Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 23 Ketulusan cinta


__ADS_3

Sepasang mata yang mengintai Ayana dan Rafael sedari tadi masih saja memperhatikan mereka sewaktu menghajar Satria.


Dia mengeram marah ketika melihat Ayana dan Rafael yang saling melindungi. Selain itu dia juga sangat emosi melihat Satria yang menceritakan semuanya pada Ayana dan Rafael.


Dia mencari sesuatu untuk melampiaskan kekesalannya pada mereka. Matanya berkeliling di sekitarnya untuk mencari benda tersebut. Seketika matanya berbinar ketika melihat batu yang ukurannya tidak begitu besar dan tidak juga kecil. Segera diambilnya batu tersebut dan dilemparkannya sekuat tenaganya ke arah Ayana.


Pluk!


"Awww...," Ayana meringis kesakitan ketika batu yang dilemparkan itu mengenai tepat di pelipisnya.


Sontak saja Rafael dan Satriya menoleh ke arah Ayana. Mereka terkejut melihat pelipis Ayana yang mengeluarkan cairan berwarna merah.


Rafael segera memegang pelipis Ayana yang masih mengeluarkan cairan berwarna merah seraya berkata,


"Sayang, kamu kenapa?"


"Kejar dia!" teriak seseorang dari tempat yang tidak jauh dari mereka.


"Sialan!" umpat Rafael ketika melihat bodyguard mereka mengejar seseorang yang berpenampilan mencurigakan.


"Ruby?!" celetuk Satria yang melihat orang misterius tersebut sedang dikejar oleh beberapa orang.


Sontak saja Rafael menoleh ke arah Satria dan bertanya padanya,


"Apa? Ruby? Apa dia Ruby?"


Satria menoleh ke arah Rafael dan menganggukkan kepala pada Rafael yang menatapnya dengan serius.


"Jadi dia juga yang menyuruhmu melakukan semua ini?" tanya Rafael kembali dengan dahinya yang mengernyit.


Satria kembali menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan sesuatu untuk menjawab pertanyaan Rafael yang ditujukan padanya.


Rafael menghela nafasnya. Rasanya saat ini dia merasa kecolongan. Padahal sudah banyak bodyguard yang menjaga mereka, sayangnya kelicikan Ruby bisa mengecoh mereka.


Mendengar nama Ruby, Ayana seketika memeluk tubuh suaminya. Dia merasa benar-benar ketakutan dan terancam.

__ADS_1


"Tenang Sayang, tenang. Tidak akan terjadi apa pun. Aku janji akan selalu melindungi mu," tutur Rafael sambil memeluk dan mengusap-usap lembut punggung Ayana untuk menenangkannya.


Ayana lebih mengeratkan pelukannya pada suaminya dan berkata,


"Aku takut Raf. Aku takut Rubah betina itu kembali mencelakakan aku dan bayi kita. Dia sangat tega dan gak ada belas kasihan. Aku takut Raf... Aku takut...."


Rafael memeluk lebih erat istrinya dan mengecup dahinya dengan sangat lama. Kemudian dia berkata,


"Jangan takut Sayang. Aku aka selalu menjagamu. Aku akan selalu ada di sisimu."


Melihat Ayana dan Rafael yang begitu jelas sangat mencintai, Satria merasa ragu untuk bisa mendapatkan hati Ayana. Dia merasa tidak ada celah yang bisa dimasukinya.


Kenapa beda sekali dengan yang dikatakan oleh Ruby? Padahal dengan jelas aku melihat sendiri bukti-bukti yang diberikan oleh Ruby padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya aku harus mencari tahu lagi, Satria berkata dalam hatinya.


Rafael menoleh ke arah Satria yang sedang menatap ke arahnya. Dia menatap kesal pada Satria seraya berkata,


"Bodoh! Apa wanita licik itu yang lebih kamu percaya dibandingkan dengan kami yang pernah menjadi temanmu? Terlebih lagi kamu mengatakan masih menyimpan perasaan pada istriku. Bagaimana bisa kamu mengatakan itu dengan cara menyakitinya? Memberinya teror di saat dia sedang mengandung? Dan lihat itu, mana ada wanita yang sedang mengandung bisa berlari sekencang itu?"


Sontak saja Satria merasa sangat bodoh saat ini. Dia merasa telah dipengaruhi oleh Ruby yang sejak dulu dibencinya.


