Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Bu Ida Sakit


__ADS_3

Saat itu juga Bu Hesty mengajak pulang Bu Ida karena percuma saja jika berlama-lama berada di rumah, Meysa. Sedangkan Meysa saat ini telah masuk ke dalam kamarnya.


Bu Hesty berpamitan pada Yosep dan melangkah pulang mengajak Bu Ida.


Yosep tak bisa berkata-kata lagi, tak bisa mengatakan apapun hanya menganggukkan kepala pada saat Bu Hesty beerpamitan padanya.


"Sebenarnya kasihan juga Bu Ida, yang belum mendapatkan maaf dari Meysa hingga saat ini. Tetapi jika ditelusuri memang kesalahannya begitu fatal.


Tetapi jika ia melihat raut wajah istrinya, kadang terlihat seperti seorang anak yang sangat rindu pada ibunya. Tetapi tak berani mengatakan hal ini pada, Yosep. Sungguh tidak di mengerti isi hati manusia.


Yosep melangkah masuk menuju ke kamarnya untuk menemui istrinya yang saat ini terlihat murung. Dan ia pun meminta maaf padanya.


"Sayang, maafkan aku yang....


"Sudahlah, mas. Tak perlu minta maaf, kamu nggak salah kok. Aku hanya belum bisa memaafkan ibu. Jadi janganlah kamu ikut memaksaku untuk memaafkan ibu secepatnya."


Yosep hanya menganggukkan kepalanya secara perlahan-lahan. Ia sama sekali tidak mengatakan apapun lagi karena khawatir salah dalam berucap yang membuat Meysa malah semakin bertambah marah.


Sementara dalam perjalanan pulang, Bu Hesty juga meminta maaf kepada Bu Ida.


"Ida, maaf ya. Aku pikir Meysa sudah bisa memaafkanmu hingga aku ajak kamu untuk menemuinya. Aku tidak ada maksud apa-apa, hanya saja ingin melihat kalian akur saja."


Bu Ida sama sekali tak menyalahkan Bu Hesty. Ia tahu jika memang niatnya itu sangat baik dan mulia. Hanya saja memang kesalahan dirinya yang terlalu fatal hingga Meysa belum juga bisa memaafkan dirinya.


"Sudahlah tak perlu minta maaf, kamu nggak salah Hesty. Justru aku berterima kasih atas bantuanmu yang ingin mendamaikan kita. Aku tidak akan datang lagi untuk meminta maaf pada, Meysa. Karena itu percuma saja, yang ada aku malu sendiri."


Tak terasa air mata Bu Ida merembes membasahi pipinya. Ia kini sudah pitus asa dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Mungkin selamanya aku akan hidup kesepian seorang diri dan selamanya hidup di kontrakan. Astaghfirullah aladzim.. ampunkan aku Ya Allah. Atas apa yang telah aku lakukan dahulu. Setiap aku ingat perbuatanku sendiri, aku merasa jijik sendiri," batin Bu Ida.


Penyesalannya percuma saja, karena semua telah terjadi. Dan apa yang telah terjadi memang sudah tidak bisa kembali lagi seperti sedia kala. Kenikmatan sesaat yang selalu Bu Ida rasakan waktu itu bersama dengan Yudha, hanya membuat kehancuran di dalam hidupnya sendiri.


Di masa tuanya, seharusnya dia itu bahagia bersama anak dan cucu-cucunya. Kini ia bagai sebatang kara tak punya sanak keluarga sama sekali. Dia sama sekali tidak berpikir sebab dan akibat pada saat melakukan hal menjijikan itu. Dahulu ia sempat bangga karena bisa mendapatkan pria muda dan tampan. Ia sama sekali tak pernah memikirkan perasaan anak semata wayangnya yang membuat kini menderita sendiri atas apa yang di lakukannya sendiri.


******


Kehidupan terus saja berjalan bagaikan aliran sebuah sungai. Kita tidak tahu kedepannya apa yang akan terjadi. Hanya saja kita harus benar-benar mawa diri dengan apa yang kita perbuat.


Seperti pagi ini, tiba-tiba Bu Ida merasa tubuhnya tak sehat.


