
Meysa lega karena dirinya sudah berhasil menyerahkan Aldo pada ibu kandungnya. Walaupun awalnya ia merasa berat hati berpisah dengan, Aldo.
Ia kini hanya merawat Nando dan Ananta saja. Walaupun kedua anaknya di bawah asuhan sang baby sitter, tetapi keduanya selalu di pantau terus tumbuh kembangnya oleh, Meysa.
Sang baby Ananta juga selalu di beri ASI, walaupun setelah empat puluh hari nanti, Meysa akan bekerja kembali.
Karena ia tak mungkin meninggalkan beberapa expedisinya yang terbilang sangat ramai. Dan ia tidak mempunyai satu orang kepercayaan yang ia percaya untuk benar-benar menghandle usahanya tersebut.
Meysa juga tak mungkin meminta Yosep untuk menghandle usahanya, karena Yosep juga sudah di sibukkan dengan urusan perusahaan mendiang almarhum ayah Meysa.
"Sayang, apa kamu yakin setelah empat puluh hari akan kembali bekerja? aku nggak tega loh, melihatmu terlalu cape. Apa nggak sebaiknya kamu di rumah saja mengurus baby kita? biar aku mencari orang yang bisa di percaya untuk mengurus usaha expedisimu itu?"
Di sela sarapan, tiba-tiba Yosep mengatakan akan hal itu. Sesuatu yang sedang di resahkan dan di pikirkan oleh, Meysa.
"Hem, suamiku peka juga. Jika sebenarnya aku ingin sekali fokus di rumah saja dengan kedua anakku. Tetapi aku juga tak rela meninggalkan pekerjaanku karena tidak bada satu orang pun yang bisa aku percaya untuk mengurus usahaku."
"Jika aku jual, sayang sekali. Karena usaha ini aku buat dari titik terendah. Di saat alami permasalahan yang sangat pelik, aku harus berjuang dari nol seorang diri. Dan usahaki membuahkan hasil, makanya sayang banget jika aku harus jual usahku ini."
Terus saja Meysa melamun hingga satu kecupan mendarat di kening yang sempat membuatnya kaget dari lamunan.
"Sayang, apa sih yabg kamu lamunkan? coba ceritakan padaku, suamimu ini."
Yosep menarik turunkan alisnya menggoda Meysa.
Meysa menceritakan apa yang memang menjadi kegelisahan dirinya saat ini. Sebenarnya ia setuju dengan saran Yosep, tetapi ia ragu apakah memang orang yang nantinya di percaya mengurus usaha Meysa bisa di percaya. Itu yang saat ini menjadi kegelisahan pada dirinya.
__ADS_1
"Sayang, aku tidak akan asal dalam memilih orang untuk menghandle usaha jasa expedisimu. Kita juga akan menerapkan aturan, dimana jika orang itu bertindak curang akan kita kenai sanksi hukum," ucap Yosep.
"Mas, sebenarnya aku kepikiran ibu....."
Sejenak Meysa tercekat tak meneruskan kata-katanya. Ia pun terdiam begitu saja.
"Sayang, jika di hatimu sudah memaafkan ibu nggak apa-apa. Aku nggak marah sama sekali. Perdamaian lebih baik dari pada permusuhan, dan aku sudah tahu maksudmu."
"Seandainya saja ada ibu, kamu lebih busa fokus dengan karirmu. Dan anak-anak kita selain di asuh oleh baby sitter, ibu yang akan memantau keseharian kinerja para baby sitter. Begitu bukan yang saat ini sedang kamu pikirkan?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Yosep, Meysapun mengangguk pelan.
"Apa yang kamu katakan benar sekali, mas. Tapi aku belum sepenuhnya bisa memaafkan ibu. Jadi susahnya di sini, mas. Ya sudah, atur saja apa yang menurut Mas Yosep benar. Aku akan menuruti semua yang menjadi keputusan darimu," ucap Meysa.
Hingga akhirnya, Yosep pun mulai hari itu juga mencari orang yang sekiranya bisa di percaya untuk menghandle usaha jasa expedisi milik Meysa. Tetapi Meysa juga akan sesekali datang untuk mengeceknya. Ia tidak akan sepenuhnya menggantungkan urusan expedisi pada orang lain.
