
"Dia adalah Istriku," jawab Lewis lantang dengan suara baritonenya.
"Apa!" tanya Daddy Usan membulatkan mata sempurna saking kagetnya. Orang tua mana yang tidak kaget saat melihat sang putra pulang tiba-tiba dengan membawa seorang wanita yang dia akui sebagai seorang istri.
Mommy Asha reflek menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Lalu mendekati sang putra sambil bertanya, "Apa Nenek Lore memaksamu untuk menikah, Usan?"
"Tidak, Mommy, bukan begitu," jawab Lewis menatap sang mommy lembut.
"Lalu karena apa, Sayang? Apa jangan-jangan karena ...." Mommy Asha langsung bepindah tempat, dalam sekejab mata, wanita yang masih cantik dan seksi diusia yang sudah tak lagi muda itu langsung menjatuhkan tubuh dan duduk tepat di samping Nesha.
Daddy Usan dan Lewis dibuat heran akan apa yang saat ini Mommy Asha lakukan. "Siapa namamu, Sayang?" tanya Mommy Asha tersenyum manis, sambil merangkul pundak Nesha dengan lembut.
"Nesha, Nyonya," jawab Nesha dengan suara yang masih terdengar lemah.
"Nesha, Dasha, nama kita hampir mirip, Sayang. Sepertinya kamu memang sudah ditakdirkan menjadi menantu Mommy. Jadi, apa kamu hamil?" tanya Mommy Asha tak sabaran untuk segera mendengarkan jawaban Nesha. (Nesha~Dasha. Diya~Diyan. Tolong kalian pura-pura nggk ngeh aja ya guys🥲🥺).
Memandang Nesha seakan membuatnya bercermin. Karena dirinya dan Nesha tak memiliki banyak perbedaan. Sama-sama cantik dan sama-sama memiliki lekuk tubuh indah. Perbedaan antaranya dan Nesha sangat sedikit, jika ia berwajah cantik perpaduan Arab dan Indonesia, Nesha justru berwajah cantik khas bule, sama seperti suami dan putranya, Lewis. Hanya menatap sekilas netra indah itu, Mommy Asha sudah tahu kalau Nesha adalah gadis yang baik.
Sementara Nesha dibuat terbelalak dengan pertanyaan yang Mommy Asha layangkan untuknya. Hamil, hamil angin, mungkin? Bagaimana bisa dirinya hamil, sedangkan dia dan Lewis tak melakukan apa pun.
"Mommy, apa yang mommy lakukan?" geram Lewis.
Mommy Asha tak merespon, dia tetap fokus menatap lembut Nesha, mendapatkan tatapan seorang ibu, Nesha terenyuh, gadis berparas cantik itu langsung menggelengkan kepalanya lemah.
__ADS_1
"Kalau tidak hamil, kenapa kamu mau menikah dengan Lewis? Dia itu laki-laki —"
"Mommy!" potong Lewis langsung mendekat dan lagi-lagi menggendong Nesha, sedangkan Nesha benar-benar pasrah karena sudah terlalu lelah.
"Hei, mau kau bawa ke mana menantu Mommy? Mommy belum selesai bertanya dengannya!" teriak Mommy Asha akan melangkah untuk menyusul sang putra yang telah pergi menaiki lift menuju kamarnya di lantai atas.
"Sudah, Sayang. Biarkan mereka istirahat," cegat Daddy Usan.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi ke dapur."
"Kenapa ke dapur?" tanya Daddy Usan heran.
"Apalagi? Tentu saja membuat ramuan obat kuat. Karena Lewis sudah menikah, maka dalam tahun ini kita harus punya cucu," terang Mommy Asha langsung bergegas menuju dapur untuk membuatkan ramuan tradisional untuk sang putra kesayangan, sementara Daddy Usan menepuk kening karena tak habis pikir.
***
"Bagaimana perasaanmu? Apa sudah lebih baik?" tanya Lewis perhatian.
"Hu'um, sekarang sudah lebih baik," jawab Nesha tersenyum manis.
"Baguslah, sekarang istirahatlah. Setelah pagi aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu," jelas Lewis dan Nesha pun mengangguk lalu memejamkan matanya perlahan.
Tok, tok, tok ....
__ADS_1
"Lewis buka pintunya, Sayang." panggil Mommy Asha di luar sana. Lewis menghela napas kasar. Tak ingin suara ketukan itu membangunkan Nesha, Lewis pun segera membukanya.
"Ada apa, Mommy?"
"Mommy bawakan minuman sehat untukmu, cepat minum sebelum dingin" desak Mommy Asha memaksa Lewis untuk langsung meneguknya. Tak punya pilihan lain, Lewis langsung meneguknya habis, karena sang mommy memang selalu memberikannya obat setiap pulang ke rumah. Namun, ia tak tahu kalau ramuan kali ini berbeda dengan ramuan sebelumnya. Setelan ramuan itu habis, Lewis memberikan gelas sisanya kepada sang Mommy tercinta.
"Berikan steak itu padanya," pelayan pun langsung mengulurkan nampan berisi steak dan minuman biasa kepada Lewis, Lewis menerimanya cepat dan langsung menutup kembali pintu kamar.
"Dasar anak durhaka!" umpat Mommy Asha kesal.
"Makasih, Mom." sahut Lewis dengan senyuman jahilnya.
Lewis meletakkan nampan ke atas nakas. Semula Lewis ingin membangunkan Nesha untuk makan malam. Namun, niat itu ia urungkan karena tak tega saat melihat Nesha yang tidur begitu nyenyak. Wajah teduh dan mempesona itu mengukir senyum di bibir tipisnya.
"Aku senang karena kamu benar-benar menjadi istriku, kamu pasti sudah melupakanku, bukan?" gumam Lewis dengan senyuman bahagia. Tapi, sesuatu yang terasa berdesir mengubah senyumnya menjadi ringisan.
"Sial! Ramuan tadi! Mommy!"
.
.
.
__ADS_1