Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Terus Saja Mengumpat


__ADS_3

Yosep menghampiri, Yudha," ohhh...jadi kamu yang terkena musibah di proyek ini? seharusnya kamu itu berpikir dan merenung, jika apa yang menimpa di dalam kehidupanmu itu adalah suatu teguran dari Allah."


Yudha sangat kesal," diam kamu! nggak usah sok ceramah padaku, kaya kamunya sendiri sudah benar hidupnya!"


Setelah mendengar jawaban seperti itu, Yosep hanya bisa menarik napas panjang. Ia pun berlalu pergi dari hadapan Yudha, dan beralih menghampiri arsiteknya kembali. Membicarakan tentang desain perumahan yang sedang di bangun.


Yosep sengaja membuat sebuah aset perumahan, untuk aset di masa tuanya jika ia sudah tidak bisa bekerja sama sekali. Salah satu perumahan elite sedang di bangun di sebuah tanah lahan yang luas milik peninggalan mendiang orang tuanya.


Bahkan hal ini sama sekali tidak di ketahui oleh, Meysa. Ia sengaja menyembunyikan hal ini, karena untuk suatu kejutan nantinya jika sudah terbentuk menjadi sebuah perumahan.


Yosep sama sekali tidak memikirkan apa yang barusan di katakan oleh Yudha. Dan ia juga tidak memikirkan pertemuannya tersebut dengan, Yudha. Baginya tidaklah penting.


Berbeda dengan Yudha yang selalu saja menggerutu, mengumpat sejak bertemu dengan, Yudha. Ia begitu kesal, dan menurutnya dunia itu sempit. Hingga dimana saja bertemu dengan Yudha.


"Hidup kok sial terus ya? sejak aku sering bertemu lagi dengan Meysa dan suaminya. Membuat hidupku semakin terpuruk, sedangkan hidup mereka malah semakin maju saja."


"Perusahaan milik Bu Ida sudah di miliki olehnya, kini ia membangun perumahan elite. Padahal ia juga seorang pengacara yang terkenal dan banyak juga yang memakai jasa dirinya! aku malah seperti ini, sudah tidak punya apa-apa lagi untuk aku banggakan!"


Terus saja Yudha mengumpat, menggerutu sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Kini ia sudah tidak punya pekerjaan lagi. Baru bekerja sebagai kuli bangunan malah kena sial dan kini satu kakinya tak bisa di gunakan sama sekali yakni mati rasa. Hingga ia pun jalan hanya dengan satu kaki, sementara satu kakinya terseok-seok, di seret.


Kehidupan miris dan miskin sudah merambah pasar dirinya. Sunyi sepi pun kini ia rasakan. Rumah berantakan sekali tak karuan, padahal hanya sebuah rumah kontrakan.


Sejenak Yudha merebahkan dirinya, seraya menatap langit-langit kamar. Ia berpikir untuk hari esoknya, akan seperti apa dan akan bagaimana.


*******


Pagi menjelang, Yudha mulai mencari pekerjaan lagi. Tetapi sama sekali tidak ada yang mau menerima dirinya yang cacat satu kakinya. Walaupun hanya sebagai pelayan toko saja, tidak ada yang mau menerima dirinya.

__ADS_1


"Heran, padahal hanya satu kakiku saja yang tak berfungsi. Dan satunya lagi bisa aku gunakan, tetapi tidak ada satupun yang mau menerimaku bekerja."


"Sombong sekali mereka semua, baru juga punya toko sembako, toko kelontong, tetapi lagaknya sok kaya hingga menolakku."


"Mereka belum tahu siapa aku, biar begini dulu banyak yang memujaku. Dan aku ini mantan direktur!"


Walaupun sudah tak berdaya, Yudha masih saja bisa menyombongkan dirinya. Padahal ia sudah tak punya apa-apa lagi. Ia terus saja mencari pekerjaan, melakukan motornya menelusuri setiap jalanan. Hingga ia melihat ada sebuah restoran besar dimana ada sebuah brosur terpasang di dinding.


"Nah, ini ada lowongan pekerjaan di restoran. Pasti lowongan kasir atau bagian asisten pribadi."


