Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku

Ternyata Ibuku Selingkuhan Suamiku
Mencoba Meminta Maaf Lagi


__ADS_3

Beberapa jam kemudian..


Rian telah kembali dari kantornya, akan tetapi ia tak langsung menemui Yudha. Ia membersihkan badan terlebih dahulu, setelah itu barulah ia menemui Yudha untuk menanyakan tentang tamu yang berkunjung ke panti jompo yang ia kelola.


"Yudha, bagaimana dengan kunjungan tadi?" tanyanya di sela Yudha duduk bersantai di depan panti.


"Alhamdulillah, lancar. Oh ya, ini yang berkunjung memberikan ini padaku."


Yudha memberikan amplop yang masih utuh dan juga sebuah bingkisan dari Bu Hesty.


"Yudha, itu rezeki untukmu. Bukan untukku, lagi pula Bu Hesty sudah mentransfer sejumlah uang untuk kebutuhan panti ini. Ia salah satu donatur panti ini. Bahkan sejenak ia sudah cerita kok tentangmu. Oh ya, bagaimana? apakah kamu sudah minta maaf pada teman, Bu Hesty? karena ia sempat bercerita datang kemari bersama dengan mantan Ibu mertuamu,' tanya Rian penasaran.


Yudha menceritakan yang sebenarnya pada Rian, jika dirinya tidak mendapatkan kata maaf sama sekali dari, Bu Ida. Ia malah sama sekali tak menghiraukan dirinya. Hanya satu kata saja yang di ucapkan oleh Bu Ida, ia akan bersedia memaafkan dirinya jika Meysa telah memaafkannya.


"Sabar ya Yudha, memang sulit jika telah berbuat salah pada seseorang dan meminta maaf padanya. Berarti Bu Ida juga saat ini sedang merasakan apa yang kamu rasakan. Ia belum mendapatkan pintu maaf dari mantan istrimu. Yang terpenting kamu sudah berusaha untuk meminta maaf. Nggak usah terus bersedih, suatu saat nanti pasti Bu Ida memberikan maaf padamu."


Rian mencoba menghibur Yudha, supaya Yudha tidak sedih lagi.


******


Esok menjelang, wajah Bu Ida sama sekali tidak ceria sejak dirinya bertemu dengan Yudha. Semua kenangan buruk kini telah terlihat kembali. Tiba-tiba ia merutuki diri sendiri dan tak sadar menitikkan air matanya.


Selagi melamun di depan rumah kontrakannya, Bu Hesty datang dan langsung duduk di sampingnya.


"Ida, kenapa pagi-pagi kamu menangis? apakah kamu bersedih karena pertemuanmu kemarin dengan, Yudha?" tanya Bu Hesty menyelidik.

__ADS_1


"Iya, dia kemarin minta maaf padaku. tetapi aku belum bisa memanfaatkan jika aku sendiri belum mendapatkan maaf dari, Meysa. Biar ia juga merasakan apa yang telah aku rasakan saat ini," ucap Bu Ida.


Bu Hesty sama sekali tidak bisa memberikan saran apa pun. Ia hanya diam setelah mendengar cerita dari, Bu Ida. Karena menurut dirinya, permasalahan Bu Ida sangatlah pelik.


Bu Hesty hanya bisa mengatakan sabar saja pada Bu Ida. Tanpa bisa mengatakan hal lain lagi.


Bu Ida terus saja murung dan bersedih karena ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Ia sudah sangat putus asa karena tak juga mendapatkan pintu maaf dari, Meysa.


"Padahal waktu telah berlalu begitu lama, sudah beberapa tahun yang lalu. Tetapi kenapa Meysa belum juga bisa memanfaatkan aku? apa selamanya aku akan hidup seperti ini, tanpa ada permintaan maaf sama sekali dari, Meysa?"


Selama beberapa tahun terakhir, hanya seperti itu yang ada di pemikiran Ida. Dia hanya ingin mendapatkan pintu maaf aja dari Meysa, itu sudah sangat senang dan bahagia.


