Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Tidak Ada Jeranya


__ADS_3

Selepas kepergian Yudha dari kantor ekspedisi Meysa, datanglah Yosep. Seperti biasa, Yosep pasti akan sesekali menjenguk istrinya yang sedang hamil muda, karena ia ingin selalu melihat kondisi istrinya setiap saat. Ia sempat melihat kerumunan para pelanggan yang mengumpat sambil meremas brosur, membuat dirinya penasaran tentang apa yang telah terjadi di kantor ekspedisi istrinya tersebut.


Yosep tidak menanyakan rasa penasarannya kepada salah satu pelanggan yang ada di jasa ekspedisi milik, Meysa. Tetapi justru ia segera bergegas mempercepat langkahnya menuju ke ruang kerja istrinya untuk menanyakan rasa penasarannya tersebut.


"Sayang, apakah ada sesuatu yang telah terjadi di sini?"


Yosep langsung duduk di hadapan istrinya yang sedang asik ngemil mangga muda.


"Iya, mas. Si tukang selingkuh baru saja dari sini."


Meysa pun menunjukkan rekaman video CCTV dimana barusan ada Yudha di kantor Expedisi tersebut. Ia dengan seksama melihat rekaman video CCTV tersebut.


"Dia membagikan apa sih, sayang? suaranya kurang jelas jadi aku belum paham."


Yosep berusaha mempertajam pendengarannya supaya ia bisa lebih jelas tahu apa yang Yudha lakukan di kantor istrinya tersebut. Akan tetapi tidak bisa terdengar dengan jelas juga. Hingga ia meminta Meysa untuk bercerita sejenak.


Meysa menceritakan bahwa Yudha membagikan brosur untuk pengiriman barang melalui jasa ekspedisi yang Yudha dirikan sendiri. Yudha sama sekali tidak punya inisiatif sendiri untuk mencari pelanggan, tetapi ia ingin menyerobot semua pelanggan milik, Meysa.


Yosep yang mendengarkan penjelasan dari istrinya merasa heran dengan sikap Yudha. Ia pun sesekali menggelengkan kepalanya, seraya berdecak heran.


"Astaga.. dasar laki-laki tidak tahu malu! bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu di sini. Jika saja tadi aku datang lebih awal, pasti sudah aku omelin dia habis-habisan!" ucap Yosep kesal.

__ADS_1


"Mas Yosep, nggak usah kesal seperti itu. Aku saja yang mempunyai kantor ini biasa saja. Hanya saja tadi aku sempat menegurnya supaya tidak datang kemari karena dia mengganggu aktivitas para pegawaiku. Bahkan ada beberapa pelangganku yang mengumpat dirinya, tetapi ia sama sekali tidak punya rasa malu, malah mengumpat balik kepada para pelangganku. Dasar orang aneh."


Meysa terus aja asik ngobrol dengan suaminya, sambil sesekali melahap buah mangga mudanya.


"Jadi dia sengaja mendirikan usaha yang sama denganmu, sayang? biar nanti aku tegur dia! aku datangi dia supaya dia membuka usaha yang lain saja!" ucap Yosep kesal.


"Nggak usah seperti itu, mas. Rezeki itu tidak akan ke mana dan tidak akan tertukar. Walaupun dia membuka usaha yang mirip denganku dan bahkan dia membuat sebuah promo diskon lima puluh persen untuk setiap pengiriman barang, tetapi aku yakin kok usahaku ini tidak akan terganggu dengan adanya usaha Yudha yang mirip dengan usahaku."


"Usahaku tidak akan bangkrut karena dirinya, Mas. Aku sangat yakin itu, jadi tak perlulah kamu memusingkan tentang hal ini. Biarkan saja dia bertindak semau dia, sesuka dia. Justru aku ingin melihat sampai seberapa dia mampu dalam mendirikan usaha barunya yang mirip dengan usahaku ini. Apakah memang dia bisa menyaingiku atau tidak? kita cukup duduk manis saja menontonnya. Tak usah lah sampai menegurnya apa lagi sampai mengancamnya untuk membuka usaha yang tidak sama denganku."