"Astaga..kenapa kepalaku sakit sekali dan badanku juga pegal semua terutama punggungku. Hoek..Hoek .."


Bu Ida lekas berlari ke kamar mandi, dirinya pagi itu muntah-muntah. Ia pun memutuskan untuk tidak berangkat ke warung nasi Padang. Lekas ia meraih ponselnya, dan menelpon Bu Hesty.


Satu panggilan telepon masuk ke nomor ponsel Bu Hesty. Dan ia pun segera mengangkat telpon dari, Bu Ida.


"Halo, Ida. Ada apa, pagi-pagi benar kamu menelpon?"


"Maafkan aku, Hesty. Aku izin ya, hari ini aku tidak berangkat ke warungmu. Mendadak tubuhku tak karuan, barusan saja aku muntah-muntah. Entah kenapa kepala sakit sekali dan seluruh tubuh terutama punggungku sakit sekali."


"Astaghfirullah aladzim, sebaiknya kamu lekas ke dokter saja. Biar lekas di obati, nanti aku akan bawa dokter pribadiku untuk memeriksamu."


"Nggak usah, Hesty. Aku selama ini sudah terlalu merepotkan dirimu. Aku istirahat saja pasti besok juga sudah pulih dan bisa bekerja lagi."


"Nggak usah keras kepala, sebentar lagi aku akan datang membawa dokter."

__ADS_1


Setelah itu Bu Hesty yang terlebih dahulu menutup panggilan telepon dari, Bu Ida. Ia segera menelpon dokter pribadi keluarganya untuk memeriksa, Bu Ida.


"Alhamdulillah ya Allah, di kala semua sahabatku menjauhiku karena pembuatan burukku. Tapi ada satu orang yang begitu baik padaku. Ini semua juga karena kebaikanMu. Jika tidak entah bagaimana kehidupanku jika tidak ada pertolongan dariMu. Engkau telah mengirimkan Hesty untukku."


Di sela apa yang telah terjadi dalam kehidupannya, Bu Ida masih bisa bersyukur karena ia tidak sampai terpuruk karena ada Bu Hesty yang menolong dirinya. Mungkin jika tidak ada Bu Hesty, dirinya akan menjadi gembel dan hidup terlunta-lunta di jalanan.


Tak berapa lama, Bu Hesty datang dengan membawa dokter pribadi keluarganya.


"Astaga.... badanmu panas sekali, Ida. Kondisimu seperti ini kok nggak mau di periksa."


Sejenak Bu Hesty memegang kening Bu Ida pada saat dokter mengecek suhu tubuhnya yang begitu tinggi.


"Bagaimana dok, kondisi teman saya?" tanya Bu Hesty.


"Ibu nggak perlu khawatir, kondisi ibu Ia hanya kecapean saja. Dan pasti sering telat makan hingga ia terkena magh akut. Saya sarankan jangan sampai telat makan, dan hindari makanan yang bisa membuat lambung anda sakit. Tidak di sarankan makan pedas.'


Sejenak dokter menjelaskan apa saja makanan yang tidak boleh di konsumsi oleh Bu Ida. Karena ia saat ini sudah memiliki penyakit asam lambung dan juga magh akut.


Dokter menuliskan sebuah resep dan Bu Hesty meminta sopir pribadi untuk nanti menebusnya di apotik. Karena saat ini masih terlalu pagi, hingga apotik belum buka.


Bu Hesty bahkan akan meminta vaakeh satu asisten rumah tangganya untuk beberapa hari menemani Bu Ida di rumah kontrakannya. Karena ia hidup sendiri, Bu Hesty tak tega.


"Kasihan juga Ida, sakit tapi tidak bada yang menemani. Apakah aku memberi tahu hal ini pada, Meysa ya? aku kok ragu, tapi aku juga nggak tega."


"Ah..nanti yang ada aku salah lagi. Biarkanlah aku meminta salsh satu asisten rumah tanggaku untuk beberapa hari tinggal bersama Ida."


Saat itu juga Bu Hesty berpamitan pulang, tetapi ia tak mengatakan pada Bu Ida jika dirinya akan meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk tinggal beberapa hari di rumah kontrakan, Bu Ida.

__ADS_1


__ADS_2