
Braaak...
"Tolong...!"
Terdengar suara wanita yang berteriak meminta tolong setelah terdengar suara mobil yang menabrak pembatas jalan.
Ruby, dia berteriak dengan sekencang-kencangnya ketika seorang wanita tergeletak di depannya. Wanita tersebut tergeletak seolah tidak bernyawa setelah menarik tubuh Ruby agar terhindar dari mobil besar yang hendak menabraknya.
Mobil tersebut membanting setirnya sehingga menabrak pembatas jalan tanpa menabrak Ruby dan wanita tersebut, sehingga menimbulkan bunyi tabrakan yang luar biasa kerasnya.
Laki-laki yang sedang membeli minuman untuk istrinya itu segera berlari ke tempat istrinya berada.
"Bunda, Bunda di mana? Kenapa Arion ada di sini sendirian?" seru laki-laki tersebut mencari istrinya.
Arion, seorang bayi laki-laki yang ada dalam stroller bayi itu sedang menangis. Tangisannya sungguh menyayat hati. Laki-laki tersebut yang merupakan ayah dari bayi itu segera mengambil bayi dari stroller nya. Dia menggendong bayi itu untuk mencari isterinya, ibu dari bayi tersebut.
"Ada apa ini?" tanya laki-laki tersebut yang merupakan ayah dari Arion pada orang-orang yang sedang berkerumun.
"Ada yang pingsan Pak. Dia menolong wanita yang mau tertabrak mobil itu. Tapi wanita yang menolong tadi malah jatuh pingsan," jawab salah satu orang yang ada dalam kerumunan itu sambil menunjuk mobil yang menabrak pinggir jalan tadi.
Seketika pikiran ayah Arion tertuju pada istrinya. Apalagi Arion, si bayi yang ada dalam gendongannya itu sedang menangis sedari tadi, sepertinya dia enggan berhenti.
"Permisi... Permisi... Maaf...," ucap ayah Arion sambil menyingkirkan beberapa orang agar dia bisa masuk ke dalam kerumunan tersebut untuk melihat wanita yang diceritakan oleh orang tadi.
Matanya terbelalak melihat wanita yang terbujur di jalan. Dengan segera dia berlari menghampiri wanita tersebut.
"Bunda... Bunda kenapa? Bangun Bunda...," ucap laki-laki tersebut sambil menangis di sebelah wanita tersebut.
Arion, bayi malang itu semakin kencang menangis ketika berada di dekat ibunya. Semua orang iba pada mereka.
"Pak, lebih baik kita bawa saja secepatnya ke rumah sakit," tutur salah satu orang yang mengerumuni mereka.
"Pakai mobil saya saja Pak," sahut laki-laki yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara sirine yang mendekat ke arah mereka. Tampak mobil polisi dan ambulans yang datang ke lokasi kejadian tersebut.
"Itu ambulans nya sudah datang. Cepat kasih jalan," seru seseorang yang berada di sana.
Mereka semua memberi jalan agar petugas dari ambulans tersebut bisa segera menolong wanita itu. Mereka segera memindahkan wanita yang merupakan ibu dari Arion si bayi malang itu ke dalam ambulans. Dengan berderai air mata, ayah Arion mengikuti istrinya untuk masuk ke dalam ambulans.
"Tunggu, saya ikut. Saya yang ada bersama wanita itu tadi," ucap Ruby dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ambulans tersebut.
Petugas kesehatan dalam ambulans itu dan ayah dari Arion tidak melarangnya. Bagi mereka yang terpenting adalah ibu dari Arion bisa cepat mendapat pertolongan.
"Kita bawa ke rumah sakit lainnya. Rumah sakit dekat sini IGD nya sedang penuh," ucap petugas kesehatan yang ada di dalam ambulans pada sopir ambulans tersebut.
Huuufffttt... Hampir saja aku tertangkap lagi. Untung saja polisi-polisi itu tidak melihatku. Untungnya mereka hanya fokus pada mobil itu dan wanita ini. Dan beruntungnya lagi, wanita ini tidak dibawa ke rumah sakit itu. Aku rasa memang dewi keberuntungan sedang berpihak padaku, Ruby berkata dalam hatinya.
Selama perjalanan dalam mobil ambulans itu, Ruby hanya menundukkan kepalanya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut dirinya.
