Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Bersikap Dingin


__ADS_3

Meysa bertanya pada Yosep, tentang maksud kedatangan dirinya. Ia hanya menyunggingkankan senyumnya pada, Meysa.


"Memangnya jika aku sekedar main kemari tidak boleh ya? hingga bertanya apa tujuan aku datang kemari?" ucap Yosep.


"Nggak juga sih, aku kan hanya ingin tahu saja siapa tahu ada suatu kepentingan denganku,' ucap Meysa.


Yosep pun mengurungkan niatnya untuk mengatakan hal yang bersifat pribadi dengan, Meysa. Karena ia mulai menyadari ada gelagat aneh pada sorot mata, Meysa.


Yosep sengaja tak berlama-lama di kantor baru Meysa. Ia pun segera berpamitan pulang, dengan alasan ada hal yang harus di kerjakan tetapi ia melupakannya.


"Meysa, aku melupakan sesuatu. Jika aku ada janji dengan klien, maaf ya aku harus segera kembali ke kantor," pamit Yosep.


"Ok, kamu hati-hati ya di jalan."


Yosep hanya menyunggingkankan senyumnya pada saat mendengar perkataan singkat dari Meysa. Ia pun berlalu pergi dari ruang kerja, Meysa.


Selepas kepergian Yosep, Meysa pun melanjutkan lagi pekerjaannya.


Berbeda dengan, Yosep yang saat ini terus saja mengeluh tentang sikap dingin Meysa kepadanya. Kadang kala ia ingin mundur saja dalam usahanya untuk meluluhkan hati Meysa. Tetapi rasa cintanya melebihi rasa lelahnya untuk menghentikan aksinya meluluhkan hati, Meysa.


"Ingin aku mundur saja dan berhenti untuk mendekati Meysa. Tetapi aku kok nggak bisa ya? padahal selama ini sikapnya padaku dingin dan biasa saja. Tetapi aku kok malah ingin selalu ada di dekatnya ya? walaupun kerap kali mulutku selalu berkeluh kesah tentang sikapnya padaku, tetapi tingkah lakuku bertolak belakang dengan apa yang seringkali aku keluhkan."


Yosep kadang merasa heran sendiri dengan dirinya yang selalu saja bertolak belakang, perkataan dengan tindakan. Ia menyadari apa yang ia lakukan karena begitu besarnya rasa cintanya pada, Meysa. Dari mereka dulu sama-sama duduk di bangku kuliah. Hanya saja Meysa memang tidak pernah ada rasa suka padanya. Meysa hanya menganggap dirinya sebatas sahabat saja.

__ADS_1


*********


Waktu terus saja melaju bak putaran suatu roda. Hingga tak terasa sudah umur tujuh bulanan kehamilan istri Yudha. Ia pun saat ini sedang mengadakan acara tujuh bulanan di rumah mewah Bu Ida.


Dia bahkan sama sekali tidak peduli dengan tatapan tak suka Bu Ida padanya. Dan pada saat acara tujuh bulanan itu, Yudha juga hadir. Ia terpaksa libur ngantor.


Setelah cukup lama acara tujuh bulanan tersebut, akhirnya selesai juga. Wanita itu bergelayut manja di lengan Yudha. Ia sengaja melakukan hal itu karena ada Bu Ida.


"Ih kurang ajar banget nech wanita buncit! padahal aku sudah sering berusaha membuatnya celaka dan supaya ia keguguran. Herannya selalu saja aku gagal. Entah bagaimana ia seperti tahu saja apa yang akan aku lakukan padanya," gerutu Bu Ida di dalam hatinya.


Sementara saat ini di dalam hati Yudha penuh sekali pertanyaan. Ia pun tersenyum senang, karena ia punya rencana baru untuk istrinya itu.


"Hem, aku kan punya obat yang bisa membuat seseorang melayang di atas awan seperti orang yang hilang kesadaran atau mabuk," batin Yudha.


Mendengar penuturan Yudha, wanita hamil ini langsung melayang hatinya. Ia berpikir Yudha benar-benar perhatian pada kehamilan dirinya.


