
"Meysa tidak pernah melakukan apapun padamu, walaupun kamu telah melakukan hal sangat keji kepadanya! bahkan kamu juga telah menelantarkan ibunya begitu saja!" bentak Yosep.
Yudha tersenyum sinis," ohhh...jadi si nenek tua itu mengadu banyak hal ke kalian berdua? salah siapa minggat, aku sama sekali tidak pernah mengusirnya dari rumah."
Sejenak mereka bersi tegang, antara Yosep dengan Yudha. Meysa malah hanya diam saja. Ia hanya menatap dan menjadi pendengar setia saja.
"Bagaimana Bu Ida nggak kabur, secara kamu perlukan nggak wajar! kami sudah tahu apa saja yang kamu lakukan! hanya bermain dengan para wanitamu itu setiap hari, dan menjadikan Bu Ida sebagai asisten rumah tangga. Secara dia tidak kerasan dan pada akhirnya kabur! dasar pria tak punya hati nurani dan perbuatanmu itu layaknya seekor binatang!" umpat Yosep kesal seraya tangannya mengepalkan tinju.
"Hhaaa... inilah resiko pria tampan. Banyak wanita yang tergila-gila padaku, bahkan Bu Ida juga pernah mengakui betapa tampannya diriku. Hingga dirinya saja tergoda. Memangnya kamu, yang dari dulu nggak pernah ada pasangan? hingga sekarang pun kamu tak bisa mencari wanita yang lebih baik, bisanya menikahi janda," ejek Yudha pada Yosep.
Namun Yosep masih bisa menahan amarahnya, hingga ia masih bisa menahan kepalan tangannya untuk tidak memukul ke arah Yudha.
"Tertawalah sepuas hatimu, selagi kamu bisa tertawa. Karena aku yakin pria benalu seperti dirimu, secepatnya akan meratap dalam tangis," ejek Yosep terkekeh.
Mendengar ejekan dari Yosep, membuat hati Yudha semakin panas. Apa lagi ia sangat kesal setelah tahu jika pria yang telah berhasil merebut perusahaan milik Bu Ida, telah menjadi suami Meysa.
"Untuk kali ini aku memang kalah, tapi lihat saja ya! suatu saat nanti aku akan balas perbuatan kalian berdua! camkan itu!"
Saat itu juga, Yudha berlalu pergi dari ruang kerja Meysa. Ia pergi dengan amarah yang begitu besarnya.
Selepas kepergian Yudha. Barulah Meysa bisa duduk dengan tenang bersama dengan Yosep.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu nggak bilang jika kamu ingin melakukan hal ini? dan aku juga heran, kenapa pula dia mencari pekerjaan? sementara bagaimana dengan nasib kantor peninggalan ayah?" tanya Meysa sedih.
"Sayang, kamu tak usah khawatir. Aku telah menyelamatkan peninggalan terakhir ayahmu."
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Meysa menjadi tak mengerti. Yosep sudah paham dengan raut wajah istrinya yang terlihat bingung. Hingga ia menceritakan semuanya pada Meysa.
Kelemahan Yudha adalah playboy, hingga Yosep memerintah salah satu kerabatnya yang sudah terbiasa bekerja menjadi seorang detektif. Menyamar sebagai apa saja. Yosep meminta kerabat wanitanya ini. Untuk mendekati Yudha guna mendapatkan suatu tanda tangannya dan juga semua surat-surat berharga perusahaan mendiang ayah Meysa.
Hingga seolah-olah Yudha telah melakukan transaksi jual beli perusahaan. Hal ini Yosep lakukan karena ingin menyelamatkan perusahaan yang di ambang kehancuran karena ulah Yudha.
"Sayang, aku minta maaf karena telah lancang melakukan ini semua tanpa cerita padamu terlebih dahulu."
Yosep menangkupkan kedua tangannya di dada. Ia begitu khawatir Meysa akan marah.
