
Duo bayi luar biasa itu sudah dipindahkan ke kamar inap Ayana yang ada di lantai VVIP. Ayana masih saja tidak bosan memandangi bayi-bayinya yang berada di dalam inkubator.
Tiba-tiba ada tangan yang melingkar pada pinggang Ayana. Dia memejamkan mata sejenak menikmati aroma maskulin yang selalu menjadi candunya. Ayana hanya tersenyum dan menikmati hangatnya pelukan dari laki-laki yang telah merampas cintanya.
"Sudah tenang kan Sayang?" tanya Rafael yang memeluknya dari belakang.
Dagu Rafael diletakkan pada ceruk leher istrinya untuk melihat pangeran dan putri yang melengkapi cintanya dengan ratu hatinya.
"Tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan seorang wanita. Apalagi wanita itu telah menjadi seorang istri dan seorang ibu. Apa yang mereka rasakan selalu saja terjadi. Seperti sebuah alarm yang memperingatkannya jik ada bahaya," tutur Ayana sambil bersandar pada dada bidang suaminya.
Rafael tersenyum mendengar penuturan dari istrinya. Dia mencium dengan penuh perasaan pipi mulus nan lembut milik ratu hatinya itu hingga sang istri bisa merasakan perasaan cinta yang teramat dalam dari suaminya.
"Ay, istirahatlah. Jangan terlalu lama berdiri. Jangan terlalu capek. Kamu harus cepat pulih agar kita bisa bersama menggendong bayi-bayi mungil kita ini," tutur Rafael sambil mengeratkan pelukannya pada pinggang istrinya.
Ayana terkekeh mendengar penuturan dari suaminya. Dia membalikkan badannya dan menatap intens manik mata suaminya itu. Kemudian dia berkata,
"Jika aku tertidur pulas, apa kamu bisa merawat dan mengatasi dua bayi kita itu jika mereka rewel atau sedang lapar?"
"Minta minum susu maksudnya?" tanya Rafael dengan dahinya yang berkerut.
Ayana menganggukkan kepalanya seraya tersenyum dan berkata,
"Tepat sekali suamiku."
"Gampang itu. Begini-begini suamimu ini sudah bisa membuat susu formula untuk bayi-bayi mungil kita itu," ujar Rafael dengan penuh percaya diri.
Ayana menggelengkan kepalanya seraya berkata,
"Tapi aku ingin memberikan ASI ekslusif untuk mereka. Aku ingin sebisa mungkin memberikan ASI untuk mereka, agar aku bisa merasakan indahnya menjadi seorang ibu."
__ADS_1
Cuuup!
Tanpa aba-aba Rafael mengecup sekilas bibir istrinya. Dan itu mampu membuat Ayana terkesiap. Matanya terbelalak karena bibirnya mendapatkan serangan dari bibir suaminya.
Melihat ekspresi istrinya saat ini membuat Rafael tersenyum. Dengan cepatnya dia kembali menempelkan bibirnya pada bibir istrinya.
Namun, ciuman itu bukan hanya sekilas saja seperti sebelumnya. Kini Rafael menggerakkan bibirnya dengan lembut. Dia memangut bibir istrinya dan memberikan perasaan nyaman serta menyampaikan perasaan cintanya melalui ciumannya itu.
Ayana pun menyambut hangat ciuman Rafael. Dia membalas ciuman tersebut dengan penuh rasa cinta. Di dalam ruangan tersebut, di depan bayi-bayi mereka yang sedang tertidur pulas, mereka berdua saling menyalurkan perasaan cinta mereka sehingga tersampaikan dengan indah melalui decapan dan pertukaran saliva mereka.
Merasa kehabisan nafas, Ayana memukul-mukul dada Rafael agar melepaskan pangutannya. Nafas mereka terengah-engah. Akan tetapi senyuman mereka berdua menyatakan kebahagiaan.
Tangan Rafael mengusap lembut bibir Ayana yang basah karena saliva mereka. Ayana pun demikian. Dia melakukan hal yang sama pada suaminya. Tangan lembutnya itu mengusap dengan perlahan bibir suaminya yang juga basah oleh saliva mereka.
Tiba-tiba tubuh Ayana melayang. Rafael menggendongnya menuju tempat tidur dalam ruangan itu yang kini menjadi tempat tidur mereka selama berada di rumah sakit.
