
Yudha sangat frustasi karena perlahan tapi pasti, hidupnya berubah menjadi miskin. Karena ia sudah tidak ada pemasukan dari perusahaan milik almarhum Ayahnya Meysa. Karena perusahaan itu sudah kembali ke tangan yang tepat. Hidupnya lantang lantung.
Kondisi rumah sangat berantakan karena tidak ada yang mengurusnya. Sudah tidak ada asisten rumah tangga ataupun tukang kebun, security dan sebaginya.
Saat ini, Yudha hidup sebatang kara. Tanpa ada istri atau kekasih. Penampilan memang masih wajar, karena ia masih memiliki simpanan uang. Hanya saja mobil yang sudah melayang, di jual.
Siang ini, Yudha telah berhasil menjual mobilnya dengan harga yang cukup mahal. Ia memutuskan untuk memakai motor saja. Karena kebetulan di rumah ada sebuah motor. Walaupun uang yang ada di dalam tabungan masih ada, tetapi dia enggan menggunakannya dengan alasan akan di buat untuk modal usaha.
"Kira-kira usaha apa yang bisa lekas berkembangan pesat ya? karena aku sudah tidak bisa lagi mendapatkan pekerjaan gara-gara suami Meisya yang menyebarkan video syur antara aku dan Bu Ida ke seluruh presiden direktur beberapa perusahaan yang ada di kota ini."
"Apa sebaiknya aku buka usaha ekspedisi saja ya? seperti yang dilakukan oleh Meisya. Tetapi dengan harga yang agak miring supaya semua para pelanggan Meysa berpindah tangan menjadi pelangganku."
Pikiran picik mulai terlintas pada diri Yudha, karena ia sudah tidak bisa lagi bergerak sama sehingga ia pun memutuskan untuk membuka usaha kecil-kecilan seperti yang Mesya punya saat ini.
Tanpa berpikir lagi, tanpa menimbang-nimbang lagi, pada akhirnya Yudha benar-benar memutuskan membuka suatu usaha jasa ekspedisi. Dengan bermodalkan tabungan yang ia punya ditambah lagi dengan uang dari hasil dia menjual mobilnya.
Saat itu juga Yudha mulai mengatur keuangannya tersebut untuk membeli segala yang dibutuhkannya. Padahal ia sama sekali tidak mempunyai rencana untuk membuka suatu usaha seperti itu.
Berbeda dengan Meysa pada saat membuka suatu usaha ekspedisi, dia berpikir matang-matang dan melakukan strategi pemasaran yang jitu, hingga usahanya pun berhasil bahkan berkembang hingga sampai saat ini.
__ADS_1
Saat ini yang ada di pikiran Yudha hanyalah merebut semua pelanggan ekspedisi milik Meysa. Di dalam hatinya dia telah berpikir bahwa usahanya yang baru ini akan berkembang pesat melebihi usaha milik, Meysa.
Setelah semua urusan untuk membuka sebuah kantor expedisi dengan harga promo selesai, Yudha lekas membuat brosur untuk di sebar luaskan di daerah kota tersebut.
Bahkan dengan tanpa ada rasa malu sedikitpun, ia datang di kantor expedisi milik Meysa. Ia pun membagikan brosur tersebut pada para pelanggan, Meysa.
Aktifitas yang di lakukan oleh Yudha sempat tertangkap kamera CCTV dari ruang kerja, Meysa. Ia pun segera beranjak bangkit dan lekas melangkah ke luar dari ruang kerjanya. Ia pun menghampiri, Yudha yang sedang sibuk membagikan brosur tersebut.
Bahkan tanpa sadar karena terus menunduk sambil melihat sisa brosur, ia juga akan memberikan satu brosur pada, Meysa. Akan tetapi pada saat Meysa melipat kedua tangannya di satu sisi ke ketiak kanan dan satu sisi ke ketiak kiri tanpa mau menerima brosur tersebut, membuat Yudha pun menengadahkan kepalanya melihat ke arah wanita yang ada di hadapannya.
Awalnya, ia pikir Meysa adalah salah satu pelanggan dari expedisi milik Meysa. Malah ternyata, wanita itu adalah Meysa sendiri.
