
Kini Yudha bekerja serabutan yang penting dirinya tidak menganggur dan ada pemasukan. Semakin hari tubuhnya semakin kurus dan tak terurus. Semakin bertambah buruk saja. Di saat sudah seperti ini, ia baru menyadari akan kesalahannya.
Tetapi malu untuk meminta maaf pada semua wanita yang pernah ia sakiti, terutama pada Meysa.
"Mungkin ini sebuah teguran dari Allah atas apa yang dulu aku perbuat pada para wanita. Tetapi aku enggan meminta maaf pada mereka satu persatu. Aku malu pada mereka dan aku juga nggak mau nantinya aku di ejek atau di cibir oleh mereka," batin Yudha di sela istirahat menjadi tukang parkir.
Dia terus saja melamun hingga tak sadar dirinya di tepuk oleh seseorang.
"Kamu Yudha bukan?" tegurnya.
Yudha menoleh ke sumber suara yang telah menepuk bahunya," iya memang kenapa ya?" Yudha memicingkan alisnya menatap ke pemuda seumuran dirinya yang menurutnya seperti pernah kenal dan melihat tapi Yudha lupa.
"Aku seperti kenal kamu, tapi siapa ya!" tanya Yudha terus saja menatap ke arahnya.
"Astaga...ini aku Rian. Masa iya kamu sudah lupa aku, sedangkan aku saja masih ingat kamu walaupun kini penampilanmu telah berubah seperti ini," ucapnya.
Sejenak mereka bercengkrama, dan tiba-tiba Rian menawarkan sebuah pekerjaan pada Yudha.
"Yudha, aku ada satu pekerjaan untukmu. Tetapi jika kamu mau sih? ini pekerjaan lebih baik dari pada kamu bekerja menjadi tukang parkir seperti ini," ucap Rian.
"Memang apa pekerjaan yang akan kami berikan padaku?" tanya Yudha penasaran.
Rian mengatakan jika dirinya memiliki sebuah yayasan panti jompo. Dan saat ini butuh seorang sopir, untuk sesekali mengantar kemanapun jika ada sesuatu hal yang penting di luaran.
"Apakah kamu bersedia menjadi sopir, dan jika kamu sedang santai aku harap mau membantu pekerjaan di panti seperti bersih-bersih halaman karena begitu luas halaman. Yakni samping depan belakang semuanya tumbuh pepohonan rindang. Yang setiap hari hampir daunnya itu berjatuhan dan harus rajin di bersihkan."
Sejenak Yudha terdiam, ia seolah sedang berpikir tentang tawaran yang di berikan oleh Rian. Rian melihat Yudha diam saja, ia berpikir jika Yudha menolak tawarannya.
__ADS_1
"Yudha, jika tidak mau juga nggak apa-apa. Aku nggak memaksa kok, aku akan mencari orang lain saja."
Namun pada saat Rian akan berlalu pergi, Yudha menahannya dan ia mengatakan bahwa dirinya bersedia menerima tawaran dari Rian.
Saat itu juga Yudha turut serta dengan Rian ke panti asuhan yang ia miliki.
"Bismillah, semoga saja ini jalan aku untuk bisa menebus semua dosa-dosaku di masa lalu. Aku nggak akan lagi mengeluh dengan segala yang telah terjadi di dalam hidupku. Justru aku seharusnya bersyukur karena, Allah masih sayang padaku. Hingga aku masih di beri kesempatan untuk merubah hidupku menjadi lebih baik."
"Dari dulu aku tak menyadari kebaikan Allah, tetapi aku malah terus mengeluh dan mengeluh. Tak pernah bisa bersyukur sama sekali."
Entah ada angin apa, Yudha mendadak ingin berubah menjadi lebih baik. Ia merasa lelah dengan hidupnya yang terlalu banyak tingkah selama ini.
Setelah sampai di panti jompo tersebut, Yudha langsung di perkenalkan dengan para penghuni panti.
