Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Gagal Mendapatkan Maaf


__ADS_3

Wanita itu menghibur ibunya dan mengatakan bahwa semua yang terjadi pada dirinya bukanlah kesalahannya, melainkan kesalahan dirinya sendiri yang telah bodoh dan terlalu percaya pada, Yudha.


"Bu, tak usah menyalahkan diri sendiri terus. Nanti aku tanyakan lagi tentang siapa pemilik rumah yang dulu pada asisten rumah tangga di rumah itu," ucap wanita ini.


"Bukannya kamu bilang bahwa telah bertanya banyak hal padanya asisten rumah tangga itu?" ucap sang ibu.


Si wanita baru ingat jika tadi memang ia telah berkata banyak hal pada asisten rumah tangga. Ia heran sendiri kenapa mendadak pikiran menjadi oleng karena berpikir terlalu keras.


Pada saat dirinya sudah punya rencana balas dendam untuk Yudha. Tiba-tiba ada satu panggilan telepon dari urgent yang mempromosikan dirinya kerja di Hongkong.


Urgent mengatakan jika masa cuti wanita ini di percepat karena ia harus segera kembali ke Hongkong. Tenaganya sangat di butuhkan oleh majikannya. Lagi pula, majikan tuanya terus saja menangis karena ia tak ingin di rawat oleh orang lain.


Hingga dengan sang terpaksa, wanita ini berpamitan pada ibunya untuk segera berangkat kembali ke Hongkong. Walaupun ia masih menyimpan rasa rindu pada ibu dan adiknya. Tapi terpaksa ia harus segera berangkat, jika tidak ia bisa terkena sanksi atau denda.


Sang ibu melepas kepergian wanita ini dengan berat hati, karena baru beberapa hari di rumah sudah harus pergi lagi.


Berbeda situasi di rumah Yudha, dimana ia setiap hari bersenang-senang dengan para wanitanya. Bahkan hingga ia lupa dengan urusan kantor. Lambat laun, kantor menjadi terbengkalai tak terurus.


"Yudha, kamu pikir dulu almarhum suamiku tidak bekerja keras untuk membuat perusahaan menjadi besar? dengan sesuka hatimu bersikap seperti ini? kamu hanya bersenang-senang setiap hari dengan semua pacar-pacarmu! lama-lama bisa hancur berantakan perusahaan!" bentak Ibu Ida

__ADS_1


"Diam kamu, nenek tua! sudah aku katakan supaya tidak usah ikut campur urusan pribadiku! aku tahu kamu harus kan, jaya sentuhan tanganku ini?"


Yudha yang sedang terpengaruh oleh minuman keras berkata meracau rak jelas. Ia bahkan saat ini sedang di temani tidak hanya satu wanita tapi beberapa wanita penghibur.


Bu Ida tak bisa berkata apa-apa lagi, ia bingung harus bagaimana untuk bisa menyelamatkan perusahaan mendiang suaminya karena sudah terlanjur ia ganti hak kepemilikan dengan nama, Yudha.


Bu Ida memutuskan untuk menyambangi kantor expedisi Meysa. Ia sudah tak tahan lagi ingin bertemu dengan anak kandungnya tersebut. Ini kesempatan bagus, karena saat ini Yudha sedang mabuk berat dan bersenang-senang dengan para wanita.


Dia pun mengemasi semua pakaiannya ke dalam koper besar dan lekas pergi dari rumahnya sendiri. Ia sudah nekad karena tak ingin hidup di rumah yang kini menjadi tempat maksiat bagi Yudha.


"Untung saja aku masih punya perhiasan dan sedikit uang hingga aku bisa gunakan untuk transportasi ke kantor expedisi, Meysa. Semoga saja anakku mau menemuiku," batin Bu Ida.


Tak berapa lama, Bu Ida telah sampai di kantor expedisi milik Meysa. Dan ia pun segera ke personalia untuk meminta bertemu dengan, Meysa.


Lidah Meysa tercekat tak bisa berkata, hanya matanya yang berkaca-kaca. Di dalam hatinya, tak ia pungkiri ada rasa bahagia pada saat bertemu dengan ibunya, karena sudah begitu lama tidak bertemu dengannya.


"Meysa, ibu datang kemari karena ingin minta maaf padamu. Untuk segala dosa dan kesalahan ibu selama ini. Ibu sudah menerima semua karma dari perbuatan yang ibu lakukan padamu dulu."


Sejenak Bu Ida menceritakan semua apa yang telah di lakukan Yudha terhadap dirinya. Meysa hanya diam mendengarkan cerita dari ibunya tersebut tanpa berkomentar. Hingga akhirnya Bu Ida berkata kembali.

__ADS_1


"Meysa, apa kamu tidak bisa memaafkan kesalahan ibu? hingga kamu tidak merespon sama sekali permintaan maaf dari ibu?"


Meysa hanya diam kembali, di dalam hatinya memang masih belum bisa memanfaatkan pengkhianatan yang di lakukan oleh ibunya dan Yudha. Melihat Bu Ida, juga membuat teringat kembali kenangan buruk itu.


Pada saat Meysa diam, tiba-tiba pintu ruang kerja di buka oleh seseorang yakni Yosep.


"Heh, kenapa dia ada disini Sayang?"


Yosep juga tak suka melihat kedatangan Ibu Ida.


"Dia datang sendiri kemari, bukan aku yang memintanya datang. Aku jufa tak sudi melihatnya."


DEG...DEG..


Kata-kata Meysa membuat jantung Bu Ida berdegup kencang.


"Ya Allah, berarti Meysa belum bisa memanfaatkan aku. Jika begitu percuma saja aku datang kemari," batinnya sedih dan tiba-tiba bulir bening keluar dari matanya.


Yosep meminta Bu Ida pergi dari ruang kerja Meysa. Sedangkan Meysa hanya diam saja menatap kepergian ibunya. Entah kenapa rasa rindunya yang teramat besar terhalang oleh rasa sakit hatinya tersebut.

__ADS_1


Bu Ida melangkah pergi dengan gontay, dan ia tak lupa mengambil kembali kopernya yang sempat ia titipkan di bagian personalia.


Seperginya Bu Ida, air mata Meysa tak bisa lagi di tahan. Tertumpah begitu derasnya, membuat Yosep merasa iba. ia bisa merasakan kesedihan yang saat ini di rasakan oleh Meysa.


__ADS_2