"Tidak punya etika dan sopan santun sama sekali. Ceritanya ingin menyerobot semua para pelangganku, begitu kan? tidak punya inisiatif sendiri mencari pelanggan sendiri. Dasar orang tidak tahu malu! setelah apa yang kamu lakukan padaku, masih saja kamu ingin mengganggu lagi dengan seenaknya sendiri masuk kemari hanya untuk membagikan brosurmu itu!" ejek Meysa seraya tersenyum manis.
Saat itu juga Meysa memanggil security, dan memerintahkannya untuk segera mengusir Yudha dari kantor ekspedisinya. Bahkan Meysa mengingatkan pada security, supaya tidak ada lagi kejadian seperti barusan, dan melarang Yudha jika ia datang lagi dengan seenaknya masuk ke dalam kantor ekspedisi.
Meysa tak mengira jika ada beberapa pelanggan yang mengatakan sesuatu tentang hal itu, pada saat mereka sempat melihat Meysa bersitegang dengan Yudha.
"Mbak Meysa, nggak usah khawatir. Kami tidak akan tergoda dengan sebuah ekspedisi abal-abal yang baru berdiri. Walaupun memakai promo harga murah, kami akan tetap setia memilih ekspedisi dari tempat ini untuk pengiriman segala jenis barang yang setiap kali kami kirimkan baik ke luar negeri maupun dalam negeri."
__ADS_1
"Iya Mbak Meysa, apalagi kami sudah tahu siapa orang yang ada di hadapan kami ini. Dia adalah seorang pria yang tidak punya malu sama sekali."
"Maaf ya, Mbak Meysa. Bukan kami ingin membuka luka lama anda, tetapi kami hanya ingin membuat Mbak tenang saja. Kami tahu kok tentang kasus yang menimpa pada mantan suami Mbak ini. Di mana dia telah melakukan perselingkuhan dengan ibu kandung Mbak sendiri, yang kabarnya sudah menyebar luas di kota ini."
"Walaupun Mbak Meysa, tidak mengatakan tentang keburukan mantan suami dan ibu kandung Mbak sendiri kepada orang-orang, tetapi kami semua sudah mengetahuinya dari mulut ke mulut."
"Intinya kami akan tetap setia menjadi pelanggan Mbak Meysa. Kami sama sekali tidak akan tergoda dengan promo harga murah yang ditawarkan oleh mantan suami Mbak. Kami malah merasa jijik dengannya."
Mendengar apa yang dikatakan oleh para pelanggan, Meysa merasa terharu dengan kesetiaan mereka.
"Ya ampun... Alhamdulillah jika begitu. Terima kasih untuk semuanya, bapak-Ibu-Mbak yang sudah setia berlangganan jasa ekspedisi saya. Doa yang terbaik untuk kalian semua," ucap Meysa dengan mata berkaca-kaca.
"Dasar semuanya lebay! kalian semua nggak usah munafik deh, paling juga nanti kalian akan datang ke tempatku untuk mengirimkan segala barang kalian dengan jasa ekspedisi ku. Apalagi harga yang aku tawarkan cukup murah."
Setelah mengatakan akan hal itu, Yudha berlalu pergi. Semua pelanggan jasa ekspedisi di tempat Meysa mengumpat sikap Yudha dan merobek-robek brosur yang sempat mereka terima.
Pada awalnya mereka pikir itu apa, ternyata sebuah brosur penawaran jasa expedisi dengan promo murah dan diskon lima puluh persen bagi siapa saja yang mengirimkan barang lewat kantor, Yudha.
Yudha melangkah penuh dengan rasa kekesalan yang teramat sangat, setelah mendapat umpatan dan cacian dari para pelanggan jasa ekspedisi yang ada di kantor, Meysa.
__ADS_1
"Gayanya pada sok kaya! aku yakin setelah menerima brosur dariku, cepat atau lambat mereka akan berpindah ke tempat jasa ekspedisi yang aku dirikan, aku pastikan hal itu akan terjadi. Buktinya saja tadi mereka semua tidak ada yang menolak pada saat aku berikan brosur," batinnya kesal.