"Sebaiknya Mas Yosep fokus saja dengan urusan perusahaan almarhum ayahku dan menekuni profesi pengacara, mas. Aku juga akan fokus dengan urusanku sendiri, Mas."


Begitu panjang lebar Meysa memberikan suatu nasehat pada suaminya, supaya tidak menegur Yudha yang telah mendirikan usaha yang sama dengan dirinya. Meysa juga mengatakan jika semua orang marah karena usaha mereka sama. Lantas tidak akan ada yang namanya pasar.


Yosep tersenyum malu mendengar apa yang barusan di katakan oleh Meysa. Apa yang di katakannya memang ada benarnya. Di pasar atau di pusat perbelanjaan yang lain seperti mall, banyak sekali para pedagang yang barang jualannya sama. Tetapi mereka tetap akur tidak ada pertikaian sama sekali.


"Sayang, terima kasih ya. Kamu sudah memberikan nasehat padaku, jika tidak pasti aku sudah nekad menemui Yudha sekarang juga dech," ucap Yosep.


*******


Esok harinya, Yudha terlihat kesal karena usahanya belum ada satupun yang datang. Padahal dia sudah mengajak beberapa pemuda yang pengangguran untuk turut serta menjadi para pegawainya.

__ADS_1


"Mas Yudha, saya mundur saja dch. Dari pagi hingga siang tidak ada orang yang mau kirim barang. Tahu seperti ini saya tetap menjadi tukang parkir saja, sudah jelas mendapatkan uang."


Satu pemuda segera beranjak pergi tanpa menunggu jawaban dari Yudha. Kemudian di susul oleh beberapa pemuda yang lainya.


Satu persatu mundur dari usaha baru Yudha. Hingga kini sepi hanya ada Yudha seorang. Ia pun marah-marah sendiri.


"Kurang ajar! pasti ini semua ulah, Meysa! tidak mungkin akan terjadi hal seperti ini, jika Meysa tak berbuat apa pun! padahal aku sudah pasang promosi harga murah, masa iya tidak ada satupun orang yang mau memakai jasa ekspedisiku ini?" batin Yudha kesal.


Yudha benar-benar kesal, padahal ia sudah habiskan banyak uang untuk mendirikan kantor jasa ekspedisi seperti yang Meysa dirikan saat ini.


Yudha tidak bisa lagi menahan rasa amarahnya, ia pun segera pergi ke kantor expedisi Meysa kembali. Ia tidak ingat jika waktu itu Meysa telah meminta pada security untuk melarang Yudha masuk jika ia datang kembali.


Hingga pada saat Yudha datang, ia pun sama sekali tidak di perbolehkan masuk oleh security. Walaupun ia terus saja memberontak memaksa untuk masuk ke dalam kantor ekspedisi milik Meysa, tetapi dua security menahannya.


"Lepaskan! biarkan aku masuk barang sejenak! karena aku ingin menemui mantan istriku yang kurang ajar itu! heh, Meysa! keluar kamu! aku tahu semua ini karena ulahmu! aku yakin kamu dendam padaku karena aku telah mencampakkan dirimu!"


Yudha terus saja berteriak di depan pintu gerbang kantor expedisi milik Meysa. Hal ini membuat orang-orang yang ada di dalam kantor baik para pelanggan ataupun para pegawainya merasa terganggu. Hingga ada salah satu pegawai memberanikan diri menghadap Meysa.


"Tok tok tok tok"


Sang pegawainya mengetuk pintu ruang kerja, Meysa.

__ADS_1


"Masuk."


Setelah mendengar perintah untuk masuk, si pegawai tersebut lekas masuk. Ia pun menceritakan apa yang sedang terjadi di luar pintu gerbang kantor. Karena Meysa sama sekali tidak tahu, ruang kerjanya kedap suara hingga ia tidak tahu apa yang telah terjadi di luar sana.


__ADS_2