Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 25 Pengakuan


__ADS_3

Bam!


Rafael membuka dengan kencangnya pintu kamar Ayana hingga Bu Anisa dan Ayana yang berada di dalam tersebut terkejut melihat ke arah pintu.


Rafael dengan nafas yang terengah-engah masuk ke dalam kamar tersebut dan memeluk erat tubuh Ayana sambil mencium pucuk kepala istrinya itu dengan sangat lama seolah baru saja bertemu dari perpisahan yang sangat lama.


"Raf, kenapa? Ada apa Sayang?" tanya Ayana yang masih berada dalam pelukan Rafael.


Bu Anisa tersenyum melihat suami putrinya yang terlihat sangat sayang dan cinta pada istrinya. Dia segera keluar dari kamar tersebut untuk memberikan kesempatan pada Ayana dan Rafael menuntaskan rasa rindu mereka.


Padahal mereka baru berpisah hanya beberapa menit saja, tapi seperti sudah berpisah beberapa hari, Bu Anisa berkata dalam hatinya sambil tersenyum melihat putri dan menantunya yang masih berpelukan.


Rafael semakin mengeratkan pelukannya pada Ayana dan ciumannya pada pucuk kepala istrinya itu semakin dalam.


"Sayang... ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ayana kembali.


Rafael mengurai pelukannya. Dia duduk di sebelah istrinya, memegang kedua tangannya sambil menatap istrinya dengan penuh cinta seraya berkata,


"Wanita jahat itu sudah mengakui semuanya."


Rafael kembali meraih tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukannya. Dia mengusap-usap punggung istrinya seraya berkata,


"Kamu gak usah takut, aku pasti akan melindungi mu."


"Sebenarnya ada apa sih Raf? Apa yang dikatakannya padamu?" tanya Ayana dengan rasa ingin tahunya.


Rafael tersenyum dan menggelengkan kepalanya agar istrinya tidak khawatir. Ayana mengernyitkan dahinya seolah masih mempertanyakannya. Dia tidak puas dengan jawaban dari suaminya.


Melihat hal itu, Rafael segera mengecup dahi istrinya agar tidak berkerut. Setelah itu dia mencium kedua mata istrinya secara bergantian, lalu dia mendaratkan bibirnya pada bibir istrinya. Dia meraup dengan lembut bibir istrinya itu penuh dengan perasaan. Ciuman itu semakin lama semakin menuntut hingga mereka berdua larut dalam perasaan mereka.


Rasa cinta dan sayang mereka disampaikan melalui gerakan mereka saat ini. Dengan sangat lembut dan penuh cinta Rafael memperlakukan istrinya hingga dia terbuai dan larut dalam situasi saat ini.


Kegelisahan dan kekhawatiran yang mereka rasakan, kini telah melebur dalam rasa yang mereka satukan.


Rafael memakaikan kembali pakaian Ayana setelah kegiatan panas mereka selesai. Bibirnya tak henti-hentinya mencium dahi dan bibir istrinya. Kemudian dia berkata,


"Terima kasih Sayang. Aku sangat mencintaimu."


Ayana tersenyum dan matanya terpejam karena kelelahan dengan aktivitas panas mereka.


Rafael memeluk tubuh istrinya dan menatap langit-langit kamar, pikirannya menerawang jauh mengingat pengakuan Kessy tadi tepat di hadapannya.

__ADS_1


Flashback


"Katakan! Apa alasanmu melakukan teror pada istriku!" seru Rafael yang sedang berjongkok di hadapan Kessy dengan menatap bengis padanya.


Kessy tertawa seolah mengejek Rafael yang sedang marah padanya. Dia enggan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Rafael padanya. Bahkan seringainya membuat Rafael bertambah kesal padanya.


Rafael memberikan kode pada salah satu bodyguard nya agar mereka kembali memaksa Kessy untuk mengakui perbuatannya dan mengatakan apa rencananya pada Ayana.


Rambutnya kembali dijambak oleh salah satu bodyguard dan yang lainnya ikut menghajarnya.


Bugh!


Plak!


Kessy meringis kesakitan hingga keluar cairan merah segar dari sudut bibirnya. Dia menyeringai tanpa mengadu kesakitan.


Berkali-kali mereka memukul dan menyiksanya, sayangnya tetap saja Kessy tidak mau mengatakannya.


Rafael mengeram marah. Dia menatap bengis pada Kessy seolah ingin menghabisinya.


"Siksa dia sampai mengaku! Jika tetap diam, gunakan saja tubuhnya secara bergantian sampai dia mau mengaku!" perintah Rafael pada para bodyguard nya sambil menatap bengis pada Kessy.


