
Setelah memberikan sedikit pelajaran pada Yudha, Aldi pun lekas berlalu pergi dari ruangan khusus cuci piring.
Seperginya Aldi, pria paruh baya berkata," aku tahu jika kamu kagum dengan Nona Dewi. Tapi janganlah berkhayal terlalu berlebih-lebihan dengan mengatakan hal seperti tadi. Itu bahaya loh, untung saja Tuan Aldi sedang berbaik hati. Jika tidak dia bisa melakukan apa pun yang dia inginkan padamu. Apa lagi kamu lancang sekali dalam berkata."
"Pak, apa yang aku katakan benar kok. Kalau Dewi itu mantan istriku, aku sama sekali tidak berbohong. Dulu aku seorang direktur, banyak sekali para wanita yang memujaku. Bahkan sudah banyak wanita yang aku tiduri," ucap Yudha dengan bangganya.
Si bapak paruh baya terkekeh," hahaha....kamu itu kurang seons ya? hingga cara bicaramu seperti ini? berkhayal yang berlebihan ini dan itu. Ya-ya-ya, mantan direktur ya? mana ada lagi mantan direktur kok penampilan seperti dirimu? hhaaa... sudahlah jangan terlalu tinggi dalam berkhayal. Apa kamu salah satu pengonsumsi narkoba, hingga suka sekali berhalusinasi."
Pria paruh baya tersebut terus saja menertawakan Yudha. Ia sama sekali tidak percaya sedikitpun dengan apa yang barusan Yudha katakan. Karena menurutnya tidak mungkin, pria berpenampilan lusuh dan jalan saja pincang kok berkata ini dan itu.
Yudha pun hanya diam saja, walaupun di dalam hatinya merasa sangat terhina dengan ejekan pria paruh baya tersebut. Tetapi ia juga menyadari jika memang semua karena penampilannya yang sekarang hingga tidak ada satu orang pun yang percaya jika dulunya dia pria sukses dan kaya.
"Sialan, sekuat apapun aku membela diri. Tidak akan ada yang percaya pada setiap apa yang aku katakan! nyesek banget, aku malah di pikirnya gila, bahkan di pikir aku ini suka mengonsumsi narkoba. Justru dulu aku suka mengonsumsi para wanita cantik. Padahal aku mengatakan hal nyata yang telah terjadi di dalam kehidupanku. Aku sama sekali tidak berbohong atau malah berkhayal!" batin Yudha sangat kesal.
Dia pun melanjutkan pekerjaannya dengan rasa kesal yang sangat dalam.
Sementara saat ini Aldi sudah berada di ruangan Dewi. Ia pun langsung mendekati istrinya itu dan mencium bibirnya dengan lembut. Ia begitu sayang dan cinta pada, Dewi. Di depan Dewi, ia selalu bersikap lembut dan penuh kasih sayang. Tetapi jika di depan para pelayan, ia bersikap angkuh dan dingin.
"Sayang, baru saja aku dari ruangan cuci piring. Pelayan baru yang kamu terima itu benar-benar hampir saja membuat hilang kesabaranku!" ucap Aldi seraya melangkah duduk di hadapan Dewi.
"Memangnya apa yang ia perbuat, hingga kamu semarah itu, sayang?" tanya Dewi seraya menggenggam tangan suaminya.
__ADS_1
Aldi menceritakan jika Yudha memecahkan banyak piring, dan pada saat dirinya menasehati malah Yudha mengatakan hal yang membuat dirinya semakin emosi.
Aldi mengatakan apa yang Yudha katakan barusan kepadanya.
"Sayang, kamu percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan pria itu?" tanya Dewi menyelidik.
"Astaga, Dewi. Mana mungkin aku percaya dengan dia. Amu lebih percaya pada istriku ini," ucap Aldi.
"Hem, heran ya mas. Padahal aku menerimanya karena iba, ia memohon pekerjaan di sini. Aku nggak tega saja karena ia mengatakan butuh sekali pekerjaan dan ia juga tak punya siapa-siapa, hanya hidup seorang diri. Hingga aku terima dia sebagai pencuci piring."
