
"Sayang, sudah ya nggak usah sedih lagi. Jika memang kamu belum bisa memaafkan ibumu ya nggak apa-apa," hibur Yosep.
"Entahlah, mas. Sangat sulit buatku untuk bisa memaafkan apa yang telah ibu lakukan dulu padaku."
Meysa mencoba mengusap air matanya seraya menarik napas panjang.
Perlahan kini ia sudah tidak sedih lagi, di dalam hatinya meminta maaf pada ibunya karena belum bisa memaafkannya.
Sementara saat ini Bu Ida tengah mencari kontrakan yang tak jauh dari kantor expedisi Meysa, ia ingin bisa selalu melihat aktifitas anaknya tersebut.
"Selama aku belum mendapatkan kata maaf dari Meysa. Aku akan selalu menunggu sampai, ia mau memaafkanku," batin Bu Ida.
Pada akhirnya ia pun menemukan kontrakan yang tak cukup besar tetapi tepat di seberang jalan kantor expedisi milik, Meysa.
"Nggak apa-apa aku tinggal di kontrakan sempit ini. Dari pada aku tinggal di rumah mewahku tetapi aku sudah tidak nyaman karena melihat tingkah Yudha yang semakin hari semakin menjadi."
Bu Ida menata semua pakaiannya di dalam almari yang tak begitu besar. Tetapi sejenak ia terdiam bingung memikirkan untuk hari kedepannya seperti apa.
Untuk saat ini ia masih punya uang untuk menyambung hidup. Tetapi entah untuk yang akan datang. Bu Ida sedang memikirkan cara bagaimana supaya dirinya bisa mendapatkan uang untuk menyambung hidupnya. Ia tidak akan mungkin meminta pada, Meysa.
"Pekerjaan apa untuk wanita tua seperti diriku in? ya Allah, aku benar-benar menyesal karena telah membuat kesalahan yang sangat fatal yakni menggoda menantuku sendiri untuk bersedia selingkuh denganku. Kenikmatan sesaat justru membuat semuanya tak karuan."
"jika aku tak melakukan sebuah kesalahan yang fatal, pasti hidupku tidak akan sesusah ini. Minta apa tinggal minta pada, Mesya. Tanpa aku harus bingung untuk bekerja sendiri. Bahkan aku hidup dengan segala kelimpahan. Kini semua harta sudah di berikan pada, Yudha. Dengan bujuk rayu darinya, aku percaya saja dan dengan suka rela menyerahkan semuanya pada, Yudha."
__ADS_1
Terus saja Bu Ida merutuki diri sendiri dengan menyalahkan diri sendiri atas apa yang telah terjadi pada kehidupannya selama ini. Untuk kesekian kalinya, air matanya tertumpah deras begitu saja.
********
Esok menjelang, Bu Ida mulai mencari pekerjaan di sekitar kontrakan. Tetapi semua orang tidak mau menerimanya, walaupun sebenarnya tetangga sekitar membutuhkan jasa cuci setrika.
Pada saat ia mendatangi salah satu rumah warga yang tergolong lumayan mewah. Bu Ida sempat terhenyak kaget, karena ternyata rumah tersebut adalah salah satu rumah dari sahabat baiknya.
"Ida"
"Hesty, jadi ini rumahmu?"
Sejenak Hesty mengajak Bu Ida masuk ke dalam rumahnya. Karena kebetulan mereka sudah lama tidak berkomunikasi sejak Hesty mengganti nomor ponselnya.
Hesty memicing alisnya pada saat melihat kondisi Bu Ida yang terlihat sangat berbeda dari terakhir ia bertemu dengannya. Hesty pun memberanikan diri bertanya," Ida, jika boleh aku tahu. Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu?"
"Astaghfirullah aladzim, Ida. Aku pikir pada saat aku menasehatimu waktu itu, kamu mendengarkanku. Ternyata kamu tetap saja menikah dengan menantumu sendiri? pantas saja semua teman membencimu, karena perbuatanmu itu sungguh tidak bisa di tolerir."
