
Meskipun hatinya tak bisa dialihkan dan terus mengkhawatirkan keadaan Diya. Namun, Dayan yang kebingungan memilih pergi dari kamarnya karena tak ingin melihat Diya dan membuat hatinya semakin tak karuan. Pria dengan bola mata merah dan biru itu tak ingin menyadari apa yang perasaannya rasakan.
Setelah kepergian Dayan, tepat saat itu Diya telah sadarkan diri. "Kenapa aku masih hidup, Tuhan?" sesalnya dengan air mata yang mengalir deras. Karena tak melihat siapa pun di kamar itu, Diya pun segera bangkit dan turun dari ranjang dengan perlahan.
Langkah gontai membawanya hingga kini berdiri tepat di pintu depan pintu kamar. Diya memutar ganggang pintu kamar dan senyuman tipis terbit di bibir pucatnya kala menyadari kalau pintu kamar tidak dikunci.
Diya menarik ganggang pintu kamar dengan sangat berhati-hati, bibirnya komat-kamit berharap tak ada siapa pun yang berjaga di luar sana. Wajah pucat itu seketika sedikit bersinar saat melihat benar-benar tak ada siapa pun. Harapan untuk bisa kabur langsung menggebu-gebu.
Diya mulai berjalan dengan telapak kaki, berjinjit agar derap langkah kaki tak terdengar oleh siapa pun. Saat akan menuruni anak tangga, Diya dikejutkan dengan beberapa orang pengawal yang menaiki anak tangga. Diya yang menyadari keberadaan mereka langsung naik kembali ke atas dan segera bersembunyi di balik pas bunga besar yang ada di sana.
"Huuff ... Hampir saja ketahuan, aku harus secepatnya pergi dari neraka ini. Tapi, sebelum itu aku harus menemukan Kak Nesha dulu. Astaga, kepalaku pusing sekali," gumam Diya kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan menuruni anak tangga sambil merasai keningnya yang terasa berdenyut.
__ADS_1
Diya sangat bahagia saat berhasil turun dari lantai atas. Kini, dirinya sudah berada di lantai dasar. Akan tetapi, Diya tak bisa keluar karena jelas pintu utama dijaga ketat. Di setiap jendela pun sama, selalu ada pengawal yang berjaga. Nesha memutuskan untuk keluar lewat pintu belakang.
"Tuhan, tolong lindungi aku, aku mohon," Diya berhasil melewati pintu belakang. Namun, sayangnya Diya terjebak di dalam rerumputan rindang karena tiba-tiba saja muncul dua orang pengawal yang tak beranjak dari tempat itu.
Diya mulai tak tahan, kepalanya terasa begitu sakit, tapi sekuat tenaga berusaha dirinya tahan. Diya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kini ada di depan mata. Ia harus menemukan sang kakak secepat mungkin dan segera pergi meninggalkan neraka itu.
"Entahlah, kudengar tahanan itu dibawa ke ruang bawah tanah. Kemungkinan dia tidak akan selamat, sayang sekali Mister tidak meminta kita merasakannya lebih dulu. Walau tidak secantik tahanan yang Mister simpan di kamarnya. Tapi, tahanan itu juga cukup manis," cerita seorang pengawal dengan serius.
Diya menyimak dengan baik apa yang pengawal tadi ucapkan. Diya benar-benar tak percaya apa yang mereka katakan, Diya sangat yakin kalau kakaknya Nesha baik-baik saja.
"Ruang bawah tanah, di mana itu? Ya Tuhan, aku mohon lindungi kak Nesha," Diya berdoa dengan tulus.
__ADS_1
Saat merasa halaman belakang kembali sepi. Diya melanjutkan lagi perjalanannya. Diya berusaha memanjat pagar beton di belakang, namun ia tak bisa melakukan itu. Diya pun istirahat sejenak di sana.
Tiba-tiba saja pandangannya fokus pada markas besar yang berada cukup jauh dari tempatnya kini. Penasaran dengan markas menyeramkan itu, Diya pun kembali bangkit dan menuju ke sana. Sayangnya di pintu masuk ada begitu banyak pengawal yang berjaga. Entah kenapa Diya sangat yakin kalau sang kakak dipenjarakan di markas itu.
"DIYA!"
.
.
.
__ADS_1