Direbahkannya tubuh istrinya itu secara perlahan dan dipeluknya tubuh si pemilik hatinya itu dalam pelukannya. Mereka berdua tidur saling berpelukan bersama dengan bayi-bayi mereka yang berada dalam satu ruangan bersama mereka, sayangnya bayi-bayi mungil tersebut tidak bisa satu tempat tidur bersama dengan mereka saat ini.
...----------------...
Di lain tempat, Ruby sedang mengendap-endap menghindari setiap orang yang melewati jalan tersebut. Lorong itu sangat sepi di malam hari, hingga membuat Ruby lagi-lagi merasa jika dewi fortuna sedang berpihak padanya.
Dua orang sipir yang kehilangan jejak Ruby itu, kini sedang berlarian mencari keberadaan Ruby. Mereka menyisir tiap lorong dan tiap ruangan untuk menemukannya.
"Di mana wanita sialan itu?! Gawat jika kita tidak menemukannya," ucap salah satu sipir yang mencari keberadaan Ruby.
"Cepat temukan! Jika sampai wanita sialan itu tidak ditemukan, pasti kita yang akan menerima hukumannya," sahut sipir satunya lagi sambil mencari Ruby di sekitarnya.
"Ck! Ini semua gara-gara kamu! Jika saja kamu tidak meninggalkannya sendiri, pasti dia tidak akan hilang," tukas salah satu sipir tersebut.
__ADS_1
"Jangan seenaknya saja menyalahkan orang. Kamu sendiri telepon terlalu lama. Kamu tidak tau bagaimana rasanya menahan sesuatu yang seharusnya dikeluarkan saat itu juga di toilet?" sahut sipir satunya lagi membela dirinya sendiri.
"Sudahlah. Percuma saja kita berdebat, lebih baik kita cepat temukan wanita sialan itu," ujar sipir itu sambil berjalan cepat menuju ruangan lainnya.
Ruby menoleh ke arah kanan dan kiri, dia juga melihat sekelilingnya sebelum keluar dari tempat persembunyiannya. Setelah merasa aman, Ruby berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Bahkan dia berjalan setengah berlari agar tidak terlalu mencolok jika ada yang orang di sekitar tempat itu yang melihatnya.
"Aku harus cepat meninggalkan tempat ini. Aku tidak boleh tertangkap lagi," ujar Ruby sambil berjalan cepat menuju pintu keluar.
Dia segera berlari sambil memegangi perutnya ketika sudah keluar dari bangunan besar tempat untuk merawatnya selama beberapa hari. Dia tertawa menikmati kebebasannya.
"Hmmm... udara kebebasan memang yang terbaik," ucap Ruby sambil menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
"Sepertinya aku harus mencari tempat bersembunyi untuk beberapa hari. Setelah itu aku akan menjalankan rencanaku untuk selanjutnya. Tapi... di mana aku harus tinggal dan bersembunyi?" sambung Ruby kemudian.
Tiba-tiba Ruby menoleh ke arah lain, dia melihat dua orang yang berseragam seperti sipir yang menjaganya. Dia segera berlari menyeberangi jalanan untuk menghindari dua orang yang berseragam itu.
Di tempat yang sama, ada seorang pasangan suami istri yang sedang mendorong stroller berisi seorang bayi. Mereka berhenti di depan sebuah toko untuk menunggu taksi yang sedang lewat.
"Tunggu di sini ya Bun, Ayah akan membelikan minuman untuk Bunda di toko itu," ucap laki-laki yang merupakan suami dari wanita tersebut.
"Jangan lama-lama ya Yah. Bunda dan jagoan kita ini menunggu Ayah di sini," tukas wanita tersebut sambil tersenyum melepas kepergian suaminya.
Laki-laki tersebut membeli sebuah minuman di sebuah toko kelontongan yang tidak jauh dari tempat istri dan anaknya berada. Dia tergesa-gesa membeli minuman karena takut istrinya itu terlalu lama menahan haus.
Wanita yang merupakan si istri dari laki-laki tersebut menatap heran pada seorang wanita yang memakai piyama berlari ketakutan menyeberangi jalan raya di hadapannya.
Tatapan matanya tidak teralihkan dari wanita tersebut. Matanya terbelalak dan dia berteriak,
"Awas!!!"
__ADS_1