Dengan percaya dirinya, Yudha melangkah masuk ke dalam restoran tersebut dan menemui salah satu staf yang sedang bertugas.


Yudha di bawa untuk menemui manager restoran tersebut, tetapi ia begitu terkejut. Karena manager restoran mewah tersebut adalah mantan istrinya yang dari kampung.


"Dewi?"


Keduanya sama-sama terkejut, Yudha heran bagaimana bisa mantan istrinya sekarang telah menjabat sebagai manager di sebuah restoran mewah.


Dewi juga heran, bagaimana bisa Yudha yang dulu selalu berpenampilan menarik kini lusuh dan jalan terpincang-pincang.


Tanpa ada rasa sungkan, dan dengan sumringahnya bertemu mantan istri. Belum juga Yudha di persilahkan duduk, ia sudah duduk di hadapan Dewi.


"Sayang, aku senang sekali bertemu dengan dirimu."


Yudha sok akrab, ia akan meraih tangan Dewi. Untung saja Dewi lekas menyingkirkan kedua tangannya.


"Mas, jangan kurang ajar ya! kamu ini cuma mantan jadi jangan bersikap seperti tadi. Oh ya, kamu datang kemari bukannya untuk melamar pekerjaan ya? tapi apa kamu sudah tahu, pekerjaan apa yang sedang di butuhkan di restoran ini?" tanya Dewo menyelidik.

__ADS_1


"Dewi, aku tahu kita ini sudah mantan. Tapi kan bukan aku yang ingin berpisah pada waktu itu, tetapi kamu yang pergi begitu saja. Aku bahagia bisa bertemu denganmu lagi, dan bagaimana bisa kamu menjadi hebat seperti ini?"


Yudha di tanya bukannya menjawab malah balik bertanya, hingga membuat Dewi menjadi kesal.


"Mas, aku bertanya malah bukannya kamu jawab. Tetapi kamu ngomong sendiri. Jika tak berniat bekerja di sini ya sudah, pergi saja. Karena aku sedang banyak kerjaan," ucap Dewi ketus.


Di dalam hati Yudha kesal atas perlakuan Dewi padanya," belagu banget nih cewek kampung! baru juga menjadi manager, tetapi sombong sekali! padahal dulu dia juga pernah menjadi istri! tapi nggak apa-apa, aku harus pura-pura baik supaya Dewi simpatik lagi padaku."


Yudha terlalu berharap banyak pada, Dewi. Ia berpikir bisa kembali merajut kasih dengannya. Hingga dia mengesampingkan rasa kesalnya pada, Dewi.


"Maafkan aku ya, Dewi. Aku memang belum tahu di sini yang sedang di butuhkan bagian apa. Tetapi setelah aku tahu, kamu manager di restoran ini. Apapun pekerjaannya akan aku terima," ucap Yudha terus saja menatap ke arah Dewi.


Penampilan Dewi yang kini dan yang dulu memang sangat berbeda. Hingga Yudha terus saja menatap tak berkedip ke arah Dewi, membuat Dewi merasa risih.


"Harta memang segalanya, wanita kampung yang dulu penampilan apa adanya saja kini terlihat glamour dan begitu berbeda. Lebih bersih, putih, mulus, ya ampun Dewi. Menatap wajahmu saja membuat adikku langsung berkedut-kedut ingin keluar dari sangkarnya," batin Yudha seraya tak sadar senyam senyum sendiri.


Dewi lama-lama tak bisa menahan rasa kesalnya, hingga ia menegur Yudha."


"Mas Yudha! kamu serius ingin bekerja di restoran ini?" tanya Dewi ketus.


"Iya, sayang. Aku sangat serius sekali," jawab Yudha seraya terus menatap ke arah Dewi.


"Baiklah kalau begitu. Di sini memang sedang butuh lowongan pekerjaan tetapi di bagian dapur tepatnya bagian cuci piring dan perabot," ucap Dewi.


"Apa? yang benar saja, Dewi! masa kamu tega memberikan pekerjaan pada mantan suamimu ini sebagai pencuci piring? nggak ada pekerjaan yang lebih baik lagi?" tawar Yudha.


Tetapi Dewi hanya menggelengkan kepalanya dengan pasti.

__ADS_1


__ADS_2