******
Meysa sudah risgn dari urusan kantor expedisinya, ia pun kini berada di rumah saja untuk memantau kinerja dua baby sitternya. Tetapi ia juga sesekali melihat CCTV yang terpasang di beberapa kantor expedisinya, untuk memantau kinerja semua para karyawannya termasuk dengan asisten pribadinya yang di pilihkan oleh suaminya.
"Hem, rencana awal berubah total. Tadinya aku hanya akan di rumah empat puluh hari saja, tetapi malah untuk selamanya. Nggak apa-apa dech, demi tumbuh kembang anak-anak. Tiada hal yang indah selain mengurus anak-anak,x batin Meysa.
Sementara Yosep juga serius dalam bekerja. Ia kini lebih bersemangat dan bahkan lebih tenang sejak Meysa memutuskan untuk di rumah saja mengurus anak-anaknya.
"Alhamdulillah ya Allah, hidupku kini serasa bertambah indah dan lebih berwarna sejak aku punya istri dan dua orang anak. Apa lagi kalau anakku banyak, hheee lebih ramai dan lebih hangat suasana rumah."
__ADS_1
"Aku benar-benar bahagia dengan kehidupanku yang sekarang ini. Sudah sempurna bagiku. Kini aku tinggal memikirkan mengumpulkan uang yang banyak untuk masa depan anak-anakku."
Yosep bersemangat sekali dalam bekerja. Ia tipe suami yang tanggung jawab dan sayang istri dan anak. Tak pernah berulah sama sekali.
*******
Situasi berbeda dengan Yudha yang semakin hari semakin hidupnya terpuruk tidak bisa berkutik sama sekali. Ia harus menelan cemburu dan iri setiap hari melihat kemesraan antara Dewi dengan suaminya.
"Sialan, kenapa pula aku hanya mengalami hal seperti ini? aku bekerja hanya sebagai tukang cuci piring di restoran mantan istri ku sendiri!"
"Bahkan Dewi sering kali seperti sengaja membuat aku cemburu dengan ia bermesraan di depanku."
Sembari mencuci piring, sembari terus saja Yudha menggerutu di dalam hatinya. Ia tidak ikhlas menjalani kehidupannya yang sekarang. Ia terus saja mengeluh ataupun menggerutu.
Yudha bertahan bekerja di restoran Dewi bukan hanya karena ia butuh uang saja. Tetapi ia berharap Dewi akan jatuh kembali ke dalam pelukannya. Dia begitu sangat yakin dengan dirinya sendiri.
Hanya karena ia sering melihat Dewi memamerkan kemesraan dengan suaminya di depan dirinya.
"Dewi-Dewi, aku tahu sebenarnya kamu ini masi cinta padaku. Hingga kamu ingin memancing aku supaya aku cemburu. Kamu memang telah berhasil membuat aku cemburu, Dewi. Apa lagi jika aku melihat kamu memakai pakaian yang aduhai, membuat pikiranku traveling membayangkan bercinta denganmu," batin Yudha.
Hingga di suatu kesempatan, ia pun menyelinap masuk ke ruang kerja Dewi. Di saat Dewi lengah tak kembali menutup pintu ruang kerjanya.
"Mas, ini di tempat kerja loh. Tolong jangan seperti ini, nanti saja kalau kita sudah ada di rumah."
Dewi tak sadar jika yang yang memeluk dirinya dari arah belakang adalah, Yudha. Ia dengan sangat antusias menciumi tengkuk leher Dewi. Tetapi pada saat Dewi tak sengaja melirik ke arah cermin. Ia terhenyak kaget dan langsung mendorong tubuh, Yudha hingga Yudha tersungkur ke belakang.
__ADS_1
"Heh, kurang ajar sekali kamu ya? apa ingin aku pecat sekarang juga karena kamu sudah lancang padaku, hah?"
Dewi begitu kesal sekali karena ulah Yudha yang begitu kurang ajar padanya.