"Ida, apa nggak sebaiknya kamu mencoba mendatangi Mesya kembali untuk meminta maaf? mungkin saja kali ini Meysa akan memberikan maaf padamu," saran Bu Hesty.


"Entahlah, Hesty. Aku ragu jika akan menemui Meysa kembali, apalagi saat ini Meysa sudah tidak ada di kantornya karena yang aku dengar, dia fokus dengan merawat anak-anaknya saja," ucap Bu Ida.


"Kamu kan bisa mendatangi rumahnya, tanya salah satu karyawan di kantor ekspedisinya yang sering makan di warung nasi padang kita. Jika perlu aku akan menemanimu ke rumah, Meysa."


Sejenak Bu Ida hanya diam saja mendengar saran yang di katakan oleh, Bu Hesty. Ia seperti sedang berpikir, dan pada akhirnya ia pun menuruti saran dari, Bu Hesty.


Saat itu juga Bu Ida di temani oleh Bu Hesty mendatangi rumah, Meysa. Kebetulan Meysa sedang ada di pelataran rumah bersama dengan kefua anaknya dan suaminya. Mereka sedang becanda ria. Keceriaan Meysa terhenti tat kala melihat siapa yang datang.


"Untuk apa ibu datang kemari, aku yakin pasti dia akan coba meminta maaf padaku," batin Meysa menatap tak suka ke arah Bu Ida yang justru tersenyum ke arahnya.


"Baru melihatku saja, tatapan Meysa sudah tidak bersahabat sama sekali. Aku kok jadi ragu untuk meminta maaf padanya," batin Bu Ida ragu.

__ADS_1


Tetapi ia terus saja melangkah mendekati Meysa dan suami serta kedua anaknya di temani oleh Bu Hesty.


Yosep yang melihat kedatangan ibu mertuanya dan temannya, ia pun segera memanggil kedua baby sitternya untuk mengurus kedua anaknya.


"Duduklah, Bu," ucap Yosep.


Bu Ida dan Bu Hesty duduk, begitu pula dengan Yosep dan juga Meysa. Setelah semua duduk dengan nyaman, barulah Bu Ida berani berkata.


"Meysa, pasti kamu sudah tahu apa maksud kedatangan ibu kemari. Ibu harap kali ini kamu mau memaafkan ibu. Kesalahan ibu memang sangat besar padamu. Bukankah ini sudah berlalu cukup lama, masa iya kamu belum juga bisa memanfaatkan ibu?"


Mendengar permintaan maaf dari Bu Ida, tak lantas membuat Meysa langsung memaafkannya.


"Bu, memang kejadian ini sudah berlangsung beberapa tahun yang lalu. Tetapi rasa sakit ini belum juga bisa hilang begitu saja. Ibu, aku minta maaf karena memang tidak mudah untuk memaaafkanmu. Kaca yang sudah pecah tak bisa kembali lagi seperti sedia kala. Kertas yang telah sobek, apa bisa kembali lagi?"


Bu Ida hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Meysa. Ia sama sekali tak bisa membalas perkataan tersebut.


"Sayang...apa nggak...


"Kenapa, mas? kamu juga ingin membujuk diriku demi ibu? secara tidak langsung kamu telah membela yang salah," ucap Meysa memotong pembicaraan dari Yosep.


Meysa bangkit dari duduknya dan ia pun segera berlalu pergi masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah kata lagi.


Di dalam kamarnya, Meysa menitikkan air matanya.


"Ya Allah, aku minta maaf. Karena memang sulit bagiku untuk memaafkan apa yang telah ibu lakukan padaku dulu. Semoga saja kelak aku bisa memanfaatkannya. Tapi untuk saat ini aku masih ingat selalu apa saja yang ia lakukan dengan mantan suamiku dulu. Jika aku melihat ibu, justru aku teringat kejadian dulu dimana ibu sedang bercinta dengan Mas Yudha," batinnya kesal.

__ADS_1


Sementara hati Bu Ida bertambah teriris pada saat permintaan maafnya kembali di tolak oleh Meysa untuk yang kesekian kalinya.


"Seharusnya aku tak usah menuruti saran, Hesty. Karena seperti ini percuma saja," batinnya sedih.


__ADS_2