Kini ia lega karena perusahaan mendiang ayahnya bisa di selamatkan dan kembali lagi kepadanya. Bahkan ia tak ragu meminta supaya suaminya yang mengurus perusahaan itu. Karena dirinya tidak akan sanggup. Waktunya sudah tersita untuk urus beberapa cabang usaha expedisinya.
Apa lagi ia saat ini sedang hamil dan tak ingin terlalu cape.
"Mas, kamu mau kan? mengurus perusahaan almarhum ayahku?" tanya Meysa ragu.
"Mau sayang, aku pasti bisa atur waktu antara menjadi seorang pengacara dan seorang pengusaha. Karena pekerjaanku sebagai seorang pengacara tidak menyita waktuku. Hingga aku bisa mengurus perusahaan almarhum ayahmu. Kamu fokus saja dengan anak kedua kita. Jangan terlalu cape dalam bekerja ya, sayang."
__ADS_1
Meysa benar-benar bersyukur karena dirinya di beri seorang suami yang sangat tanggung jawab dan paling utama selalu setia padanya.
Meysa tidak akan menyia-nyiakan pemberian Allah. Ia juga akan menjaga kandungannya. Ia tak ingin terjadi hal buruk pada anak yang saat ini ada di dalam kandungannya.
Setelah apa yang dulu menimpa pada, Meysa. Kini ia telah mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Berbanding terbalik dengan apa yang telah di dapatkan oleh Bu Ida saat ini. Ia yang seharusnya tinggal menikmati masa tuanya dengan cucunya. Justru kini ia harus bekerja banting tulang demi untuk bisa menafkahi dirinya sendiri.
Jika saja waktu itu Bu Ida tidak berkhianat, pasti saat ini hidupnya telah bahagia bersama dengan anak dan cucunya. Ia kerap kali merasa sedih melihat para pembeli nasi Padang yang datang membawa anak dan cucunya.
Ingin sekali ia memeluk dan bermain dengan cucunya, yang kerap kali hanya bisa ia lihat dari jauh saja. Kerap kali Meysa mengajak kedua anaknya ke kantor ekspedisinya. Hingga Bu Ida kerap kali melihatnya, dan hanya bisa membayangkan saja dirinya bercanda ria dengan kedua cucunya.
Karena ia tak tahu jika anak sulung Meysa hanyalah anak angkat saja.
"Ya Allah, kapan aku bisa bersama lagi dengan anakku? aku ingin sekali bermain dengan kedua cucuku, dan ingin membantu mengasuh mereka. Apa lagi saat ini aku tahu jika Meysa sedang hamil," batin Bu Ida.
Dia hanya bisa berangan-angan saja. Tak bisa mewujudkan impiannya untuk bisa bermain dengan cucunya. Kadang kala tanpa sadar ia menitikkan air matanya. Menyesali apa yang telah terjadi.
"Jika waktu bisa di putar ulang, aku pasti tidak akan melakukan kesalahan fatal ini, ya Allah. Tapi waktu yang sudah terlewatkan takkan bisa kembali lagi untuk di ulang lagi. Apakah selamanya aku akan hidup menyendiri seperti ini. Hingga aku mati juga akan kesepian? tidak ada yang mengurus jazadku kelak?" batin Bu Ida.
Hampir setiap hari, ia terus saja menyesal merutuki diri sendiri. Dan bahkan merasa kesepian tanpa keluarga. Tinggal di sebuah kontrakan sendirian. Tiap kali jika tidak ada kegiatan, ia hanya bengong saja di rumah kontrakan. Ingin sekali menyambangi rumah Meysa. Tetapi tak berani, ia khawatir akan mendapatkan penolakan.
__ADS_1
Sementara Yudha juga setiap hari hanya bisa marah-marah. Bahkan ia memecat semua pelayan yang ada di rumahnya karena ia tak ingin menambah biaya pengeluaran. Itu di karenakan untuk pengiritan karena selama ini ia belum mendapatkan pekerjaan yang ia inginkan.