
Yudha sama sama sekali tidak bisa berkutik. Perusahaan dari hasil dia merebut dari ibu Ida, kini telah berpindah tangan. Karena semua surat-surat ada pada pemilik barunya. Kini ia menjadi bingung dengan tidak adanya penghasilan yang masuk.
Dia telah kalah berhadapan dengan pemuda yang ia laporkan ke kantor polisi. Bahkan ia sendiri ketakutan pada saat dirinya akan di tuntut balik oleh pemuda itu. Hingga ia pun menyerah dan meminta maaf pada aparat kepolisian, dan juga pada pemuda itu.
Yudha berjanji tidak akan mempermasalahkan tentang perusahaan itu lagi. Asalkan ia jangan di penjara. Hingga pada akhirnya, pemuda ini menuruti saja apa kemauan dari Yudha. Sekaligus ia ingin tahu, bagaimana selanjutnya kehidupan dirinya jika tanpa ada perusahaan yang ia hasilkan dari merampas milik orang lain.
Yudha lontang lantung tak punya pekerjaan sama sekali.
"Jika sudah seperti ini, aku bisa apa coba? ini salahku sendiri, karena aku jarang ke kantor untuk mengurus perusahaan. Aku jadi ingat, waktu itu Bu Ida selalu saja mengingatkan aku. Tetapi aku sama sekali tidak pernah mendengarkan apa yang dikatakan olehnya. Sekarang aku merasakan sendiri hasil dari kebodohan diriku ini," batin Yudha.
Dia pun benar-benar menjadi seorang pengangguran. Dan sejak ia kehilangan perusahaannya, ia pun sudah berhenti tidak bermain wanita lagi.
Sejenak ia ingat apa yang pernah di katakan oleh pemuda yang telah mengambil perusahaanya.
"Pada saat di kantor polisi, asisten pribadiku mengatakan jika dia sama sekali tidak menjual perusahaan pada pemuda itu. Terus pemuda itu mengatakan mendapatkan sebuah surat penting perusahaan dari seorang wanita yang pernah menjadi pacarku. Tapi pacar yang mana ya, karena begitu banyak wanita yang aku kencani?"
"Aduh... karena terlalu banyaknya aku mengencani para wanita, bahkan setiap hari berganti-ganti jadi aku sulit menebak siapa wanita itu. Apa lagi setiap kali aku akan berkencan dengannya, aku juga selalu konsumsi minuman keras. Jadi aku tak tahu mana wanita yang mencuri semua berkas kantor yang aku simpan di dalam almari kamar."
Terus saja Yudha memikirkan wanita yang menurutnya telah mengambil semua dokumen perusahaan yang ada di dalam almari kamarnya. Tetapi ia sama sekali tidak berhasil mendapatkan titik terang, ia malah sakit kepalanya karena memikirkannya.
Hingga ia memutuskan untuk tidur saja di dalam kamarnya. Ia sudah pasrah dengan apa yang telah menimpa dirinya saat ini. Ia tak ingin mencari tahu siapa wanita itu, karena jika ia tahu pun tak akan mampu untuk mengembalikan semua dokumen perusahaan yang kini sudah ada di tangan pemilik yang baru.
******
__ADS_1
Esok harinya, ia pun bangun dan segera sarapan pagi. Ia berniat akan segera mencari pekerjaan.
"Mau tidak mau aku harus segera mencari pekerjaan, karena aku tidak ingin seperti ini. Apa lagi aku sudah haus dengan belaian seorang wanita."
Setelah sarapan barang sejenak, Yudha lekas melangkah pergi untuk mencari sebuah pekerjaan. Tetapi pada saat memasuki beberapa kantor, ia malah di permalukan. Semua pihak kantor sudah tahu jika Yudha pernah selingkuh dengan ibu mertuanya sendiri hingga menikahi ibu mertuanya sendiri.
'Heh! untuk apa anda mendaftar pekerjaan di kantor saya? saya nggak ingin nama perusahaan tercemar hanya karena seorang pria yang telah menikahi ibu mertuanya sendiri dan mencampakkan istrinya! keluar sana dari kantor ini!"
