Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 10 Rencana Ruby


__ADS_3

Rafael segera berlari masuk ke dalam rumahnya untuk menerima telepon dari mertuanya.


Penting? Ada hal penting apa sebenarnya? Rafael bertanya-tanya dalam hatinya sambil berlari menuju telepon rumahnya.


"Halo, ini Rafael. Ada apa Bu, Pak?" tanya Rafael yang terdengar panik di telepon.


Nak Rafael apa Ayana baik-baik saja? Apa kalian berdua sehat-sehat saja? tanya Anisa, ibu Ayana yang sedang cemas saat ini.


"Kami baik-baik saja Bu. Bapak dan Ibu tidak perlu khawatirkan kami. Semuanya sehat, bayi yang ada di dalam kandungan Ayana juga sehat Bu," jawab Rafael dengan suara yang lembut agar ibu mertuanya tenang dan tidak terlalu mencemaskan mereka.


Syukurlah jika semuanya baik-baik saja. Ibu hanya ingin memastikan saja. Kemarin malam ibu bermimpi, Ayana menangis meminta tolong. Ibu takut terjadi sesuatu pada Ayana dan bayi yang ada di dalam kandungannya, ujar Bu Anisa yang terdengar sedih dari seberang sana.


"Tidak Bu. Tidak ada yang perlu Ibu khawatirkan. Kami semua baik-baik saja dan dalam waktu dekat ini kami berniat akan berkunjung ke sana. Mungkin besok atau lusa. Saya harus mempersiapkan semuanya dulu, agar tidak ada yang terlewatkan untuk perjalanan Ayana dan bayinya nanti," ucap Rafael dengan sangat tenang, agar ibu mertuanya merasakan ketenangannya.


Benarkah? Ibu sangat menantikan kedatangan kalian. Ibu akan menyiapkan banyak makanan kesukaan kalian, tukas Bu Anisa yang terdengar sangat bahagia di telinga Rafael.


"Benar Bu. Kami akan segera ke sana. Ayana juga sudah tidak sabar ingin segera ke sana menemui Ibu dan Bapak. Dia juga kangen dengan suasana pantai katanya," jawab Rafael sambil terkekeh di akhir kalimatnya.


Baiklah, akan Ibu tunggu kedatangan kalian. Sampaikan salam Ibu pada Ayana, ucap Bu Anisa mengakhiri panggilan teleponnya.


"Baik Bu, akan saya sampaikan," tukas Rafael sebelum mengakhiri panggilan telepon tersebut.


Rafael menghela nafasnya yang terasa sangat berat di dalam dadanya. Kini dia harus segera mengantarkan Ayana untuk berkunjung ke rumah orang tuanya yang di desa agar kedua orang tua Ayana tidak lagi cemas dan khawatir pada putri dan cucu mereka yang masih ada dalam kandungan.


Tiba-tiba Rafael dikejutkan oleh tangan yang berada di pundaknya. Tangan tersebut menepuk-nepuk lembut pundak Rafael seraya berkata,


"Kalian berangkat saja besok. Papa akan persiapkan semuanya agar kalian semua aman dan nyaman selama perjalanan dan ketika berada di sana."


Rafael menoleh ke arah belakang dan mendapati papanya sedang tersenyum padanya. Dia pun berkata,


"Terima kasih Pa. Rafa akan berusaha untuk melindungi mereka."


Antonio tersenyum dan menganggukkan kepalanya melihat putra kesayangannya kini sangat bertanggung jawab pada anak dan istrinya.

__ADS_1


Setelah itu mereka berdua kembali ke kamar mama Rafael untuk melihat keadaannya.


"Rafael, lebih baik kamu ajak Ayana untuk beristirahat di kamar kalian saja, biar Mama kalian Papa yang menjaganya," tutur Antonio sambil melihat ke arah Rafael dan Ayana secara bergantian.


"Baik Pa," ucap Rafael sambil menganggukkan kepalanya.


Rafael memegang kedua pundak Ayana untuk membantunya beranjak dari duduknya seraya berkata,


"Sayang, ayo kita ke kamar. Kamu harus beristirahat agar besok bisa pergi ke rumah Bapak dan Ibu."


Seketika Ayana menoleh ke arah suaminya. Bibirnya melengkung ke atas dan matanya berbinar mendengar perkataan suaminya yang akan mengajaknya ke rumah orang tuanya.


