Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Terlalu Berani


__ADS_3

Sejenak Yudha terdiam, ia seolah sedang berpikir apakah akan menerima pekerjaan itu atau tidak? tetapi jika ia tidak menerimanya, lantas mau kerja apa dan cari kerja dimana lagi?


Tetapi jika ia menerimanya, mau di taruh dimana mukanya? karena ia bekerja hanya sebagai tukang cuci piring dan perabot. Yudha juga masih penasaran dengan kehidupan, Dewi. Bagaimana dirinya bisa sesukses sekarang ini.


"Silahkan pergi dari ruanganku, Mas Yudha. Jika kamu hanya menyita waktuku saja dengan berdiam diri tanpa ada satu keputusan yang pasti!"


Mendengar apa yang barusan di katakam oleh Dewi, membuat Yudha terhenyak dari lamunannya.


"Astaga, Dewi. Sabar sedikit kenapa? aku juga sedang berpikir kok," ucap Yudha manyun.


"Aku sudah sangat bersabar, Mas Yudha. Tetapi kamunya saja yang terlalu lama dalam berpikir. Jika tidak mau menerima tawaran dariku ya sudah nggak apa-apa, karena masih banyak orang yang mau bekerja kok," ucap ketus Dewi.


Pada akhirnya, Yudha pun mau menerima tawaran kerja tersebut. Ia sudah tidak berpikir lagi, ia menghilangkam rasa gengsi dan malunya. Karena hidup itu butuh uang, bukan butuh gengsi. Jika terus gengsi dengan sebuah pekerjaan, ia akan selamanya menganggur.


Dewi tersenyum sinis pada saat Yudha menerima tawaran pekerjaan tersebut. Dan mulai detik itu juga, Yudha pun bekerja di restoran mewah milik Dewi sebagai tukang cuci piring.


Ia kaget pada saat berada di tempat khusus mencuci piring dan perabot.


"Astaga....ya ampun! cucian piring sebegini banyaknya? perabotan juga menumpuk? aku sampai bingung harus apa yang aku dahulula cuci ya? ist ist ist.. menyesakkan dada pekerjaan baruku ini. Semoga saja tanganku ini yang sukanya untuk membelai pada wanita, tidak rusak karena untuk membelai piring-piring yang penuh sabun. Semoga tangan ini tidak alergi dengan sabun."


Yudha belum juga mulai mencuci, ia malah bengong pada saat melihat tumpukan piring yang begitu banyaknya. Sampai pada akhirnya, satu rekan kerjanya yang sudah cukup ahli dalam hal cuci piring memanggilnya untuk lekas mencuci piringnya terlebih dahulu karena para pembeli sedang mengantri di restoran.


"Eh, mas! buruan bantu aku mencuci piringnya dulu! nggak usah bingung seperti itu, aku tahu pasti kamu bingung apa yang di dahulukan di cuci bukan? dulu aku juga pernah sepertimu, tetapi langsung di ajarin. Hingga kini aku sudah apal."

__ADS_1


Yudha segera membantu sang pria paruh baya yang sedang mencuci piring. Gerakan tangannya begitu cekatan, hingga hanya dalam waktu sekejap saja pria paruh baya tersebut mampu mencuci ribuan piring.


"Kamu pikir hanya kamu yang bisa melakukan itu, pak tua? aku juga bisa kok, apa lagi hanya pekerjaan gampang mencuci piring!" batin Yudha sombong.


Dia pun sok pintar, ikut bergaya seperti pria paruh baya yang ada di ruangan itu. Dengan mencoba melemparkan piring ke rak begitu mudahnya. Tetapi alhasil bukannya masuk tepat sasaran ke dalam rak piring. Yang ada beberapa kali piring malah pecah jatuh berserakan.


"Aaaduh.....kamu nggak usah ikut-ikutan seperti saya! kamu kan baru masuk hari ini, jadi belum bisa sama sekali! nanti yang ada semua piring habis karena pecah!" tegur pria paruh baya tersebut seraya menepuk jidatnya sendiri.