Salah satu presiden direktur di sebuah perusahaan di kota itu mengatakan hal memalukan itu pada, Yudha. Dan mengusirnya secara paksa. Yudha merasa sangat di permalukan. Dan ini bukan yang pertama kalinya, bahkan berkali-kali. Setiap ia masuk dan akan mendaftar di berbagai perusahaan. Selalu saja ia mendapatkan penolakan.
Dia pun marah, dan sejenak ingat pada Meysa.
"Aku yakin ibu ulah dari Meysa, pasti ia Yeng telah menyebarkan berita ini pada sebuah presiden direktur di seluruh perusahaan yang ada di kota ini. Hingga tidak ada satupun yang mau menerima aku bekerja di kantor mereka. Padahal aku sama sekali tidak mempermasalahkan jika aku bekerja hanya sebagai karyawan biasa. Yang terpenting aku bisa kerja dan mendapatkan uang," batin Yudha kesal.
Hanya beberapa menit saja, Yudha telah sampai di kantor Expedisi milik Meysa. Dan Meysa begitu terkejut pada saat melihat kedatangan Yudha.
Karena sudah sekali sejsk dirinya berpisah dari Yudha. Kenapa pula kininia datang dengan sorot mata yang membunuh.
"Aneh, setelah sekian tahun dari perpisahan itu. Kenapa pula Mas Yudha tiba-tiba datang lagi kemari?" batin Meysa tak suka melihat kedatangannya.
"Kamu tak usah menatapku seperti itu. Karena aku sebenarnya juga tak sudi untuk datang kemari! karena suatu hal yang membuat aku terpaksa harus menemui dirimu, paham!"
Mendengar perkataan dari Yudha membuat Meysa semakin tidak mengerti sama sekali. Ia benar-benar tidak tahu apa yang dikatakan oleh Yudha.
__ADS_1
"Maaf, aku sama sekali tidak tahu apa maksud dari ucapanmu itu? kita sudah putus hubungan sejak lama, lantas untuk apa kamu datang lagi kemari?" tanya Meysa heran melihat kedatangan Yudha.
"Halllaaaaa....masih sok pura-pura nggak tahu kamu ya? setelah apa yang kamu lakukan padaku, hah?" bentak Yudha.
Hal ini semakin membuat Meysa tak mengerti dengannya. Karena sejak ia bercerai dari Yudha. Ia sama sekali tidak melakukan apapun. Bahkan sebisa mungkin ia malah tidak ingin bertemu dengan Yudha.
"Jaga bicaramu ya, Mas! aku tidak pernah melakukan apa pun terhadap dirimu! justru kamu yang telah selingkuh terang-terangan dengan ibuku! bukan hanya itu, setelah kamu dapatkan apa yang kamu mau. Kamu campakkan ibuku begitu saja! kini seenaknya kamu malah menuduhku yang bukan-bukan!"
Meysa pun terbakar amarah, apa lagi saat ini ia sedang hamil muda hingga gampang sekali marah jika menghadapi hal seperti itu.
"Kamu kan yang telah menyebarkan fitnah pada seluruh presiden direktur di kota ini tentang pernikahan yang pernah aku lakukan dengan ibumu? hingga tidak ada satu perusahaanpun yang mau menerimaku bekerja!" bentak Yudha kasar.
Belum juga, Meysa berucap bahwa ia tidak melakukan hal itu. Munculllah Yosep dari balik pintu ruang kerja Meysa.
"Aku yang melakukannya, bukan istriku!" bentak Yosep lantang.
"Hah, istri? jadi kamu ini sudah menikahi bekasku, secara kamu telah memungut dia dari tong sampah!" ejek Yudha terkekeh.
PLAK!!!!! PLAK!!!!
Yosep menampar pipi kiri dan kanan Yudha. Ia benar-benar tak rela mendengar istrinya di hina.
"Jaga mulutmu, sekali lagi kamu mengatakan hal buruk tentang istriku, aku akan sulam bibirmu biar tak bisa berkata sama sekali!" ancam Yosep.
__ADS_1
Sejenak Yudha mengisi pipinya yang terasa sakit, karena Yosep begitu keras menampar dirinya.