
Sepulangnya Bu Hesty, beberapa menit kemudian datanglsh salah satu asisten rumah tangganya untuk menemani Bu Ida.
"Kamu bukannya bibi yang di rumah, Hesty kan ya?" tegur Bu Ida pada saat ia melihat kedatangan bibi.
Karena kebetulan Bu Ida duduk sebentar di depan rumah kontrakannya, untuk melepas rasa penat karena sedari tadi tiduran saja di kamar.
"Iya, Bu. Saya di minta oleh Bu Hesty untuk beberapa hari berada di sini menemani Ibu. Mohon tolong jangan tolak saya ya Bu, karena saya tidak akan mungkin bisa kembali lagi ke rumah Bu Hesty, jika belum menjalankan perintahnya untuk beberapa hari tinggal di sini menemani Ibu," ucap si asisten rumah tangga tersebut.
Hingga terpaksa Bu Ida menerima asisten rumah tangga tersebut untuk tinggal beberapa hari di rumah kontrakannya, karena ia juga sudah tahu bagaimana watak, Bu Hesty.
"Ya sudah, nggak apa-apa. Masuklah, karena kebetulan masih ada satu kamar lagi. Maaf ya, Bi. Cuma kontrakan kecil tak senyaman rumah, Hesty.'
Si bibi hanya menyunggingkan senyumnya, ia pun melangkah menuju ke rumah kontrakan tersebut. Dan Bu Ida juga mengikutinya dari arah belakang.
Sementara di rumah Meysa, tiba-tiba ia merasa tak tenang dan pikirannya uring-uringan. Ia gelisah dan mondar-mandir di dalam kamarnya, membuat heran Yosep yang baru akan berangkat ke kantor.
"Sayang, sebenarnya ada apa? kamu kok terlihat seperti gelisah?" tanya Yosep memicingkan alisnya.
"Entahlah Mas, tiba-tiba aku dari tadi kepikiran Ibu saja. Nggak tahu kenapa perasaan aku kok seperti gelisah tak menentu," ucap Meysa.
"Sayang, jika kamu ingin tahu kondisi ibu kamu bisa menghubungi Bu Hesty untuk menanyakan kondisi ibumu melalui dirinya kan bisa. Jika kamu sungkan untuk menemui ibu secara langsung."
Mendengar saran yang diucapkan oleh Yosep. Meysa pun meraih ponselnya untuk menelpon Bu Hesty guna menanyakan kondisi Bu Ida.
__ADS_1
Kring kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel Bu Hesty, ia pun lekas mengangkatnya karena tahu siapa yang telah menelponnya.
"Hallo Meysa, ada apa ya pagi-pagi menelpon ibu?"
"Bu Hesty, maaf mengganggu waktunya sejenak. Aku hanya ingin tahu bagaimana kondisi ibuku saat ini, karena entah kenapa pagi ini aku terus saja gelisah memikirkan ibu."
"Berarti perasaanmu terhadap ibumu itu peka sekali, Meysa. Ibumu saat ini sedang sakit, tetapi aku telah memeriksakannya ke dokter pribadiku. Kamu nggak perlu khawatir Meysa, ibumu sudah mendapatkan obat juga dia tidak tinggal sendiri karena untuk beberapa hari aku telah mengirim seorang asisten rumah tangga untuk menemani dirinya."
Setelah sejenak mendengar kabar tentang Bu Ida dari Bu Hesty. Meysa sedikit lega dalam hati dan pikirannya. Ia pun segera meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada Bu Hesty atas segala kebaikannya selama ini terhadap Bu Ida.
Setelah menelpon, Meysa meletakkan ponsel nya kembali di atas meja make up nya. Sejenak ia duduk terdiam dan Yosep pun duduk di tepi ranjang di samping Meysa.
"Bagaimana, sayang. Apakah kamu sudah tahu tentang kondisi ibumu saat ini?" tanya Yosep penasaran.
"Syukurlah kalau Ibu sudah mendapatkan penanganan dari dokter, berarti kamu nggak perlu gelisah atau cemas lagi. Toh sudah jelas kan, bahwa ibu tidak apa-apa."