"Beneran Sayang?" tanya Ayana dengan wajahnya yang berbinar.


Rafael tersenyum dan menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Iya. Besok kita akan berangkat. Jadi... Kamu harus sehat agar kita bisa berangkat besok."


Ayana menganggukkan kepalanya dengan antusias. Dia sangat bahagia saat ini.


Hanya dengan membayangkan bertemu dengan kedua orang tuanya dan bermain di pantai saja membuatnya sangat bahagia, apa lagi benar-benar berada di sana. Aku tidak tega jika harus membatalkannya.


Di lain tempat, Kessy sedang sibuk dengan amarahnya. Dia membanting seluruh barang-barang yang ada di sekitarnya dan berteriak histeris melampiaskan amarahnya.


"Sialan! Sialan mereka semua! Akan aku hancurkan kalian semua!"


Praaaaang!


Praaaaang!


Praaaaaang!


Braaaak!

__ADS_1


Braaaak!


Semua benda yang ada di sekitarnya kini berserakan. Hatinya sudah dipenuhi oleh amarah. Sehingga amarahnya kini meluap dan berimbas pada semua yang ada di sekitarnya.


Namun, tiba-tiba saja Kessy tertawa. Dia menertawakan sesuatu yang ada di benaknya.


"Lihat saja, sebentar lagi kalian akan menangis dan memohon ampun padaku!" seru Kessy diiringi dengan tawanya.


Dia telah merencanakan sesuatu. Kali ini dia merasa jika rencananya tidak akan gagal seperti rencananya kemarin.


Kini Kessy sedang sibuk mempersiapkan semuanya. Dia merasa harus mempersiapkan semuanya dengan sangat baik agar tidak ada lagi kegagalan.


Barang-barang yang berserakan itu ditinggalkannya begitu saja. Dia tidak ada niatan untuk merapikannya kembali atau membersihkannya.


Dengan seringainya Kessy meninggalkan rumahnya dalam keadaan porak poranda. Dia lebih memilih untuk segera menjalankan rencananya daripada waktunya habis untuk membersihkan perbuatannya.


Di tempat lain, tepatnya di rumah orang tua Rafael. Sepasang suami istri yang sedang menikmati indahnya malam di balkon kamar mereka, merasa sangat bersyukur akan yang mereka dapatkan saat ini.


Tangan Rafael tak henti-hentinya mengusap perut istrinya yang sudah mulai membesar. Gerakan dari bayi yang ada dalam perut itu membuat Rafael dan Ayana tertawa bahagia. Bahkan tanpa sadar Ayana mengeluarkan air mata bahagianya atas karunia yang di dapatkannya.


Luasnya langit malam yang gelap itu dihiasi dengan gemerlapnya cahaya bintang, membuat malam semakin indah dan mempesona.


"Besok kita akan berangkat jam berapa Sayang?" tanya Ayana pada Rafael yang sedang memeluknya dari belakang.


"Terserah kamu saja maunya jam berapa. Aku wajib menuruti keinginanmu dan bayi kita ini," jawab Rafael sambil mencium pundak istrinya.


"Pagi aja ya, biar sampai sana bisa main di pantai," tukas Ayana dengan mata yang berbinar.


Tiba-tiba saja badan Ayana melayang. Dia menengok ke arah suaminya yang sedang tersenyum padanya. Rafael menggendongnya dengan dangat hati-hati sekali. Dan Ayana selalu menyukai sikap Rafael yang seperti ini. Dia selalu membuatnya merasa berarti baginya.


"Baiklah. Terserah yang mulia ratu saja. Sekarang kita tidur dulu, agar besok bisa berangkat pagi-pagi sekali," tutur Rafael sambil menggendong istrinya masuk ke dalam kamarnya.


Dari pagar luar rumah tersebut, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka. Dari sorot mata orang tersebut terlihat kebencian yang teramat besar.

__ADS_1


Orang tersebut memakai jaket hitam dengan celana jeans hitam, serta topi hitam, kacamata hitam dan masker yang menutupi mulutnya.


"Sekarang kalian masih bisa tertawa. Silahkan puas-puaskan tawa kalian sebelum kalian mengeluarkan air mata kesedihan kalian," ucap orang tersebut dengan penuh kebencian.


__ADS_2