"Apa kamu sudah memeriksa kebenarannya? Apa kamu sudah membuktikannya dengan mata kepala kamu sendiri? Kenapa kamu jadi sebodoh itu Satria?! Mana Satria yang terkenal smart itu? Apa kamu akan mengatakan jika itu semua karena rasa cintamu pada Ayana? Salah! Kamu hanya terobsesi padanya. Kamu terobsesi untuk mendapatkan Ayana yang sudah menjadi istriku. Benar bukan?" ujar Rafael dengan kesal dan menatap tajam pada Satria.


Seketika Satria merasa terpojok. Dia tidak bisa mengatakan apa pun saat ini. Semua yang dikatakan oleh Rafael terasa benar. Dia baru menyadari kesalahannya. Kebodohannya ini menjadikannya sebagai seorang penjahat di hadapan Ayana.


"Maaf," ucap Satria sambil menundukkan kepalanya.


Sontak saja Ayana sedikit mengurai pelukan Rafael padanya dan menoleh ke arah Satria. Dia menatap Satria yang terlihat sangat bersalah padanya. Kemudian dia berkata,


"Carilah perempuan lain Satria. Cari cintamu yang aku yakin ada di antara para perempuan di luar sana. Jangan memaksakan cintamu pada seseorang, karena itu bukan cinta. Benar kata Rafael. Rasa yang dipaksakan itu hanya akan menjadi obsesi yang berlebihan. Dan takutnya nanti akan berbahaya baginya."


"Maaf Ayana. Maafkan aku. Entah mengapa aku jadi bodoh begini hanya karena mendengar kamu menderita saat ini. Aku baru sadar ketika melihat ketulusan cinta kalian. Maafkan aku. Aku akan pergi sekarang," tukas Satria seraya berdiri dengan memegang bagian tubuhnya yang terkena bogem mentah dari Rafael.


Satria berjalan mendekati Rafael dan Ayana yang masih berpelukan. Sayangnya semakin Satria mendekat, Rafael yang masih dalam posisi memeluk istrinya melangkah mundur.


Satria tersenyum kecut melihat Rafael dan Ayana yang seolah menghindarinya sepeti takut padanya. Kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata,

__ADS_1


"Aku hanya ingin meminta maaf dan berjabat tangan dengan kalian."


Seketika Rafael menutupi tubuh Ayana dengan punggungnya. Dia berada di depan Ayana agar Satria tidak bisa melihatnya atau pun menggapainya.


"Raf, aku hanya ingin meminta maaf pada Ayana," ucap Satria dengan tatapan mengiba pada Rafael.


Rafael sedikit menoleh ke belakang. Dia juga tetap waspada dengan Satria. Dia pun berkata,


"Sayang, apa kamu memaafkannya?"


"Iya, aku maafkan. Dan tolong jangan melakukan hal itu lagi," jawab Ayana yang berlindung di balik tubuh suaminya.


Rafael menyeringai melihat Satria tampak sedih saat ini. Kemudian dia berkata,


"Kamu sudah dengar sendiri bukan?"


Dengan wajah sedihnya itu Satria menganggukkan kepalanya. Dia menatap sedih pada Ayana yang tidak mau melihatnya. Dalam hatinya berkata,


Apa Ayana takut padaku? Atau dia marah padaku? Atau dia benci padaku karena perbuatanku itu? Sepertinya aku memang salah. Tidak seharusnya aku mempercayai Ruby yang selalu bertindak egois sejak dulu.


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari sini Sat. Tapi jika kami membutuhkan bantuanmu untuk menghukum Ruby, apa kamu bersedia?" tanya Rafael dengan tegas pada Satria yang masih berdiri di hadapannya.


Satria menganggukkan kepalanya seraya berkata,


"Tentu Raf. Aku akan membantu. Aku akan memberikan keterangan sesuai dengan fakta yang ada. Sekali lagi maafkan aku Rafael, Ayana. Aku akan pergi sekarang."


Satria benar-benar pergi dari tempat itu. Dia pergi dengan membawa luka yang belum bisa diobatinya sejak terkuaknya fakta pernikahan Ayana dan Rafael.


Rafael kembali membawa Ayana dalam pelukannya seraya berkata,


"Sekarang kita sudah bisa lebih tenang. Semoga Wanita iblis itu bisa ditangkap oleh mereka agar tidak bisa lagi mengganggu kita."


"Lepaskan!"


"Sialan kalian semua!"

__ADS_1


"Lepaskan aku!"


__ADS_2