"Aneh, lancang sekali dia mengaku aku sebagai mantan istrinya? mana mungkin aku mau dengan pria lusuh dan pincang pula seperti dirinya. Mungkin saja dia itu pernah terobsesi dengan seorang wanita. Atau jangan-jangan pikirannya kurang seons ya, mas? jadi berkhayal seperti itu, iya nggak sih?"
Mendengar apa yang barusan di katakan oleh Dewi, membuat Aldi terkekeh. Hal ini justru membuat Dewi heran dengan sikap suaminya karena menurut dirinya apa yang di katakan tidaklah lucu.
"Bukan begitu sayang, aku heran saja dengan kata-kata seons yang kamu ucapkan barusan. Hem, kita lihat saja bagaimana kinerja orang tadi. Dan aku harap, kamu juga jangan dekat-dekat dengannya. Karena bisa saja, ia itu terpesona dengan kecantikan istriku hingga sampai sebegitunya dalam berkhayal," ucap Aldi kembali lagi terkekeh.
Sementara Dewi merasa kedatangan Yudha itu malah akan menjadi sebuah ancaman atau bumerang bagi dirinya. Ia telah salah menerima Yudha bekerja di restorannya.
"Mas Yudha lancang banget sih? padahal aku sudah berbaik hati memberikan pekerjaan padanya! ia malah mengatakan masa lalunya denganku pada suamiku! untung saja Mas Aldi lebih percaya padaku dari pada kepada Yudha!"
"Lihat saja ya, Mas Yudha! aku tidak akan tinggal diam jika kamu mengatakan hal buruk lagi pada suamiku! aku pecat kamu baru tau rasa!"
__ADS_1
"Aku lihat kamu saat ini sudah bangkrut! karena penampilanmu juga sangat berbeda dengan dulu. Itu karena perbuatanmu yang jahat pada setiap wanita! kena karma!"
Di dalam hatinya, Dewi terus saja menggerutu sendiri. Ia kesal atas sikap sombong si Yudha.
"Sayang, aku ingin ajak kamu keluar sebentar yuk? kamu pasti mau kan? aku kangen sekali ingin berdua denganmu. Karena selama ini kita jarang bisa pergi berdua karena ada anak kita."
Dewi pun mengangguk pelan, dan saat itu juga Aldi meraih tangan Dewi melangkah keluar bersama dari ruangan tersebut. Aldi merangkul Dewi begitu mesranya, dan Dewi melingkarkan satu tangannya di pinggang, Aldi.
Pada saat Yudha membawa beberapa piring yang telah kering ke arah depan. Ia begitu kesal melihat keromantisan Dewi dengan suaminya. Dan ia terus saja menatap ke arah perginya Dewi dan Aldi.
"Seharusnya aku yang ada di posisi pria itu! seharusnya saat ini aku yang menjadi bos, bukan pria itu! sakit hatiku saat melihat mantan istriku begitu mesra dengan pria lain. Yah aku tahu, walaupun itu suaminya sendiri dan aku hanyalah mantan. Tetapi aku merasakan sakit hati juga," batin Yudha.
Dia hampir saja memecahkan piring kembali. Karena pada saat memegang piring ia tak konsentrasi, hingga hampir saja semua piring yang ada di tangannya hampir saja terlepas dan jatuh. Untung salah satu pelayan langsung bertindak.
"Heh, kamu tukang cuci piring baru ya? memang Nona Dewi cantik, tapi nggak sebegitunya kali kamu memandang istri orang. Hampir saja semua piring di tanganmu jatuh!" bentak sang pelayan.
"Ma-maaf!"
Yudha sama sekali tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya bisa mengatakan kata maaf saja.
Dan ia pun membawa piring tersebut ke tempat yang sudah di beri tahu oleh rekan kerjanya. Setelah itu Yudha kembali lagi ke ruangan khusus mencuci piring.
__ADS_1
Ia masih saja teringat akan apa yang barusan di lihatnya, yakni mantan istrinya mesra dengan lelaki lain.