
Mendengar syarat dari Meysa, wanita itu pun menyanggupinya. Dan saat itu juga, Yosep melangkah ke ruang kerjanya untuk segera membuat surat perjanjian hitam di atas putih. Karena kebetulan Yosep adalah seorang pengacara, hingga ia sudah terbiasa dengan hal seperti itu.
Dan ia pun tak membutuhkan waktu lama untuk bisa membuat surat perjanjian tersebut. Segala prasarana telah ada, bahkan sudah ada materai. Hingga tak perlu bersusah payah mencarinya.
"Sayang, apakah seperti ini kata-katanya? coba kamu baca terlebih dahulu, jika ada yang kurang kamu beritahu aku, untukku perbaiki dulu."
Yosep memberikan surat perjanjian itu pada Meysa. Dan sejenak Meysa membacanya, kemudian ia menyunggingkan senyuman seraya mengacungkan kedua ibu jarinya pada, Yosep.
"Thanks, Pak Pengacara. Ini sudah ok kok."
"Kamu baca dulu, apakah kamu setuju dengan isi perjanjian ini. Jika tidak, aku tidak akan memberikan Aldo padamu."
Meysa memberikan surat perjanjian itu pada wanita di hadapannya untuk ia baca terlebih dahulu sebelum ia menanda tanganinya.
Sejenak wanita itu membacanya, dan menyetujuinya.
"Baiklah, Non Meysa. Saya sudah baca surat ini, dan saya setuju dengan konsekuensinya jika saya melanggar kesepakatan kita."
Saat itu juga baik Meysa dan wanita itu menandatangani surat tersebut. Bahkan Meysa meminta nomor telepon dan alamat rumah wanita itu. Supaya ia gampang untuk memantau tumbuh kembang, Aldo. Karena ia tidak akan melepas begitu saja, Aldo.
"Alhamdulillah.. semuanya sudah Ok. Sebentar ya, aku copi dulu surat ini. Yang asli untuk kita dan copiannya untuk ibunya Aldo."
Yosep membawa kembali surat tersebut ke ruang kerjanya untuk ia buat beberapa copiannya. Dan bahkan ia melaminating dan menyimpan yang aslinya.
__ADS_1
Setelah berhasil mengcopi surat tersebut, Yosep kembali ke ruang tamu dan memberikan beberapa copian surat itu pada wanita itu.
"Ingat ya, surat ini jangan kamu anggap enteng loh. Kamu harus benar-benar menjadi ibu yang baik buat Aldo. Apalagi anakmu ini anak lelaki yang kelak bisa sepenuhnya menjaga dirimu. Jadi jangan kamu sia-siakan dirinya begitu saja. Dan satu hal lagi, jangan pernah sia-siakan hidupmu untuk suatu ajang balas dendam."
"Ingat pesan aku, supaya kamu tak usah memikirkan bagaimana caranya kamu bisa membalas semua rasa sakit hati dan derita yang telah Yudha berikan padamu tempo dulu. Itu hanya sia-sia saja, dan hanya membuang waktumu saja. Biarkan Allah yang bekerja untuk ini."
"Tugasmu hanya satu mencari nafkah untuk orang-orang yang kamu sayangi. Dan merawat Aldo dengan baik. Karena jika kamu berniat balas dendam, harus pikirkan dulu sebab dan akibatnya jangan langsung bertindak."
"Kamu sudah melakukan suatu kesalahan dan jangan sampai melakukan kesalahan-kesalahan yang lain. Intinya jika kamu akan melakukan suatu hal, berpikir terlebih dahulu. Jika dendammu terbalas tetapi dengan cara jahat dan kamu tertangkap polisi. Lantas siapa yang akan merawat anakmu dan siapa yang akan mencari nafkah untuk ibu dan adikmu."
"Jangan sia-siakan waktu dan kesempatan yang Allah berikan padamu. Jangan sampai karena suatu balas dendam, kamu meringkuk di dalam penjara."
"Intinya pembalasan itu adalah hak Allah. Dan setiap perbuatan kita entah itu jahat atau baik, sebiji sawi pun akan ada balasannya. Apa yang kita tanam itu yang akan kita tuai."
