
Dewi pun terus marah pada Yudha, tetapi Yudha justru terkekeh tidak punya rasa malu sama sekali. Ia malah semakin nekad mendekati Dewi kembali, hingga membuat Dewi semakin naik pitam.
"Menjauh dariku, atau aku akan berteriak mempermalukan dirimu! dan kamu akan aku pecat!" bentak Dewi kesal terus saja memundurkan tubuhnya.
"Dewi sayang, kenapa kamu malah terkesan takut padaku? padahal aku tidak akan menyakitimu, tetapi justru ingin memberikan kebahagiaan padamu. Ayohlah, Dewi. Tidak ada suamimu kan, kita bisa bermain cantik supaya tidak ada satu orang pun yang tahu termasuk suamimu itu," rayu Yudha.
"Dasar pria gila! kamu pikir aku akan terbujuk oleh rayuanmu itu? justru aku memilih pergi dari hidupmu karena aku tahu sikap buruk mu yang tidak bisa setia pada satu wanita!" bentak Dewi kesal.
Pada saat Dewi meraih telpon yang ada di atas meja kerjanya, dengan gerak cepat Yudha menahan telpon tersebut," kamu akan menelpon siapa? aku tidak mengizinkanmu untuk menelpon siapapun!"
"Heh, di sini aku yang atasanmu! jadi kamu tidak bisa seenaknya padaku ya! pergilah dari ruanganku dan dari restoranku! saat ini juga aku pecat kamu!"
Tetapi Yudha masih saja berkeras hati, tak mau pergi dari ruangan itu. Dia terus saja mendekati Dewi seperti seorang yang sudah kesurupan. Tak punya pemikiran yang sehat sama sekali.
"Pergilah dari sini, cepat pergi! dasar gila!"
Terus saja Dewi mengusir Yudha hingga ia sampai melempari Yudha dengan benda-benda yang ada di dalam ruangan tersebut.
Yudha tersenyum sinis, ia bagaikan kesetanan tak peduli dengan bentakan dari, Dewi. Hingga tak terasa kini Yudha sudah ada di hadapan Dewi dengan mengungkung tubuhnya.
Namun pada saat ia akan bertindak kurang ajar, datanglah suami Dewi. Langsung saja menarik tubuh Yudha menjauh dari Dewi.
BUG BUG!!!
Suaminya memukul perut Yudha dengan sangat keras dan membsbi buta.
__ADS_1
Setelah itu ia mencengkram rahang Yudha," lancang sekali kamu ya? sekarang juga pergi dari sini dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapan kami, jika tidak akan aku laporkan kamu ke aparat kepolisian. Aku masih berbaik hati, cepat pergi!"
Dengan tersenyum sinis, Yudha berlalu pergi dari hadapan suami Dewi.
"Sayang, apa kamu tidak apa-apa?"
Sang suami memeluk Dewi yang sangat ketakutan, bahkan detak jantungnya begitu cepat hingga suaminya saja bisa merasakannya.
"Mas, untung saja kamu lekas datang. Aku nggak menyangka dia begitu nekad, tiba-tiba sudah basah di ruangan ini. Aku takut sekali, mas."
Tak kuasa air mata Dewi tercurah begitu saja karena rasa takutnya tersebut. Hingga sang suami berusaha untuk menenangkan dirinya. Memberikan pelukannya seraya mengusap punggung istrinya supaya tenang.
Sementara Yudha dengan langkah satu kaki terseok-seok, ia pergi dari restoran tersebut tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Dia justru merutuki suami Dewi yang telah menggagalkan rencana itu.
"Sialan, padahal sebentsr lagi aku akan berhasil melepaskan rasa kangenku pada Dewi jika saja suaminya tidak datang secara tiba-tiba!" batinnya kesal.
"Hey, jandaku? yang di sana jandaku, yang ini jandaku juga. Tambah cantik saja, bagaimana kabarmu sayang?"