Hesty menghela napas panjang, ia benar-benar tak mengira jika Bu Ida melakukan tindakan di luar nalar. Tetapi ia tidak seperti teman yang lain yang lantas menghakimi tindakan Bu Ida dengan tidak lagi berteman dengannya.
"Hesty, aku minta maaf ya. Waktu dulu aku tidak mendengarkan nasehat darimu, dan aku melangkah sesuai dengan keyakinan diriku sendiri. Aku pikir aku akan bangga dengan mempunyai suami muda," ucap Bu Ida seraya menitikkan air mata.
"Ida-Ida, bangga itu jika yang kamu nikahi bukan suami dari anakmu. Apa lagi anak kandungmu sendiri, dan anak semata wayang pula. Astaga, Ida. Akhirnya seperti ini kan? bahagiamu dari merebut kebahagiaan wanita lain, hanya sesaat saja. Apa lagi kebahagiaan anak kandungmu sendiri."
__ADS_1
"Astaghfirullah aladzim, Allah sangat mengutuk perbuatanmu ini. Pantas saja kini hidupmu seperti ini. Dan Meysa sampai sekarang tak memaafkanmu. Karena perbuatanmu ini memang susah untuk di maafkan."
"Aku saja yang waktu itu mendapatkan cerita darimu benar-benar geram. Tetapi aku mencoba untuk tidak marah padamu, melainkan menasehatimu. Tetapi malah kamu tak mendengarkan nasehat dariku."
Hesty menarik napas panjang, sebenarnya bisa kesal dan kecewa atas sikap sahabat baiknya tersebut. Tetapi ia juga iba melihat kondisinya yang sekarang. Terlihat sangat jauh berbeda dengan waktu itu. Hingga Hesty pun ingin menolong Bu Ida.
Kebetulan Hesty memilki beberapa usaha di bidang kuliner. Dan saat ini ia juga butuh orang lagi. Hesty memilki tgay cabang, warung nasi padang.
Hesty menawarkan pada Bu Ida untuk menjadi salah satu pekerja di warung nasi Padang yang ia kelola.
Bu Ida mendadak sumringah, dan ia menyeka air matanya. Ia pun tanpa berpikir panjang langsung menerima tawaran dari Hesty. Ia sangat nlrga karena sudah bisa mendapatkan pekerjaan.
"Hesty, terima kasih ya atas pertolongan dirimu. Tanpamu entah bagaimana aku bisa mendapatkan uang."
Bu Ida menggenggam jemari Hesty.
"Iya, sama-sama. Tapi ingat ya, kamu harus benar-benar berubah untuk menjadi lebih baik. Aku tak ingin kamu berbuat hal aneh lagi. Gunakan waktumu dengan baik, di sisa umurmu. Kita ini sudah tidak muda lagi dan janganlah menginginkan sesuatu hal yang seperti ana muda sering lakukan," ucap Hesty.
Bu Ida pun berjanji jika ia tidak akan melakukan kesalahan yang fatal lagi. Ia benar-benar akan memperbaiki semua kesalahannya. Hesty menunjukkan saksh satu warung nasi padangnya, yang letaknya tak jauh dari kontrakan Bu Ida.
Hal ini benar-benar mempermudah dirinya. Karena ia tak usah repot-repot mengeluarkan uang untuk biaya transportasi ke tempat kerjanya. Karena warung nasi padang tersebut berjarak dekat dengan rumah kontrakannya.
Setelah cukup lama bercengkrama di rumah Hesty, Bu Ida pun berpamitan pulang. Tetapi sebelum ia pulang, Hesty memberikan banyak makanan supaya Bu Ida tidak repot mencari makan.
__ADS_1
Seperginya Bu Ida, Hesty sempat bergumam sendiri," Ida-Ida, kok bisa kamu berbuat hal seperti itu. Aku pikir apa yang teman-teman ceritakan itu bohong, ternyata memang kamu menikahi menantumu sendiri. Hem jaman sudah edan, orang sudah tua saja seperti ini. Bukannya memperbanyak amal ibadah, tetapi malah memperbanyak maksiat. Astaghfirullah aladzim, kenapa aku jadi memikirkan Ida?"
Hesty melangkah masuk menuju ke dalam rumah.