Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Merutuki Diri Sendiri


__ADS_3

Yudha kembali ke panti jompo dengan wajah murungnya. Ia benar-benar nelangsa, di saat dirinya benar-benar ingin merubah menjadi lebih baik, malah ada saja yang yang membuat dirinya urung.


"Nasib-nasib, mungkin memang sudah nasib diri ini untuk seperti ini. Tidak bisa meminta maaf pada para wanita yang telah aku sakiti selama ini," batinnya sedih.


"Entahlah, aku harus bagaimana lagi. Apakah memang aku harus seperti ini? tak usah meminta maaf satu persatu pada orang-orang yang telah aku sakiti?" batinnya lagi.


Terus saja menggerutu di dalam hat tiada hentinya. Ia merasakan kini hidupnya kesepian, tidak ada sanak saudara dan orang yang di cinta ataupun mencintai dirinya.


Yudha duduk di teras halaman panti jompo, sesekali matanya tak sadar menatap ke arah rumah, Ryan. Dimana saat ini Ryan sedang asik bercanda ria dengan baby twins dan istrinya.


Mendadak ia membayangkan dirinya yang sedang ada di posisi Ryan. Yudha senyam senyum sendiri, dan senyum itu mendadak musnah begitu saja.

__ADS_1


"Sialan, kenapa aku seperti ini? lama-lama aku bisa gila karena terlalu banyak berhayal."


Yudha mengusap wajahnya dengan kasar seraya berulang-ulang.


Dia pun masuk ke dalam rumah panti, karena ia tak ingin berlarut dalam kesedihan ketika melihat kebahagiaan Ryan bersama istri dan dua anaknya yang kembar dan masih balita. Ia begitu ingin punya kekuatan yang utuh seperti Ryan.


"Hem, dulu aku baru membina rumah tangga dengan Meysa. Baru beberapa hari tetapi aku sudah bermain api dengan selingkuh dengan Bu Ida. Kini apa yang aku dapatkan? tidak ada sama sekali."


"Justru kini aku merana kesepian seperti ini. Sedih ya, kecewa sangat luar biasa. Tetapi semua ini karena perbuatanku sendiri."


"Yang lebih aku heran, kenapa aku bisa selingkuh dengan ibu mertuaku sendiri. Sudah tua, tetapi kenapa aku selalu saja bersedia jika di ajak begituan sama, Bu Ida."

__ADS_1


Terus saja Yudha merutuki diri sendiri dengan apa yang ia lakukan di masa lalu dan berakibat di masa depan. Kini hancur sudah segalanya. Tidak ada lagi kesempatan untuk dirinya mendapatkan kebahagiaan.


"Sepertinya sudah tidak bada lagi wanita yang sudi menjadi pendamping hidupku. Aku yakin selamanya aku akan hidup seperti ini. Hanya seorang diri dan selalu sendiri. Bahkan aku akan menjadi salah satu penunggu di panti jompo khususnya di paviliun para opa-opa," batinnya terus saja menggerutu.


Di waktu luang, Yudha kerap kali di kamar atau di paviliun para opa. Dari pada merasa kesepian, Yudha lebih suka bercengkrama dengan para manula khususnya para opa-opa.


Dia melakukan hal itu supaya dirinya bisa menghibur diri sendiri. Karena siapa lagi jika bukan dirinya sendiri yang berusaha menghibur kegelisahan diri.


******


Malam menjelang, Yudha membantu para perawat lelaki untuk membagikan makan malam kepada semua opa-opa. Dan tak sengaja pandangan matanya ke arah paviliun para Oma.

__ADS_1


Dimana ada beberapa wanitamida yang merawat para Oma, juga sedang membagikan makan malam. Ia terpaku menatap ke salah satu wanita muda yang sedari tadi juga menatap dirinya dengan senyuman manisnya.


"Siapa wanita muda yang tersenyum ke arahku? sepertinya ia baru bekerja di sini, karena aku baru pernah melihat dirinya," batin Yudha seraya terus menatap ke arah wanita muda itu tanpa lupa tersenyum kepadanya.


__ADS_2