Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Sebuah Ancaman Dari Meysa


__ADS_3

Mendengar dari salah satu pegawainya, Meysa pun menjadi sangat geram karena ulah Yudha yang tidak pernah berhenti mengganggu kehidupannya.


Meysa keluar dari ruang kerjanya mengikuti langkah kaki salah satu pegawai tersebut menuju ke pintu gerbang kantornya.


Ia pun keluar dari pintu gerbang dikawal dengan dua security sekaligus karena khawatir udah berbuat nekat terhadapnya.


"Akhirnya kamu keluar juga Meysa, dari tadi aku panggil-panggil tidak juga keluar," hardik Yudha berkacak pinggang.


Meysa sengaja berdiri agak menjauh mengingat dia harus benar-benar menjaga dirinya yang saat ini sedang hamil muda untuk antisipasi saja. Apalagi melihat raut wajah Yudha yang begitu marahnya.


"Ada apa lagi sih, kamu datang kemari? sudah aku katakan kemarin, supaya tidak usah mengganggu kehidupanku lagi! apa kamu belum puas, setelah apa yang kamu lakukan kepadaku?" ucap Meysa ketus.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, karena aku rasa apa yang terjadi padaku itu ulahmu!"


Meysa memicingkan alisnya, karena ia tidak mengerti apa yang barusan dikatakan oleh Yudha kepadanya. Ia bertanya bukannya Yudha menjawab, justru dia balik bertanya. Ini yang membuat Meysa menjadi bingung, apa maksud dari kedatangan Yudha kali ini.


"Sudahlah, katakan apa maksud kedatanganmu kemari! tak usah bertele-tele seperti ini, hanya menyita waktuku saja. Karena waktu bagiku sangat berharga, bukan untuk meladeni orang tak punya prinsip dan tak punya hati nurani seperti dirimu," ejek Meysa kesal.


Yudha pun pada akhirnya mengatakan apa maksud kedatangannya menemui, Meysa.


"Kenapa kamu jahat sekali padaku, Mesya. Kamu pasti kan yang sengaja berkata buruk kepada orang-orang sehingga tidak ada satupun orang yang mau memakai jasa ekspedisi yang aku dirikan."

__ADS_1


Meysa justru terkekeh mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Yudha, sehingga membuat Yudha semakin naik pita dan mengepalkan tinjunya.


"Kenapa kamu terkekeh? kamu menertawakan nasib diriku saat ini, iya kan? jahat banget kamu, Meysa. Dari ekspresi wajahmu saja aku sudah tahu jika memang kamu yang telah membuat orang-orang tidak mau memakai jasa ekspedisi yang aku dirikan," ucap Yudha kasar.


"Kamu ini lelaki tetapi sifatmu tidak mencerminkan sikap lelaki, kamu suka sekali melabrak orang seperti wanita saja. Apa kamu tidak cape, berkali-kali datang kemari untuk hal yang tidak ada gunanya sama sekali? aku tidak pernah menyuruh orang untuk menghasut supaya mereka tidak datang mengirim barang melalui jasa ekspedisi mu, bagiku itu tidak penting sama sekali."


"Karena aku tidak mau berhubungan lagi dengan pria seperti dirimu. Aku sudah berpisah darimu saja itu sudah sungguh sangat bersyukur, jadi aku tidak ingin dekat-dekat denganmu lagi. Walaupun hanya sekedar menghasut orang atau apalah, tidak ada gunanya sama sekali. Masih banyak perbuatan yang terpuji, yang lebih baik daripada menghasut orang."


"Lagi pula aku tidak ada waktu sama sekali untuk mengurusi oran, apa lagi orang seperti dirimu yang sama sekali tak punya rasa malu. Dan tak bisa mengoreksi dirimu sendiri."


"Pergilah dari sini dan jangan datang lagi. Jika kelak kamu datang lagi kemari dengan tujuan tak jelas seperti ini. Dan ini juga menganggu kenyamanan kerjaku, aku akan laporkan kamu ke aparat kepolisian. Suosya kamu di beri pelajaran hingga jera, dan tak ganggu aku lagi."