Setelah beberapa saat, mobil ambulans tersebut telah sampai di sebuah bangunan besar yang bertuliskan nama rumah sakit tersebut. Mereka segera membawa wanita tersebut masuk ke dalam IGD.
"Maaf Pak, sebaiknya Bapak tunggu di luar saja. Apalagi Bapak membawa bayi," tutur salah satu perawat pada ayah Arion.
"Pak, mungkin bayinya haus. Lebih baik Bapak memberikan susu formula saja. Kasihan bayinya Pak," tutur perawat yang akan masuk ke dalam ruang IGD.
Ayah Arion menoleh ke arah Ruby yang duduk tidak jauh dari tempatnya. Kemudian dia berkata,
"Mbak, apa bisa bantu saya?"
Ruby mengangguk dengan ragu-ragu dan berkata,
"Bantu apa Pak?"
"Tolong belikan saya susu formula untuk anak saya. Ini uangnya," jawab ayah Arion seraya tangannya mengambil dompet dalam saku celananya.
"Maaf Pak, saya takut salah. Sebaiknya Bapak saja yang membelikan susu formula untuk anak Bapak. Biar saya saja yang menggendong anak Bapak di sini sambil menunggu istri Bapak yang ada di dalam," tutur Ruby dengan sedikit ragu.
__ADS_1
Dengan berat hati ayah Arion menyerahkan Arion pada Ruby dan berkata,
"Saya titip Arion sebentar. Tolong jaga Arion. Jangan ke mana-mana, saya hanya sebentar saja."
Ruby mengangguk setuju. Dia menerima bayi yang bernama Arion itu dan menggendongnya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat wajah damai Arion yang mengingatkannya pada bayinya yang tidak bisa dimilikinya waktu itu.
Hanya beberapa menit saja ayah Arion kembali dengan membawa susu formula yang sudah diseduhnya. Dia memberikan botol susu tersebut pada Arion dengan harapan dia akan lebih tenang dan tidak menangis lagi.
Benar saja, kini Arion sudah lebih tenang dalam gendongan Ruby. Dia sudah tidak menangis lagi dan memejamkan matanya sambil menikmati susu formula yang ada pada botol susu tersebut.
"Maaf merepotkan Mbak. Sini Mbak biar Arion saya gendong," ucap ayah Arion sambil mengulurkan tangannya untuk meraih tubuh anaknya.
"Biar saya saja Pak. Nanti dia bangun jika berpindah gendongan, kasihan Pak, dia baru saja tidur," tukas Ruby tanpa menoleh ke arah ayah Arion, dia hanya memandang wajah Arion sambil tersenyum pada bayi tersebut.
Tiba-tiba pintu ruang IGD terbuka. Keluarlah seorang perawat dari ruangan tersebut dan berseru,
"Dengan keluarga pasien."
Seketika ayah Arion berdiri dari duduknya dan menghampiri perawat tersebut seraya berkata,
"Bagaimana keadaan istri saya?"
Datanglah seorang dengan memakai jas berwarna putih menghampiri mereka. Dokter tersebut berkata,
"Maaf Pak, kami turut berduka cita. Istri Bapak mengalami serangan jantung. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain."
Seketika badan ayah Arion lemas. Air matanya keluar dengan sendirinya seraya berkata,
"Tidak, tidak mungkin... Bunda tidak akan meninggalkan Ayah dan Arion sendirian tanpa seorang ibu yang mengurusnya."
Tanpa terasa air mata Ruby ikut menetes. Dia merasakan kesedihan yang mendalam dari tangisan ayah Arion. Saat itu juga Arion menangis kembali, seolah dia tahu aoa yang telah terjadi. Dengan susah payahnya Ruby berusaha menenangkannya. Sedangkan ayah Arion mengikuti jasad istrinya yang dipindahkan ke ruangan jenazah, serta mengurusi kepulangan jasad istrinya.
"Kasihan kamu, masih bayi tapi sudah ditinggal ibumu," ucap Ruby sambil menatap wajah tidak berdosa bayi tersebut.
__ADS_1
Tiba-tiba Ruby teringat akan sesuatu. Kemudian dia berkata lirih,
"Apa mereka akan meminta pertanggung jawabanku?"