"Yudha, kamu sudah kenal semuanya juga para perawat Opa dan Omanya. Tetapi mereka memang sengaja di pisahkan. Paviliun berbeda karena mereka kan berbeda jenis kelaminnya walaupun sudah tua-tua, tetapi para perawatnya kan masih muda-muda. Antisipasi saja supaya tidak terjadi hal yang di inginkan," ucap Rian terkekeh.
"Hebat kamu ya, Rian. Sudah menjadi orang sukses nggak seperti aku ini?" Puji Yudha seraya tertunduk malu.
"Nggak lah, bagiku ini hal biasa saja. Aku belum hebat sama sekali."
Selain memiliki panti jompo, Rian juga memimpin sebuah perusahaan di bidang properti yang cukup besar. Kini ia juga sudah punya istri dan dua anak kembar yang masih baby umur dua tahun.
Melihat kehidupan rumah tangga Rian, Yudha kembali lagi menengok kebelakang dimana dirinya menyesal dengan semua yang telah di perbuat.
Segala kejahatan dan dosa yang pernah ia lakukan terlintas semua di pelupuk matanya. Hingga tak sadar ia duduk di rerumputan seraya tertunduk. Hal ini membuat Rian heran. Karena Rian sama sekali tak tahu tentang kisah hidup Yudha.
Pada saat bertemu dengan Yudha, itu adalah suatu ketidak sengajaan.
__ADS_1
"Astaga .. Yudha kamu kenapa? apakah kamu sakit?" tanya Rian penasaran.
Rian pun memposisikan dirinya hingga kini dia setara dengan Yudha. Ia pun bertanya lagi," Yudha apakah kamu sakit? sebaiknya kita ke dokter saja."
Yudha menarik napas panjang dan mencoba tersenyum. Ia mengatakan jika dirinya tidaklah sakit. Hanya saja teringat dengan masa lalunya yang sangat buruk.
Tanpa ada rasa sungkan, Yudha menceritakan semuanya pada Rian tentang keburukan dirinya di masa lalu. Mendengar cerita dari Yudha, Rian menepuk bahunya," sudahlah tak usah lagi kamu menoleh ke belakang. Karena hanya akan menghambat masa depanmu saja. Sekarang kamu fokus saja menata hidupmu kembali dan berbuatlah banyak kebaikan untuk mengganti segala keburukanmu di masa lalu."
"Apakah orang pendosa seperti diriku ini masih punya masa depan?"
Yudha sama sekali tidak yakin dengan dirinya sendiri. Ia merasa dirinya tidak punya masa depan yang cerah.
"Yudha, selama kamu masih hidup berarti punya masa depan.
dan hari yang cerah. Mulai sekarang nggak usah banyak mengeluh atau merutuki diri sendiri terus. Tetapi bangkitlah dari keterpurukan dirimu. Dan jangan pernah gengsi untuk meminta maaf pada semua orang yang pernah kamu sakiti. Supaya hatimu lega," saran Rian.
"Tetapi aku tidak yakin jika semua orang yang pernah aku sakiti akan bersedia memaafkan aku. Jika tidak bagaimana?"
Rian menyunggingkan senyuman," yang terpenting kamu sudah benar-benar tulus dari dalam hati, untuk meminta maaf dan benar-benar kamu buktikan pada mereka jika kamu mampu berubah menjadi lebih baik.'
Mendengar saran dan nasehat dari Rian, ada rasa lega di dalam hati Yudha. Ia kini bisa benar-benar bangkit dari keterpurukannya.
Yudha pun sudah tidak bersedih lagi, ia akan benar-benar merubah pola pikir dan cara hidupnya untuk lebih baik lagi. Ia sangat bersyukur karena Allah telah mempertemukannya dengan Rian.
Baginya Rian bukan hanya seorang teman, tetapi penyelamat bagi kehidupannya yang saat ini sedang terpuruk.
Bahkan Yudha sempat berpikir, entah bagaimana kehidupannya jika ia tidak bertemu dengan Rian, mungkin dirinya akan terus bekerja serabutan dari menjadi seorang tukang parkir, pemulung ataupun pekerjaan kasar lainnya.
__ADS_1