
Bu Ida bekerja hingga sore hari, dan kondisinya memang baik-baik saja. Seperti apa yang di katakan oleh dirinya pada, Bu Hesty. Hanya Bu Hesty saja yang terlalu resah memikirkan dirinya.
"Alhamdulillah, ternyata Ida memang benar-benar sudah sehat. Sempat aku khawatir jika terjadi hal yang tak di inginkan padanya," batin Bu Hesty.
Tiba-tiba sejenak ia teringat akan Meysa, dan ia pun meraih ponselnya untuk sejenak mengirim chat pesan padanya.
[Meysa, Alhamdulillah ibumu sudah sehat. Dan kini ia sudah mulai bekerja kembali.]
Drt drt drt drt drt
Satu notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel milik Meysa, da ia pun lekas membacanya.
Sejenak Meysa tersenyum pada saat melihat chat pesan yang di kirimkan oleh Bu Hesty ke nomor ponselnya.
[Alhamdulillah, senang dengarnya. Terima kasih ya, Bu. Atas segala bantuan dan kebaikan ibu selama ini pada ibuku. Dia yang terbaik untuk, Bu Hesty.]
Satu balasan chat pesan dari Meysa ke nomor ponsel milik Meysa. Setelah Bu Hesty membaca balasan chat dari Meysa, ia pun segera meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya, dan ia melangkah keluar dari warung nasi Padangnya.
__ADS_1
Di rumah Meysa, ia merasa sedikit lega mendengar kabar jika ibunya telah sehat, walaupun ada rasa sedikit sedih.
"Alhamdulillah ya Allah, ibu sudah sehat. Jika saja ibu tak melakukan kesalahan itu, pasti saat ini ibu tak usah bersusah payah bekerja untuk menghidupi diri sendiri."
"Dulu setiap ibu sakit pasti aku merawat dengan tanganku sendiri dan setelah sehat, ibu juga tidak melakukan aktifitas apapun. Ia hanya di rumah."
"Ibu, sampai detik ini aku masih saja berpikir. Kenapa ibu bisa melakukan hal yang sangat menjijikkan seperti ini?"
"Sampai detik ini aku masih berpikir, kok Ibu tega ya? melakukan perselingkuhan dengan suami anaknya sendiri."
"Kadang aku membayangkan sendiri, oa pada waktu ibi sedang bercinta dengan Yudha. Tidak terbayangkan wajahku sama sekali?"
"DOR!"
Satu suara dan satu tepukan ke bahu Meysa membuat dirinya terlonjak kaget.
"Astaghfirullah aladzim, Mas Yosep. Buatku kaget saja dech."
__ADS_1
Meysa mengusao dadanya karena rasa kaget tersebut.
"Habisnya, ada suami pulang dari kantor kok kamu diam saja seperti seorang patung. Sampai suami pulang lewat di hadapannyamu, tidak ada pergerakan sama sekali," ucap Yosep manyun.
Meysa salah tingkah, mendadak wajahnya merona merah. Ia begitu malu karena kedapatan melamun.
"Maaf ya, mas."
Sejenak Yosep duduk di samping istrinya, dan ia menanyakan apa yang membuat Meisya melamun. sejenak bisa menceritakan tentang ibunya.
Jika ia sangat menyayangkan tindakan ibunya di masa lalu yang membuat dirinya sampai detik ini belum bisa memaafkannya. Walaupun sebenarnya di dalam hatinya kadang ada rasa tidak tega, jika melihat ibunya yang saat ini harus bekerja keras membanting tulang demi menghidupi diri sendiri.
Yosep tidak bisa berkata-kata, karena ia juga bingung harus memberikan masukan atau saran seperti apa, khawatir dia akan salah dalam berucap seperti waktu itu. Ia hanya bisa diam dan berhooh ria saja.
"Mas, kok kamu malah diam saja sih? nggak memberikan saran atau pendapat?" rajuk Meysa.
"Aku khawatir saran yang aku berikan malah membuat kamu marah. Makanya aku cuma menjadi pendengar setia saja."
__ADS_1
Yosep salah tingkah seraya terus menggaruk tengkuknya yang tak gatal.