"So sweet, kamu dengar dan lihat kan Ibu Ida yang sudah keriput? jika suamiku ini begitu perhatiannya pada kehamilanku ini," ejeknya.


"Baiklah, cintaku. Aku akan menunggu dirimu di kamar ya?"


Saat itu juga istri Yudha melangkah menuju ke kamarnya. Ia ingin sejenak merebahkan dirinya di pembaringan. Karena acara syukuran tujuh bulan benar-benar telah menguras tenaganya. Sejak kehamilannya semakin besar, ia semakin mudah lelah dan cape.


Sementara saat ini Yudha sedang ada di dapur, ia celingukan mengamati keadaan di sekitarnya. Dan ia meraih sesuatu di sebuah almari yang ada di dapur. Ia meraih satu bungkusan kertas kecil, dan membukanya. Dan menuangkan bubuk itu ke dalam susu yang akan di sajikan pada istrinya.

__ADS_1


"Dengan bubuk ini pasti nanti ia tak sadar dan akan mengatakan kejujuran dimana ia meletakkan semua video syur itu," batin Yudha.


Dia pun lantas membawa minuman itu ke kamar dan memberikannya pada istrinya. Ia sama sekali tidak peduli, apakah minuman itu berbahaya atau tidak untuk wanita yang sedang hamil besar. Yang ada di otaknya hanya satu yakni mendapatkan semua video syur dirinya yang di simpan begitu rapat oleh istrinya.


"Sayang, ini susunya di minum supaya calon anak kita selalu sehat dan kuat di dalam kandunganmu."


Tanpa ada rasa curiga sama sekali, istrinya meminum susu buatan dari Yudha. Bahkan ia meminumnya hingga habis tak bersisa, membuat Yudha sangat senang.


"Pinter, istri tercintaku."


Beberapa detik kemudian, istrinya merasakan kepalanya begitu pening. Dan Yudha segera melancarkan aksinya. Ia bertanya banyak hal mengenai video-video penting tersebut. Istrinya memberitahu dimana ia meletakkan semua bukti itu pada, Yudha. Setelah memberi tahu pada Yudha, tiba-tiba ia pun memejamkan matanya dan tertidur nyenyak.


Yudha tak melewatkan kesempatan baik ini. Ia segera beraksi kembali dengan mencari semua bukti itu. Da Yudha menyunggingkankan senyumnya pada saat menemukan semua bukti video itu di tempat dimana istrinya menyembunyikannya.


"Hem, akhirnya aku terselamatkan juga. Jika semua bukti ini sudah ada di tanganku, aku bisa dengan mudah menalaknya setelah ia melahirkan kelak. Aku harus menunggu dua bulan lagi, Hem bersabar untuk dua bulan lagi. Setelah itu aku akan terbebas dari wanita parasit itu. Yang hanya bisanya minta uang terus," batin Yudha.


Dia pun segera menyembunyikan semua bukti yang telah ia temukan itu. Supaya tidak ketahuan oleh istrinya. Dan kini ia pun turut membaringkan dirinya di ranjang dimana saat ini istrinya sedang tertidur nyenyak.


Hingga tak terasa sudah menjelang malam, istri Yudha terbangun karena ia merasakan lapar yang teramat sangat. Ia pun memutuskan untuk segera ke ruang makan. Niat hati ingin makan malam yang tertunda karena ia tak sadar tidur begitu lamanya.


"Aneh, setelah minum susu kok aku jadi tidur lama sekali hingga tak ingat waktu. Masa iya aku begitu nyenyak tidurnya. Padahal biasanya aku tidur itu tidak pernah bertahan lama," batinnya


Dia pun melahap makanannya begitu antusiasnya karena rasa lapar yang sudah tak tertahan lagi. Tanpa ia tahu seseorang sedang mengamati dirinya di balik tembok ruang makan.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak, dan aku ingin tahu apakah efek dari obat yang aku tuang ke makanan itu," batinnya terkekeh.


__ADS_2