"Gila kau Raf! Kamu pikir tubuhku gratis?!" seru Kessy dengan tatapan membunuhnya pada Rafael yang juga menatap bengis padanya.


"Bukankah selama ini tubuhmu memang untuk dijajakan?"


"Tentu saja, tapi tidak gratis!" seru Kessy dengan emosi.


"Oh jadi kamu obral tubuhmu selama ini?" sahut Rafael sambil menyeringai dan menatap jijik pada Kessy.


Kessy menatap penuh amarah pada Rafael yang mengatakan tubuhnya bisa digunakan secara gratis. Kemudian dia berkata,


"Sialan kamu Raf! Aku tidak akan memaafkan kamu jika sampai mereka semua menyentuhku!"


Rafael tertawa mendengar ancaman Kessy padanya. Dia semakin tertantang untuk melakukannya. Dia beranjak dari hadapan Kessy dan memandang para bodyguard nya seraya berkata,


"Pakai dia sesuka hati kalian! Dan pastikan dia mengatakannya!"


"Rafa! Sialan kamu!" teriak Kessy dengan penuh amarah pada Rafael.


Rafael hanya tertawa. Dia memberikan kode pada para bodyguard nya agar cepat bertindak. Satu per satu bodyguard tersebut maju dan menyeringai mendekati Kessy hingga membuat Kessy ketakutan pada mereka.

__ADS_1


"Stop! Berhenti kalian!" teriak Kessy dengan sekuat tenaganya.


Ketua tim dari bodyguard tersebut berjongkok di hadapan Kessy. Dia memegang dagu Kessy dan mendongakkannya. Kemudian dia menyeringai, menunjuk tubuh Kessy dan berkata,


"Katakan atau akan kami nikmati tubuhmu ini!"


Kessy menatap tajam pada bodyguard tersebut. Dia hendak meludahinya, sayangnya gerakan Kessy bisa dilihat dengan cepat oleh bodyguard tersebut. Dagu Kessy kembali dipegang dengan kasarnya oleh bodyguard tersebut seraya berkata,


"Katakan atau...."


Wajah bodyguard tersebut mendekati wajah Kessy seolah hendak menciumnya. Dia kembali menyeringai dan berkata,


"Aku nikmati tubuhmu ini."


Hidung mereka sudah bersentuhan. Bahkan nafas mereka saling menerpa pada kulit wajah masing-masing.


"Aku yang meneror di rumahnya," sahut Kessy dengan cepatnya.


Rambut Kessy kembali dijambak olehnya seraya berkata,


"Katakan, apa lagi!"


"Aku yang menyuruh Satria untuk menerornya," ucap Kessy dengan nafasnya yang memburu.


"Kurang ajar! Kenapa kamu lakukan itu pada istriku?!" teriak Rafael dengan tatapan membunuh pada Kessy.


"Karena aku benci dia! Aku telah kehilangan anakku dan dia sekarang sedang mengandung anakmu. Dia merebut kamu dari aku. Sampai kapan pun aku tidak akan rela. Aku akan membuatnya gila! Aku akan mencabik-cabik wajahnya dan mencongkel matanya!" seru Kessy disertai tawanya pada saat membicarakan apa yang akan dilakukannya pada Ayana.


"Dasar gila! Wanita sakit jiwa!" teriak Rafael memaki Kessy.


"Terserah kalian apakan dia. Jangan sampai dia lolos!" perintah Rafael pada para bodyguard nya.


Setelah itu dia pergi meninggalkan tempat tersebut dengan penuh amarah. Saat ini yang ada di dalam pikirannya hanya istrinya. Dia berlari sekencang-kencangnya menuju rumah orang tua Ayana.


Rafael tidak sabar untuk bertemu dengan istrinya. Dia ingin segera memeluk dan membawanya dalam dekapannya selalu untuk melindunginya dari segala hal.


Flashback end


Rafael memandang wajah damai istrinya. Dia merasakan cinta yang begitu dalam di hatinya. Bahkan dia merasa jika tidak bisa hidup tanpa istrinya itu. Apalagi kini ada buah hati mereka dalam kandungan istrinya itu.


"Sayang, aku berjanji akan selalu melindungi kalian berdua, sampai kapan pun," ujar Rafael sambil mengusap lembut pipi Ayana yang masih terbuai dalam alam mimpinya.

__ADS_1


Tiba-tiba ada dering telepon yang terdengar dari ponsel Rafael. Dengan segera dia mengambil ponselnya dari saku celananya dan mengangkatnya agar tidak mengganggu tidur istrinya.


Halo, Bos, apa tidak sebaiknya wanita ini kita serahkan saja ke polisi?


__ADS_2