
Yudha benar-benar sudah di ambang kehancurannya. Satu minggu sudah ia membuka usaha jasa expedisi, tetapi sama sekali tidak laku. Ia pun pada akhirnya menutup jasa ekspedisinya itu. Ia menjual murah semua barang-barang yang ada di dalam expedisi, serta membiarkan begitu saja kontrakan yang semula di jadikan tempat untuk jasa ekspedisi.
"Bangkrut dech akhirnya usahku ini! aku pikir dengan memasang harga murah, akan banyak orang yang datang kemari, ternyata tidak laku sama sekali. Kenapa usaha Meysa terlihat sangat ramai dan yang aku dengar punya beberapa cabang," gerutu Yudha sambil terus merapikan barang-barang.
Sejenak Yudha terduduk begitu saja, ia merasakan lelah karena tidak ada yang membantunya sama sekali. Ia terus saja melamun dan melamun serta memikirkan apa yang akan ia lakukan untuk kedepannya.
"Aku pikir diriku akan untung tetapi ternyata malah buntung. Lantas apa yang akan aku lakukan untuk hari depanku? sepertinya aku tidak akan mempunyai masa depan yang cerah jika seperti ini."
Setelah sejenak beristirahat Yudha melanjutkan kembali pekerjaannya, merapikan semua barang-barang yang ada di kontrakan, yang semula digunakan untuk jasa ekspedisi.
Yudha bingung harus bagaimana lagi untuk bisa menghasilkan uang. Mendaftar pekerjaan tidak ada yang menerima dirinya. Membuka usaha gagal total, tidak ada pelanggan satu pun yang datang. Yudha merasa jalannya telah buntu. Ia gundah gulana memikirkan nasib hidupnya sendiri.
Setelah selesai merapikan semuanya, ia pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Sunyi sepi kini ia rasakan di rumah tanpa ada siapa pun. Ingin bermain dengan para wanitanya, ia kini harus benar-benar berhemat uang.
"Aaahhhh....jika seperti ini aku lama-lama bisa gila!!!!! sudah tidak pernah aku merasakan belaian dari tangan wanita lagi! sudah tak punya pekerjaan! usaha gagal, uang pun semakin hari semakin menipis!"
Yudha berteriak sendiri di dalam rumahnya. Ia benar-benar emosi dan putus asa dengan hidupnya sendiri.
"Apa aku harus mencari wanita tua yang kaya raya seperti Bu Ida dulu? hingga aku bisa menikmati kekayaan kembali? tetapi yang aku inginkan wanita yang muda yang masih segar!"
Yudha sudah benar-benar seperti orang gila, berteriak sendiri, menggerutu sendiri, dan bahkan tertawa sendiri.
Hari berganti hari, Yudha pun sudah tak punya apa-apa lagi. Ia kini benar-benar sudah miskin. Semua tabungan sudah habis, bahkan rumah pun sudah ia jual. Kini hanya tinggal sepeda motor saja yang ia punya dan yang hasil menjual rumah milik Bu Ida.
Terpaksa, Yudha mencari sebuah rumah kontrakan, untuk menghemat uang. Ia juga mencari pekerjaan, tetapi yang ada pekerjaan kasar.
__ADS_1
"Astaga...masa ia mantan direktur kok turun jadi kuli bangunan? yang ada badanku berubah hitam dan tanganku berubah kasar. Tapi jika aku tidak bekerja, aku bisa kehabisan uang."
Hingga dengan sangat terpaksa pula, Yudha menerima pekerjaan sebagai kuli bangunan di salah satu proyek pembangunan perumahan.
******
Pagi menjelang, hari pertama Yudha bekerja sebagai seorang kuli bangunan. Ia pun melangkah malas ke proyek tersebut, dan memulai aktifitasnya di pagi itu.
Beberapa jam kemudian, cuaca sudah mulai panas. Yudha mulai terkena panas matahari yang menyengat.
