
Pada pagi hari yang cerah, Meysa sedang merasakan suatu kebahagiaan. Karena usahanya semakin hari semakin ramai saja. Serta karir Yosep juga semakin berkembang. Banyak yang menggunakan jasa pengacara dirinya.
Untuk mengucap rasa syukur dan sedikit menyenangkan semua pegawainya. Ia pun memutuskan untuk memberikan sedikit uang lelah atau bonus untuk semua pegawainya. Juga khusus untuk siang itu, ia akan memberikan makan siang cuma-cuma untuk para pegawainya.
Semua sepakat untuk makan siang nasi Padang. Hingga pagi itu, ia pun meminta salah satu asisten pribadinya untuk memesan nasi Padang dalam jumlah yang besar di warung nasi padang milik Bu Hesty.
"Nin, aku ikut dech. Aku juga ingin melihat lauk di warung nasi Padang apa saja. Karena aku juga ingin memesan untukku dan suami," ucap Meysa sumringah.
Tetapi Nina sang asisten pribadinya, memberikan saran. Alangkah lebih baiknya dan lebih nyaman jika Meysa makan di warungnya saja bersama dengan suaminya. Saran yang bagus tersebut tidaklah di sia-siakan oleh, Meysa.
Dia pun segera menelepon Yoseph untuk mengajaknya makan nasi Padang. Sementara Meysa membiarkan Nona untuk segera ke warung nasi Padang.
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel Yoseph. Ia pun segera mengangkatnya.
"Hallo, sayang. Aku sedang bersiap-siap akan segera ke kantormu."
"Maaf ya mas, aku mengganggu sebentar. Aku hanya ingin mengajakmu malam nasi Padang. Kamu mau nggak? kebetulan sudah lama sekali aku tidak malam nasi Padang, dan hari ini aku tiba-tiba ingin sekali makan siang nasi Padang."
"Apapun makanannya, aku mau sayang. Yang terpenting selalu bersamamu."
Demikianlah pasangan suami istri Meysa dan Yosep ini. Mereka selalu saja romantis seperti ini. Yosep benar-benar suami idaman para wanita.
Sikapnya yang lemah lembut dan sangat penyabar, serta perhatiannya yang sangat luar biasa pada keluarganya terutama pada istrinya.
Dia tidak pernah menyia-nyiakan waktu di sela bekerjanya hanya untuk sekedar makan siang bersama. Dari sebelum menikah hingga kini di karuniai satu anak, selalu saja mereka habiskan makan siang bersama.
__ADS_1
Merambah kuliner Nusantara yang ada di kota tersebut.
Setelah mendapatkan telpon dari Meysa, Yosep segera melangkah ke tempat parkiran mobilnya. Dan ia pun segera melanjukan mobilnya menuju ke kantor ekspedisi milik istrinya.
Kebetulan jarak tidak terlalu jauh dari kantornya, hingga tak butuh waktu yang lama. Ia pun sudah sampai. Dan segera melangkah ke ruang kerja, Meysa.
"Sayang, yuk kita makan sekarang. Maaf ya, aku terlalu lama ya?" Yosep menghampiri Meysa.
Mereka pun berjalan beriringan keluar dari ruang kerja Meysa dengan Yosep merangkul mesra istrinya tersebut.
"Seperti orang ngidam saja, sayang. Tiba-tiba kamu ingin makan nasi Padang?" goda Yosep.
"Hem, bisa jadi mas. Bagaimana kalau ternyata aku hamil lagi, sedangkan Nando baru berusia satu tahun?"
Yosep malah terkekeh mendengar apa yang barusan di katakan oleh Meysa. Ia justru senang jika Meysa hamil lagi. Bahkan ia mengharapkan memiliki banyak anak dari, Meysa.
"Alhamdulillah, jika kamu memang hamil lagi sayang. Memangnya sudah periksa? kalau belum nanti setelah kita makan siang periksa ya, sayang? aku sama sekali tidak bermasalah jika kamu hamil lagi. Bukankah sudah aku sering katakan jika aku ingin punya banyak anak," ucap Yosep menarik turunkan alisnya.
