Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 44 Akal licik Ruby


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu. Sudah seminggu ini Ruby berada di rumah Fabian sebagai pengasuh Arion. Sebenarnya Fabian sudah menyuruhnya untuk meninggalkan rumahnya, hanya saja wajah memelas Ruby pada saat memohon padanya, membuat Fabian merasa iba. Dan akhirnya Fabian pun menyetujui permintaan Ruby untuk tinggal di rumah itu sebagai pengasuh Arion.


"Intan, barang apa saja yang kita butuhkan? Maaf, biasanya Bunda Arion yang berbelanja bulanan. Saya hanya mengantarnya saja. Jadi saya tidak tau barang apa saja yang dibutuhkan tiap bulan di rumah ini," ujar Fabian ketika sedang makan bersama dengan Ruby di meja makan.


Ruby meminta Fabian untuk dipanggil dengan nama Intan ketika Fabian menanyakan nama apa yang akan digunakannya untuk memanggil Ruby yang sedang hilang ingatan.


"Lebih baik kita berbelanja bersama saja Pak. Arion anak yang baik, dia pasti tidak akan rewel jika diajak berbelanja," tukas Ruby sambil tersenyum pada Fabian.


"Kamu benar. Arion memang anak yang baik. Dia tidak pernah rewel meskipun bundanya sudah tidak bersamanya lagi," pungkas Fabian sambil tersenyum melihat ke arah Arion yang sedang tertidur di dalam stroller di dekat mereka.


Intan mengikuti arah pandang Fabian yang sedang melihat putranya. Kemudian dia berkata,


"Mungkin Arion tidak ingin melihat ayahnya bersedih."


Fabian tersenyum mendengar perkataan Intan padanya. Dia memandang Intan dan tersenyum padanya. Kemudian dia berkata,


"Itu juga berkata bantuanmu yang menjaga Arion dengan sangat baik. Terima kasih telah menjaganya untuk menggantikan bundanya."


Intan terkesiap mendengar perkataan Fabian yang mengatakan jika dia telah menggantikan bunda Arion. Dalam hatinya berkata,


Apa dia ingin aku menggantikan posisi istrinya? Sepertinya boleh juga. Apa aku harus melakukan aksiku untuk mempercepat prosesnya?


Intan terlalu percaya diri, sama seperti dirinya ketika menjadi Ruby. Dia merasa puas jika bisa menaklukan laki-laki, sehingga laki-laki itu tidak mau lepas darinya.


Setelah mereka selesai makan, Fabian mengajak Intan dan Arion untuk berbelanja kebutuhan mereka sehari-hari. Mereka bertiga layaknya sebuah keluarga bahagia. Apalagi Intan yang masih saja memakai semua baju milik almarhumah istri Fabian. Sehingga membuat para tetangga semakin membicarakan mereka.


Fabian mengingat momen berbelanja dengan istrinya ketika melihat Intan memasukkan barang-barang belanjaan mereka pada troli belanja yang akan mereka bayar di kasir.


Fabian tersenyum melihat Intan begitu pas dan memakai baju milik istrinya. Dalam hatinya berkata,


Apa ini caramu menghiburku Sayang? Kamu pergi dan meninggalkan wanita ini agar aku tetap mengingatmu dan tidak merasa kehilanganmu.


Setelah mereka selesai berbelanja, Fabian mengajak Intan makan di tempat biasanya Fabian dan istrinya makan seusai berbelanja. Sayangnya Intan menolaknya dengan alasan lebih hemat jika dia memasak sendiri di rumah. Alasan Intan itu membuat Fabian simpati padanya.


Namun, tanpa diketahui oleh Fabian alasan Intan yang sebenarnya. Dia hanya menghindari bertemu dengan banyak orang karena takut ada yang menyadari keberadaannya. Sedangkan untuk pergi berbelanja saja Intan terburu-buru agar mereka cepat pulang dan tentunya matanya selalu waspada melihat sekelilingnya.


Akhirnya mereka pun pilang dan makan di rumah dengan masakan Ruby yang ala kadarnya.

__ADS_1


"Intan, saya pergi sebentar. Teman-teman saya mengadakan acara reunian di rumah baru teman kami," ucap Fabian setelah menerima telepon dari temannya.


"Iya Pak, tenang saja, Arion aman bersama dengan saya," tukas Intan sambil tersenyum padanya.


Berangkatlah Fabian menuju rumah baru temannya. Di sana hanya ada para lelaki yang ingin bercerita satu sama lain tentang hidup mereka dengan ditemani beberapa botol minuman beralkohol yang membuat mereka semakin menjadi-jadi dalam bercerita.


Fabian yang dalam keadaan mabuk itu diantarkan oleh temannya yang masih sadar. Temannya itulah yang menjemput Fabian ketika berangkat tadi.


Sesampainya di rumah, Fabian berjalan sempoyongan masuk ke dalam rumahnya. Dia segera berjalan menuju kamarnya. Bibirnya melengkung ke atas ketika melihat seorang wanita yang sedang tidur memeluk Arion.


Dalam pikiran Fabian saat ini adalah istrinya yang sedang tidur bersama anak mereka. Dengan berjalan sempoyongan dan tersenyum dia mendekati Intan yang dikiranya adalah almarhumah istrinya. Apalagi saat ini Intan telah memakai daster yang biasanya dipakai oleh almarhumah istrinya.


Tangan Fabian mengusap lembut kaki Intan yang rok dasternya tersibak memperlihatkan paha mulusnya. Matanya berbinar melihat paha mulus itu hingga terlihat jelas kain penutup bagian inti pada tubuh Intan.