Yosep mengusap surai hitam Meysa.
Setelah itu Yosep berpamitan pada Meysa untuk segera ke kantor. Meysa pun melangkah mengantarkan Yosep ke pelataran rumah. Ia tak lupa mencium punggung tangan suaminya.
Selepas kepergian suaminya, Meysa sejenak duduk di teras halaman. Di dalam hatinya ingin sekali menjenguk ibunya dan ingin melihat sendiri kondisinya saat ini seperti apa, tetapi hati nuraninya menolak untuk pergi.
__ADS_1
"Maafkan aku ya Bu, tidak bisa menjenguk ibu di kala ibu sakit. Hanya doa yang aku panjatkan dari sini semoga ibu lekas sembuh, diangkat sakit penyakitnya dan di pulihkan seperti sediakala," gumamnya lirih.
"Aku memang ingin menjenguk Ibu, tetapi aku tak tahan jika melihat wajah Ibu. Entah kenapa selalu teringat kejadian buruk di masa lalu. Makanya sampai detik ini aku belum bisa menemui ibu karena setiap melihat ibu luka lama itu muncul kembali," batinnya seraya menarik napas panjang.
Setelah cukup lama duduk sendiri di teras halaman rumah. Meysa pun lekas masuk ke dalam rumah untuk melihat kedua anak-anaknya yang saat ini sedang bersama, baby sitter.
Sore menjelang.....
Pikiran Ibu Ida melayang-layang, matanya berkaca-kaca. Di saat dirinya sakit tidak ada anaknya di sampingnya. Rasanya sedih sekali, tapi ini sudah menjadi konsekuensi dari apa yang telah ia perbuat dahulu terhadap anak semata wayangnya.
Sejenak ia melamun membayangkan di saat dulu masih akur dengan Meysa. Setiap dirinya sakit pasti Meysa akan selalu ada di sampingnya, bahkan Meysa rela kurang tidur demi menjaga dirinya. Di tengah malam dengan sangat tekun Meysa mengompres dirinya pada saat demam, bahkan sesekali Meysa memijat kakinya.
"Dulu semuanya terasa indah pada saat aku dan Meysa masih hidup bersama. Meysa begitu sangat menyayangiku, menjagaku, dan memberikan segala apa yang aku butuhkan. Bahkan walaupun ia capek berada di dalam kantor, jika tahu aku sedang sakit ia tidak akan pernah bisa tidur nyenyak karena waktunya untuk menjagaku. Ia selalu mengatakan tak ingin terjadi apa-apa padaku sehingga ia rela berjaga di tengah malam."
"Meysa tidak pernah berkeluh kesah jika ia kurang tidur karena untuk menjaga aku di saat aku kondisi sakit, bahkan ia tetap bekerja di pagi harinya. Betapa bodohnya aku yang telah berbuat menjijikan. Seharusnya sebelum aku melakukan hal itu, aku berpikir matang tentang sebab dan akibat jika aku melakukannya."
"Astaghfirullah aladzim, maafkan Ibu yang terlalu kejam kepadamu. Ibu terlalu jahat, apa yang telah ibu lakukan kepadamu pantas saja kamu belum bisa memaafkan ibu."
"Melihat pasangan berselingkuh dengan orang lain saja itu rasanya sakit hati. Apalagi kamu melihat pasanganmu selingkuh dengan Ibu kandungmu sendiri, pasti rasanya lebih menyakitkan lagi."
Tak terasa air mata Bu Ida jatuh membasahi pipinya, ia merutuki dirinya sendiri atas apa yang telah ia lakukan kepada anak kandungnya.
Selagi asik melamun, si bibi datang untuk memberikan makan pada Ibu Ida.
__ADS_1
"Bu, makanlah. Aku sudah buatkan ibu bubur, dan setelah ibu makan lekas minum obatnya supaya lekas sembuh."
Dengan telaten si bibi menyiapkan obat dan meletakan buburnya di atas meja untuk segera di makan oleh Bu Ida.