
Satu tahun kemudian, anak yang sudah di adopsi telah berumur satu tahun. Dan anak lelaki ini di beri nama, Aldo. Sedangkan dari hasil buah pernikahan Meysa dengan Yosep juga telah lahir seorang anak laki-laki juga yang di beri nama, Nando.
"Alhamdulillah, anak kita laki-laki. Terima kasih ya sayang. Aku sangat senang sekali karena bisa memiliki seorang anak laki-laki dari pernikahan kita berdua."
Tiada hentinya, Yosep menciumi bayinya yang masih merah tersebut setelah ia adzani sendiri. Sejak dahulu memang Yosep sangat mendambakan seorang anak laki-laki. Dari pada saat dirinya baru menikah dengan, Meysa.
"Sama-sama, mas. Berarti jika lahirnya perempuan, kamu tidak akan senang ya?"
Mendengar pertanyaan dari Meysa membuat Yosep terkekeh. Karena ia sama sekali tidak pernah berpikiran seperti itu. Baik yang lahir itu perempuan, ia akan selalu sayang pada anaknya. Walaupun di dalam hatinya menginginkan anak laki-laki.
Meysa sangat bersyukur pula karena di dalam hidupnya kini telah hadir dua anak lelaki. Yang satu berumur satu tahun dan satunya lagi baru lahir. Hidupnya sudah lengkap dengan begitu banyak kebahagiaan.
Memiliki suami yang setia dan tanggung jawab. Tidak pernah bersikap kasar pada dirinya. Dan selalu perhatian padanya. Bahkan di dalam hati, kerap kali menyayangkan sikapnya yang telah berlama-lama tidak menerima cinta Yosep.
"Maafkan aku ya mas terlalu lama membuat dirimu menungguku hingga aku berkata iya dan bersedia menikah dengan dirimu. Kini aku baru sadar setelah menikah dengan dirimu, jika kamu memang berbeda dengan Yudha."
"Kadang kala aku juga berpikir, kenapa dulu aku tak memilih dirimu saja. Pasti jika dulu aku menikah denganmu, tidak akan ada yang namanya perceraian dan penghianatan. Tetapi aku malah memilih Yudha."
"Hem, kehidupan manusia memang sudah di atur. Tetapi kebahagiaan manusia tergantung dari kita sendiri. Akan memilih jalan yang mana."
__ADS_1
"Karena manusia tidak di hadapkan dengan satu pilihan tetapi kerap kali di berikan beberapa pilihan hidup. Yang kadang kala membuat kita salah dalam memilih."
Terus saja Meysa bergumam sendiri di dalam hatinya. Ia juga tiba-tiba teringat ibunya. Karena sudah satu tahun berlalu tetapi ia belum juga bertemu atau mendengar kabar tentang ibunya.
Karena sejak menikah dengan Yosep, Meysa memutuskan untuk pindah rumah, ke rumah mewah Yosep. Sedangkan rumahnya di jual ke orang.
Kebetulan rumah Yosep tidak jauh dari kantor expetasi miliknya dan juga kantor pengacara dimana Yosep bekerja hingga memudahkan segalanya.
Sikap diamnya Meysa membuat Yosep heran.
"Sayang, ada apa dengan dirimu? mendadak kamu diam? apa ada yang sakit, biar aku panggil dokter supaya kemari ya?" tegur Yosep seraya menepuk lengan Meysa yang membuat dirinya terhenyak kaget.
Kehidupan berbanding terbalik dengan apa yang sedang di rasakan Ibu Idasaat ini. Ia masih saja di jadikan sebagai asisten rumah tangga oleh Yudha.
Ia bahkan tidak di izinkan untuk sejenak keluar rumah. Padahal dirinya ingin sekali bertemu dengan, Meysa. Ia ingin meminta maaf atas kesalahannya.
"Yudha, kenapa aku tidak boleh keluar rumah barang sejenak? aku juga bosan tinggal di dalam rumah terus. Ingin sesekali keluar rumah mencari hiburan dengan semua teman-temanku," ucap Ibu Ida kesal.
"Baiklah, jika ibu ingin keluar rumah. Akan aku turuti sekarang juga, tapi kemasi dulu semua pakaian Ibu!" bentak Yudha.
__ADS_1
"Loh, apa maksudnya? kamu ingin mengusirku dari rumahku sendiri? sampai kapanpun aku tidak akan mau pergi dari rumah ini!" tolak Bu Ida.
"Makanya nggak usah banyak keinginan! masih untung aku tampung kamu di rumah ini dan tak aku usir! jika kamu ingin pergi ke luar rumah, ya sudah sana keluar tapi jangan pernah balikagi ke rumah ini! hidup kok nggak bersyukur sekali! apa mau aku buat kamu menjsdo gelandangan di luar sana, hah?"
Mendengar umpatan dan cacian dari Yudha, membuat Bu Ida diam. Ia hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Tak bisa lagi berkata, karena ia tak ingin dirinya benar-benar di usir.
Walaupun di dalam hatinya kangen dan rindu pada anak semata wayangnya. Penyesalan demi penyesalan yang saat ini sedang di rasakan oleh Ibu Ida.
Namun tidak dengan Yudha, sejak ia bercerai dari sekretarisnya. Ia juga tidak menikah lagi karena merasa lelah dengan pernikahan yang kawin cerai.
Namun bukan berarti ia lantas tobat dengan tidak bermain dengan wanita. Ia justru lebih parah dari sebelumnya. Karena setiap harinya ia membawa pulang ke rumah wanita yang berbeda-beda.
Ini yang membuat Bu Ida semakin tidak kerasan tinggal di dalam rumah. Tetapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika ia memaksa pergi, yang ada memang ia bisa benar-benar menjadi gembel.
Bu Ida sama sekali tidak punya uang. Ia bisa makan saja sudah untung.
"Cepat kamu sajikan makanan yang telah aku pesan on line barusan. Karena aku dan pacarku lapar ingin makan. Dan nggak usah berpikiran aneh-aneh ingin keluar rumah senang-senang dengan semua teman-temanmu itu. Kamu sudah tua, tinggal menunggu azal saja banyak tingkahnya!" bentak Yudha seraya melotot pada Bu Ida dengan kedua tangan berkacak pinggang.
"Astagfirullah aladzim, omongannya benar-benar sangat menyakitkan hati," batin Bu Ida.
__ADS_1
Dia pun melangkah pergi dari hadapan Yudha menuju ke ruang makan untuk menata semua makanan enak yang telah Yudha pesan barusan.