"Ya ampun....biasa aku kerja ada AC. Ini kerja malah kepanasan seperti ini, mana aku nggak pake topi. Aku pikir tadi begitu sejuk dingin udaranya, malah kini panas terik seperti ini," batin Yudha.
Jam makan siang pun datang, Yudha sangat senang. Ini kesempatan baginya untuk sejenak istirahat guna melepaskan penat dan kepala pusing sekali.
"Aaaahhhhh....."
Pekik Yudha kesakitan.
Saat itu juga mandor bangunan meminta para kuli yang lain untuk segera membawa Yudha ke rumah sakit terdekat untuk segera mendapatkan penanganan.
Yudha tak sadarkan diri pada saat terjatuh karena kepalanya sempat membentur lantai.
Tak berapa lama, sampai juga Yudha di rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan. Akan tetapi dokter memberikan informasi yang membuat Yudha begitu kaget pada saat dirinya sudah sadarkan diri.
"Apa dok? jadi kaki saya yang satu tidak bisa berfungsi? jadi saya pincang sebelah, dok?"
__ADS_1
Yudha hampir tak percaya dengan apa yang barusan menimpa dirinya saat ini.
"Di kala aku tak memilih pekerjaan dan rela bekerja kasar malah seperti ini! kenapa yang Kuasa tidak berpihak padaku? padahal aku sudah bisa menerima jika aku sudah tidak bisa kerja kantoran kembali. Tetapi kenapa malah mendapatkan musibah seperti ini?" batin Yudha terus saja mengeluh dengan apa yang sekarang sedang menimpa dirinya.
Dia sempat protes dengan Yang Kuasa atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Dia bukannya mengoreksi kesalahan sendiri, dan mohon ampun pada Yang Kuasa. Tetapi malah semakin menjadi. Seharusnya ia bersyukur karena hanya satu kakinya saja yang cacat.
Setelah di vonis satu kakinya cacat, mandor pun sudah tidak mengizinkan dirinya untuk bekerja lagi di proyek.
"Ini nggak adil, Pak Mandor! saya alami kecelakaan seperti ini juga karena sedang berada di proyek. Masa iya, saya sudah tidak di izinkan lagi untuk bekerja di proyek? dimana kebijaksanaan anda, Pak Mandor?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh, Yudha. Sang mandor pun menjadi naik pitam.
"Dasar orang yang tidak bisa bersyukur! padahal atasanku sudah memberikan uang pesangon padamu, dan juga membayar semua biaya rumah sakit. Jika kamu bekerja di proyek lainnya, belum tentu kamu mendapatkan hak istimewa seperti ini! jika biaya rumah sakit itu sudah sewajarnya pihak proyek yang bertanggung jawab karena kamu alami kecelakaan pada saat di proyek."
"Tetapi untuk uang pesangon, itu sungguh suatu hal yang sangat langka. Padahal kamu cuma kuli dan baru masuk pula. Biasa seseorang yang mendapatkan pesangon itu, orang yang bekerja di perkantoran."
"Jika kamu terus saja protes, sini kembalikan saja uang pesangonnya! biar buatku saja!"
Setelah mendengar ocehan dari sang mandor, Yudha pun tak bisa bicara lagi. Dia hanya diam saja, seraya berlalu pergi dari proyek dengan langkah kaki terpincang-pincang.
Dia pun bertambah bingung dengan apa yang menimpa dirinya. Ia merutuki Mandor tersebut, dan pada saat ia melangkah keluar dari proyek tersebut. Ia bertemu dengan orang yang ia kenal.
"Ohh...jadi proyek perumahan ini punyamu ya? tahu seperti ini aku nggak mengemis memohon pada, Pak Mandor supaya aku tetap bisa kerja di sini! pantas saja aku sial hingga jatuh dari atas. Karena yang punya proyek ini, kamu!" bentak Yudha kasar.
Ternyata proyek perumahan itu milik, Yosep. Ia yang sedang bercengkrama dengan arsiteknya menjadi terhenyak kaget dan menatap ke arah sumber suara. Ia menghentikan pembicaraannya dengan arsitek tersebut.
__ADS_1