Meysa hanya melirik seraya menarik napas panjang. Memang seperti itu tabiat Yosep yang suka sekali menggoda Meysa. Ia tidak pernah marah-marah, jika ada suatu masalah pasti ia selesaikan dengan pikiran tenang. Inilah yang membuat Meysa semakin hari semakin cinta pada Yosep.
Di dalam sujudnya, ia selalu mengucapkan rasa syukur pada Allah atas anugerah terindah yang diberikan olehNya. Menurut Meysa, Yosep adalah anugerah terindah dalam kehidupan dirinya.
Saat itu juga, mereka telah sampai di warung nasi padang. Dan segera memesan dua porsi, dengan lauk yang mereka suka. Akan tetapi baru saja mereka duduk, di kejutkan dengan seseorang yang melintas lewat.
"Sayang, bukankah itu ibumu? jadi dia sekarang ini bekerja di tempat ini?" bisik Yosep melirik ke arah istrinya.
Meysa juga sudah melihat ibunya, hanya ibunya sama sekali tidak melihat kedatangan Meysa dan Yosep. Ke ia sedang sibuk mengurus pesanan dari kantor Meysa.
__ADS_1
"Mas, kita pergi saja dari sini yuk? biar kita membeli nasi Padang di tempat lain saja."
Belum juga Yosep berkata, Meysa telah bangkit berdiri dan segera berlalu pergi dari warung nasi padang milik Bu Hesty tersebut.
Sementara Yosep meminta maaf pada pelayan dan mengatakan jika pesanannya tidak jadi. Untung saja, belum di buatkan. Hingga pelayanan tidak kesal terhadap Yosep dan Meysa..
"Astaga, itu bukannya Meysa?" batin Ibu Ida yang baru melihat Meysa di pintu keluar warung tersebut.
Tetapi ia sama sekali tidak berani untuk menyapa anaknya, karena ia tahu pasti Meysa akan menolaknya secara mentah-mentah. Hingga ia hanya bengong sejenak memandang Meysa dengan mata berkaca-kaca.
Setelah itu ia baru pergi pada saat melihat Yosep merangkul Meysa dan mengajaknya melangkah.
Hati Bu Ida begitu teriris bagai tersayat sembilu. Hal ini bisa di lihat oleh Bu Hesty yang kebetulan sedang ada di tempat.
Jika saja ia di izinkan suaminya untuk mendamaikan Bu Ida dengan Meysa. Pasti tadi ia akan menghampiri Meysa dan memintanya duduk kembali. Tetapi ia sama sekali tak ingin melanggar apa yang sudah menjadi keputusan suaminya.
"Ida, aku minta maaf ya. Sebenarnya aku kasihan juga melihatmu seperti ini. Tetapi apa boleh buat, aku sama sekali tidak di izinkan untuk membantumu mendamaikan dirimu dengan Meysa," batin Bu Hesty.
Dia pun menghampiri Bu Ida dan mengalihkan perhatiannya terhadap kesedihannya pada Meysa dengan bertanya banyak hal tentang warung nasi padangnya itu.
Hingga Bu Ida, terlihat sudah membaik. Dan matanya sudah tidak berkaca-kaca kembali.
Sementara saat ini, Meysa terus saja murung. Walaupun Yosep sudah mengajaknya ke cabang warung nasi padang milik Bu Hesty. Yang kebetulan letaknya tidak begitu jauh dari cabang yang barusan mereka singgahi.
"Sayang, kenapa kamu diam saja? ayok makanlah, nanti keburu dingin tidak enak. Bukankah kamu lebih suka nasi Padang yang masih hangat? setelah itu nanti kita ke dokter untuk memeriksa apakah kamu hamil atau tidak," ucap Yosep menatap sendu istrinya.
"Iya, mas."
__ADS_1
Saat itu juga Meysa tidak begitu bersemangat karena pikirannya tertuju pada Bu Ida. Ia sedang berpikir bagaimana bisa ibunya kerja menjadi pelayan nasi Padang.