Meysa sengaja panjang lebar menasehati wanita yang ada di hadapannya tersebut. Karena ia tak ingin kelak Aldo merana jika ibunya sibuk dengan balas dendamnya saja.
Meysa memicingkan alisnya pada saat di katai seperti seorang cenayang," apa maksudmu, aku nggak mengerti dech?"
"Non Meysa, padahal dari awal aku memang ingin membalas dendam pada Mas Yudha dengan apa yang telah ia perbuat padaku tempo dulu. Hingga aku hidup sangat menderita dan harus terpisah dari anak. Tetapi setelah barusan Non Meysa memberiku banyak sekali nasehat. Aku jadi sadar, jika memang tidak perlu bagiku untuk membalas dendam pada, Mas Yudha."
"Aku akan fokus menata hidupku kembali. Dan tak akan aku mengecewakan kepercayaan Non Meysa padaku."
Air mata wanita itu tertumpah lagi, hingga Meysa memberinya nasehat lagi.
__ADS_1
"Sudah, nggak usah menangis lagi. Kamu ini seorang ibu, harus tegar nggak boleh lemah apa lagi cengeng," goda Meysa terkekeh membuat wanita itu tersipu malu.
Setelah cukup lama bercengkrama, akhirnya Meysa pun memberikan Aldo pada ibu kandungnya. Untung saja pada saat di berikan, Aldo dalam kondisi tertidur pulas. Jika tidak, pasti ia akan menangis histeris dan tidak akan mau di bawa pergi oleh ibu kandungnya.
Saat itu juga wanita itu membawa pergi Aldo. Meysa sempat menitikkan air matanya, karena ia begitu kehilangan Aldo. Karena Meysa sudah menganggap Aldo seperti anak kandungnya sendiri. Tetapi ia tidak boleh egois dengan tidak mengizinkan ibu kandungnya membawa pulang Aldo.
Yosep bisa mengerti kesedihan yang saat ini sedang di alami oleh, Meysa. Ia pun merangkul istrinya dan sesekali mengusap pundaknya.
"Sayang, sudah jangan menangis terus. Apa kamu sudah lupa dengan nasehatmu sendiri pada Ibu kandung, Aldo. Jika sebagai seorang ibu tidak boleh cengeng, harus tegar dan kuat tidak boleh lemah," goda Yosep terkekeh seraya mengusap air mata Meysa dengan ibu jarinya, lantas ia memeluk istrinya itu dengan penuh kasih.
Sementara wanita itu pulang dengan rasa bahagia karena telah berhasil bertemu dan membawa kembali anak kandungnya.
"Sayang, Mamah janji tidak akan membuang dirimu lagi. Mamah akan merawat dan memberikan pendidikan yang terbaik untuk dirimu kelak. Mamah akan berjuang untuk masa depanmu. Maafkan mamah ya, nak. Yang dulu bersalah padamu dengan membuang mu."
"Alhamdulillah ya Allah, aku masih di beri kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku ini. Dan aku juga sangat bersyukur ternyata anakku di rawat oleh orang yang sangat baik seperti, Non Meysa."
"Aku tidak akan membuat kecewa Non Meysa. Aku akan buktikan padanya, jika aku layak menjadi seorang ibu bagi anakku ini."
Wanita ini pulang kerumah dengan naik taxi on line. Hasil jerih payahnya bekerja menjadi TKW di Hongkong, ia telah gunakan untuk membuka warung sembako bagi ibunya, tepat di samping rumahnya. Ia bangun warung sembako.
Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia membuka jasa laundry dan juga warung kopi. Karena memang rumahnya dekat dengan terminal bus.
Hingga sangat memungkinkan bagi dirinya untuk mencari rezeki tanpa harus pergi jauh-jauh lagi.
__ADS_1
Saat sampai di rumah, ibunya dan adiknya menyambut kepulangannya dengan sangat senang. Apa lagi pada saat melihat seorang anak lelaki yang sedang tertidur pulas ada di dalam dekapannya.
Wanita ini meletakkan Aldo di dalam kamarnya.