Setelah mengatakan banyak hal pada Yudha, Meysa pun masuk kembali dan ia meminta security mengunci pintu gerbangnya dan tak usah menghiraukan Yudha lagi.


"Jika aku mengedor-gedor pintu gerbang ini hanya untuk sebagai pelampiasan rasa amarahku terhadap Meysa, aku khawatir dia akan benar-benar melaporkanku ke pihak yang berwajib. Aku tidak mau nantinya di kasuskan oleh, Meysa."


Akhirnya Yudha pun mengurungkan niatnya tersebut dan ia membalikkan badannya lantas naik ke atas sepeda motornya dan melajukannya arah pulang.


Sementara saat ini Meysa sudah ada di ruang kerjanya kembali ia menghempaskan tubuhnya di sofa yang panjang, sejenak untuk merebahkan diri menarik napas panjang.


"Dasar orang aneh, terus saja mengganggu kehidupanku. Seharusnya aku yang merasa marah, merasa kecewa dan merasa dendam kepadanya dengan apa yang pernah ia lakukan padaku. Bukan malah dia yang terus marah-marah kepada diriku dan menuduh aku yang bukan-bukan."

__ADS_1


"Aku jadi orang tidak punya rasa dendam kepada orang-orang yang telah menyakitiku. Yang ingin membuat mereka merasakan apa yang aku rasakan, karena menurutku itu tidaklah penting. Tak ubahnya aku sama saja seperti mereka."


"Jika aku telah dilukai oleh orang, justru aku tidak ingin dekat dengan orang itu lagi. Intinya benar-benar ingin menjauh sejauh mungkin dari orang itu."


"Aku sudah menjauh dari dirinya, tetapi malah dia yang selalu saja datang mengganggu kehidupanku. Kali ini aku tidak akan main-main dengan ancamanku padanya. Jika sekali lagi dia datang dan mengganggu kehidupanku, aku akan melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Apalagi aku punya suami seorang pengacara, itu akan sangat mudah untuk menjebloskannya ke dalam penjara."


Selagi di dalam hatinya terus saja menggerutu karena ulah Yudha, pintu ruang kerjanya perlahan terbuka oleh seseorang, yang tak lain adalah suaminya. Melihat istrinya sedang merebahkan diri di sofa yang panjang, Yosep pun mengerutkan dahinya. Ia beranggapan jika saat ini istrinya sedang letih atau sedang kurang sehat.


"Sayang, apa kamu merasa tidak enak badan? jika begitu ayo kita ke dokter saja."


Yosep mengecup kening istrinya seraya perlahan menempelkan punggung tangannya di dahi dan pipi Meysa, kemudian ia mengusap dan mengecup perut Meysa yang masih rata. Meysa hanya tersenyum kecil.


"Aku sehat kok suamiku sayang, aku sama sekali tidak merasa sakit. Hanya ingin sejenak rileks, rebahan. Ya mungkin ini ciri khas dari ngidamnya babymu yang kedua ini. Alhamdulillah, dia nggak seperti Nando."


"Waktu hamil muda, Nando. Hampir setiap hari alami morning sickness. Kalau hamil ini nggak mual muntah, hanya awal saja waktu itu. Selanjutnya tidak lagi."


"Anakmu yang ini malah maunya makan saja, mas. Sebentar-sebentar maunya ngemil."


Yosep begitu senang pada saat mendengar jika istrinya tidak sedang sakit. Apa lagi mendengar jika kehamilannya juga baik-baik saja.


"Alhamdulillah, nggak apa-apa jika kamu suka makan. Aku malah suka, sayang," ucap Yosep.

__ADS_1


"Tapi ini akan membuat tubuhku menjadi tambah gemuk bagaimana? wah...lucu dech sepertinya," ucap Meysa terkekeh.


"Nggak apa-apa, sayang. Biarpun kamu berubah gemuk, aku akan tetap cinta kamu," ucap Yosep seraya berkali-kali mencium pipi Meysa.


__ADS_2