"Cepat kamu bersihkan pecahan piring-piring itu! sebelum suami, Nona Dewi datang. Jika suami, Nona Dewi datang. Habislah kita, bisa di pecat saat ini juga!" perintah pria paruh baya tersebut.


Di dalam hati Yudha, ada rasa kecewa pada saat mendengar apa yang barusan di katakan oleh pria paruh baya tersebut.


"Yaaa....putus sudah harapanku untuk bisa meluluhkan hati Dewi lagi. Ternyata dia saat ini sudah bersuami lagi, mungkin saja ini restoran milik suaminya. Pantas saja, ia langsung kaya! ternyata yang kaya adalah suaminya," batin Yudha.


Dan pada saat Yudha baru saja mulai membersihkan pecahan piring tesebut. Dari arah dalam terdengar langkah kaki yang sedang mendekat. Dan pada saat sudah dekat, orang tersebut begitu marah melihat pecahan piring yang berserakan di lantai.


"Astaga.....siapa yang telah melakukan hal ini? berapa piring yang telah pecah?" bentaknya seraya berkacak pinggang.


"Bu-bukan saya, Tuan Aldi. Tetapi dia yang barusan saja datang kemari. Ia mengikuti cara saya dalam bergaya mencuci piring, tetapi tak bisa hingga akhirnya pecah," ucap pria paruh baya ketakutan.


"Hem, sudah aku duga! jadi kamu pelayan baru yang di katakan istriku barusan? seharusnya kamu tahu diri, jangan sok pintar seperti ini! yang ada aku rugi di buatnya! padahal kamu baru masuk kerja kan? jika setiap hari kamu memecahkan piring, habis dech semua piring mahalku ini!" bentak Aldi suami Dewi.


Yudha mengepalkan tinjunya, ia begitu kesal pada saat mendengar apa yang barusan dikatakan pria tampan yang ada di hadapannya tersebut.

__ADS_1


"Heh, baru cuma piring yang aku pecahkan saja kamu marah-marah seperti itu! padahal istrimu itu adalah mantan istriku!" ucap Yudha lantang.


"Jika kamu tahu, istrimu itu mantanku boleh kamu marah-marah seperti ini padaku!" ejek Yudha.


Aldi merasa kesal dengan Yudha. Yudha begitu berani dalam berkata, padahal ia cuma seorang tukang cuci piring. Inipun baru hari ini ia bekerja.


"Heh, jangan lancang kamu dalam berucap ya? masa iya, istriku yang cantik punya mantan suami gembel seperti dirimu?" ejek Aldi.


'Jika kamu masih ingin bekerja di tempat ini nggak usah banyak bertingkah dan nggak usah belagu seperti tadi! kali ini aku maafkan karena kebetulan restoran memang sedang butuh sekali tukang cuci piring. Sudah lanjutkan pekerjaanmu dan jangan asal dalam berkata lagi. Jangan sampai aku benar-benar emosi dan aku tarik lidahmu itu hingga putus!" bentak Aldi.


"Pak, selalu nasehati dia! dan aku ingin tidak ada lagi piring yang pecah! jika hal itu terjadi, bapak juga akan kena imbasnya!" bentak Aldi pada pria paruh baya.


"Baik, Tuan."


Pada saat Aldi akan berlalu pergi dari ruangan tersebut, tiba-tiba Yudha berkata kembali.


"Heh, orang sombong! aku berkata benar kok, jika Dewi itu mantan istriku. Apa yang harus aku buktikan?"


Mendengar apa yang barusan Yudha katakan lagi, Aldi pun menghentikan langkahnya.


PLAK!


Satu tamparan tepat mendarat di pipi kanan, Yudha.

__ADS_1


"Kamu ingin cari mati! sudah aku katakan nggak usah lancang ya! aku tahu persis siapa itu, Dewi! jika sekali lagi kamu lancang dalam berkata, aku tak segan-segan memecatmu! atau bahkan lebih parah dari itu, yakni aku benar-benar menarik lidahmu itu! paham!" bentak Aldi melotot ke arah Yudha.


__ADS_2