Mendengar kata-kata seperti itu, pria yang sedang bersama dengan wanita ini begitu kesal," heh, jangan kurang ajar dengan calon istriku ya?" bentaknya pada Yudha.
Namun Yudha malah tertawa," dia calon istrimu, tetapi dia itu bekasku bahkan dia pernah hamil anakku. Haaa...dunia ini begitu sempitnya ya? banyak lelaki yang mendekati bekas istri-istriku."
PLAK!!!
Satu tamparan mendarat di pipi Yudha.
__ADS_1
"Heh, beraninya kamu menanparku hah? apa kamu lupa dengan masa indah yang pernah kita lalui dahulu? apa perlu aku ingatkan kembali tentang masa indah kita bersama?" ucap Yudha menatap ke arah wanita tersebut yang ternyata adalah sekretaris pribadi Yudha tempo dulu.
Sejenak pria yang sedang bersama dengan wanita itu menoleh ke arahnya," apa kamu kenal dia, sayang?"
"Dia yang telah menalakku pada saat aku pasca melahirkan. Dia pria kejam yang pernah aku ceritakan dulu padamu yang sempat membuat aku berbuat dosa dengan membuang anakku sendiri," ucap wanita itu.
"Ohhh..jadi pria ini? tetapi aku rasa dia sudah terkena karmanya. Lihatlah, sayang. Kondisi dia yang begitu lusuh layaknya seperti para pemulung di jalanan. Heh, makanya jangan pernah kamu menyakiti seorang wanita karena kamu sendiri juga terlahir dari rahim wanita!" ejek pria itu.
Setelah itu ia merangkul wanitanya melangkah masuk ke dalam restoran milik, Dewi. Wanita itu juga tidak tahu jika pemilik restoran itu adalah, Dewi.
Lagi-lagi Yudha kesal, karena ia harus bertemu dengan mantan istrinya yang lain. Ia merasa hidupnya penuh dengan derita.
Dulu ia di puja banyak wanita dan di perebutkan. Kini justru ia merasa di ejek. Apa lagi para wanita yang telah ia sakiti, kini semua memiliki pasangan. Sedangkan dirinya sama sekali tak ada wanita yang mau bersanding di sampingnya.
Untuk melihat dirinya saja para wanita mencibir, karena satu kakinya pincang dan kulitnya kini hitam legam serta kurus tak terurus dan lusuh. Hingga jika ia mendekati seorang wanita, ia pasti akan mendapatkan penolakan dan ejekan.
"Astaga.... malang benar nasibku ini. Dua kali aku bertemu dengan mantan istri-istriku yang sudah memiliki pria lain! sedangkan aku apa? tidak ada satu wanita pun yang mau aku dekati. Selalu saja aku diejek dan di tertawakan oleh para wanita yang aku dekati halnya karena aku tak punya apa-apa lagi!"
"Wanita memang tidak ada yang tulus sama sekali. Mereka hanya mendekar padaku jika aku berharta. Kini aku tak punya apa-apa, mereka menjauhiku!"
Terus saja Yudha mengeluh sepanjang jalan menuju ke tempat parkiran motor. Ia pun pulang ke kontrakan dengan rasa kesal dan kecewa. Ia sama sekali tidak memikirkan akan hari esok.
Dia melupakan jika dirinya saat ini sudah tidak bisa mempunyai pekerjaan karena sudah di pecat secara tidak terhormat oleh, Dewi. Yang ada hanya kegurutusn saja.
Yudha kecapean dan ia lekas membersihkan tubuhnya sendiri. Setelah itu sejenak ia bercermin dan menatao dirinya.
__ADS_1
"Ternyata aku yang sekarang memang berbeda dengan aku yang dahulu. Sekarang aku terlihat sangat buruk dan jelek. Aku baru sadar tentang hal ini, pantas saja tidak ada satu wanita pun yang mau dekat dan menjadi pendamping hidupku. Ya ampun, kulitku kini juga berubah kusam dan hitam. Aku saja jijik melihat tubuhku, apa lagi para wanita," batinnya penuh keluh kesah.