar pikiran mesumnya sedikit berkurang.
Lewis memeras handuk dengan air, kemudian mulai mengelap bagain bawah tubuh Nesha. Lewis mengelap secara perlahan dari ujung kaki, betis, paha, dan ketika Nesha membalikkan badan, bagian bamper belakang yang juga berukuran tak biasa, membuat Lewis kesulitan menelan saliva yang tertahan di tenggorokan.
Lewis menggelengkan kepala, kembali fokus mengelap dan mengoleskan obat. Syukur di bagain bawah tubuh Nesha tak banyak luka lebam seperti di bagain atas. Kini, waktunya yang terakhir, bagian yang paling menantang bagi Lewis, yaitu melepaskan segitiga berwarna merah muda yang menempel di bawah sana. Lewis menarik napas dalam, kemudian menghembuskan perlahan. Setelah itu mulai menarik cd itu secara perlahan.
"Ya Tuhan ....
.
__ADS_1
.
.