Kini Fabian dikuasai oleh hasratnya yang rindu akan kehadiran istrinya. Bayangan almarhumah istrinya yang ada pada diri Intan saat ini membuat Fabian menginginkannya.


"Sayang... aku menginginkanmu," bisik lembut Fabian pada telinga Intan.


Mata Intan terbuka dan dia tersenyum manis pada Fabian. Intan bangun dari tidurnya. Dia melingkarkan kedua tangannya pada leher Fabian. Dia meraup bibir Fabian dengan sangat antusias, sehingga membuat gelora yang ada dalam diri Fabian semakin terpacu.


Tangan Intan membuka baju Fabian dan membuangnya ke sembarang arah. Hal itu membuat Fabian semakin terpacu, selama ini almarhumah istrinya tidak seagresif wanita yang bersamanya sekarang.


Dengan perasaannya yang membara, Fabian segera memberikan sentuhan dan perlakuan khusus sehingga wanita yang ada di hadapannya itu merasa melambung tinggi dan merasakan kesenangan yang sama seperti yang dirasakannya saat ini.


Mereka berdua, Intan dan Fabian melakukan hubungan suami istri dengan ditemani oleh Arion yang sedang tertidur pulas di tempat tidur yang sama dengan mereka.


Suara decapan dan lenguhan dari mereka berdua memenuhi kamar tersebut. Hingga tempat tidur yang bergerak karena ulah mereka itu pun membuat baby Arion bergerak tanpa membuka matanya. Akan tetapi hal itu tidak menghentikan apa yang mereka sedang lakukan.


Mereka melakukannya lumayan lama karena sama-sama sudah lama tidak melakukan hal itu. Setelah merasa cukup dan kelelahan, mereka menuntaskannya bersamaan. Suara lenguhan mereka yang bersamaan ketika mengeluarkan cairan kenikmatan mereka itu mengakhiri kegiatan mereka.


Mereka berdua merebahkan dirinya dengan saling memeluk tanpa memakai kembali kain penutup untuk tubuh mereka.


"Sayang, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," ucap Fabian seraya mencium kening Intan.


"Aku juga mencintaimu," bisik Intan di telinga Fabian sambil tersenyum penuh kemenangan.


Arion, bayi kecil itu masih tertidur dengan nyenyaknya di samping Fabian, lebih tepatnya di belakang Fabian yang sedang memeluk tubuh Intan dengan sangat erat, seolah tidak mau kehilangannya.

__ADS_1


...----------------...


Sinar matahari yang masuk menyelinap ke dalam kamar itu membuat Arion menangis. Tangisan dari Arion membuat mata Fabian dan Intan terbuka.


Fabian terperangah ketika melihat wajah Intan yang matanya baru saja terbuka berada tepat di hadapannya. Intan tersenyum manis padanya dan berkata,


"Selamat pagi Mas."


Seketika Fabian tersadar jika Intan tidak seharusnya berada di hadapannya dengan jarak sedekat itu. Dia semakin terkejut ketika melihat tubuh mereka yang polos tanpa memakai apa pun saat ini.


"Ini... kita...," ucap Fabian yang tidak mampu meneruskan perkataannya.


"Kita melakukannya Mas. Sepertinya Mas Fabian sangat menginginkannya hingga membangunkan aku dan melakukan itu padaku. Tapi aku tidak menyesal Mas, karena Mas Fabian orang yang baik dan yang terpenting Mas Fabian mengatakan cinta padaku," tutur Intan sambil melingkarkan kedua tangannya pada leher Fabian yang sedang duduk berhadapan dengannya di tempat tidur tersebut.


Fabian menutup matanya sambil menghela nafasnya yang terdengar sangat berat. Dia mengingat-ingat apa yang terjadi semalam. Dalam hati dia berkata,


Maafkan aku Sayang. Maafkan aku Bunda. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu. Aku mengira jika dia adalah dirimu. Maaf Sayang... Tolong maafkan aku Bunda....


Saat itu juga Arion menangis semakin kencang. Intan berdiri dan berjalan memutar menghampiri Arion yang ada di belakang Fabian dengan berlenggak-lenggok untuk menarik perhatian Fabian.


Terlihat jelas tubuh molek Intan dengan semua asetnya di mata Fabian. Sebagai laki-laki normal, Fabian menelan ludahnya dan berkata dalam hatinya,


Pantas saja semalam yang bersamaku lebih agresif. Ternyata dia bukan Bunda, dia Intan. Dan memang aku akui dia lebih cantik dan tubuhnya lebih indah dibandingkan dengan Bunda. Tapi ini tidak adil untuk Bunda.


"Mas... Tolong gendong Arion, aku akan membuatkannya susu formula," perintah Ruby yang sudah berdiri di depan Fabian sambil memberikan Arion padanya.


Mata Fabian tertuju pada dada Intan yang masih belum memakai apa pun. Kedua aset kembar berharga milik Intan itu seolah memanggil Fabian untuk menyentuhnya. Dalam hati Fabian berkata,


Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku jadi seperti ini padanya?


Intan tersenyum manis pada Fabian. Dalam hatinya dia berteriak menyuarakan kemenangannya.


Setelah memberikan botol yang berisi susu formula pada Arion, Intan yang masih dalam keadaan tidak memakai apa pun itu, kembali menidurkan baby Arion.


Fabian tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya. Dia terpaku melihat kedekatan Intan dengan Arion, putra yang ditinggalkan almarhumah istrinya.


Tiba-tiba dia terhenyak ketika Intan sudah berada di atas pangkuannya. Bibirnya bergerak mendekati telinga Fabian dan berbisik,

__ADS_1


"Bagaimana jika kita mandi bersama Mas?"


__ADS_2