
Perlahan Rafael mengurai pelukannya. Dia beranjak dari tempat tidur dengan sangat hati-hati sekali. Berdirilah dia di depan pintu kamarnya dan memperhatikan layar ponselnya untuk melihat pesan video yang dikirimkan oleh bodyguard nya.
Dahi Rafael mengernyit ketika mendengar nama Satria disebut oleh orang yang menjadi tawanan mereka. Dia pun berkata,
"Satria? Kenapa orang itu mengatakan nama Satria?"
Rafael masih saja memperhatikan layar ponselnya. Dia ingin tahu apa yang selanjutnya dikatakan oleh orang tersebut.
Dahinya kembali mengernyit ketika mendengar apa yang dikatakan oleh orang tersebut. Kemudian dia berkata,
"Gelang? Gelang bertuliskan satria? Apa orang itu benar-benar Satria? Jika memang benar Satria, apa tujuannya melakukan ini semua?"
Rafael benar-benar ingin mengetahuinya. Semua informasi yang didapatkannya seolah potongan puzzle yang harus disatukannya.
Merasa sangat penasaran, Rafael mencari foto Satria dan mengirimkannya pada bodyguard tersebut agar memperlihatkannya pada tawanan mereka.
"Mmm... Sayang... Kamu di mana?"
Terdengar sayup-sayup suara Ayana yang sedang memanggil Rafael dari dalam kamarnya.
Dengan segera Rafael bergegas masuk ke dalam kamarnya setelah mendengar suara istri tercintanya.
"Ay, kenapa Sayang. Apa butuh sesuatu?" tanya Rafael ketika masuk ke dalam kamarnya.
"Kamu dari mana Raf? Kenapa aku ditinggal sendiri?" tanya Ayana sambil merentangkan kedua tangannya untuk meminta pelukan pada suaminya.
Rafael tersenyum dan segera berhambur memeluk istrinya. Dipeluknya dengan penuh perasaan istrinya itu dan diusapnya perlahan punggungnya seraya berkata,
"Aku hanya dari kamar mandi saja Sayang. Apa kamu butuh sesuatu? Minum atau makan mungkin?"
Ayana mengurai pelukannya. Dia menatap intens mata suaminya serta menggelengkan kepalanya dan berkata,
__ADS_1
"Aku cuma ingin selalu bersamamu."
Rafael menatap intens manik mata istrinya dan tersenyum manis padanya. Tangannya mengusap lembut pipi istrinya seraya berkata,
"Aku akan selalu bersamamu Sayang. Aku gak akan meninggalkanmu lama. Aku hanya ke kamar mandi saja. Sekarang kamu mau apa? Apa butuh sesuatu?"
Ayana kembali menggelengkan kepalanya. Dia kembali memeluk erat tubuh suaminya seraya berkata,
"Aku ingin tidur saja dalam pelukanmu."
Rafael pun segera membaringkan istrinya dan membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Ayana mencari tempat ternyaman dalam pelukan suaminya. Kepalanya bersandar pada dada bidang suaminya dan memeluk erat tubuhnya agar tidak meninggalkannya.
Rafael memeluk tubuh istrinya dan menciumi pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan. Dalam hatinya berkata,
Ay, siapa sebenarnya dalang dari semua ini? Kenapa setelah nama Ruby sekarang bertambah dengan Satria? Apa Satria masih belum bisa mengikhlaskan rasa cintanya padamu?
Setelah beberapa saat, dengkuran halus kembali terdengar dari mulut mungil istrinya itu. Dia tersenyum dan mengecup mesra bibir menggoda milik sang istri.
Ingin sekali dia ikut ke dalam alam mimpi bersama istrinya. Hanya saja dia tidak bisa memejamkan matanya sebelum mengetahui siapa Satria yang dimaksud oleh si peneror pengganti itu. Dia masih menunggu kabar dari bodyguard nya untuk mencari informasi lebih lanjut tentang Satria.
Merasa tidak tenang menunggu kabar dari mereka, Rafael mengambil ponselnya dan mencari tahu tentang Satria dari media sosialnya.
Dari akun media sosial milik Satria, teman kuliahnya yang pernah mencintai dan menginginkan Ayana, Rafael menemukan beberapa foto Satria yang memperlihatkan tangannya.
Dalam foto tersebut, Satria memperlihatkan tangannya yang memakai gelang bertuliskan 'satria' dengan memberitahukan pada semuanya bahwa gelang tersebut pemberian dari Ayana.
Sontak saja dada Rafael bergemuruh. Hatinya merasa sangat marah melihat foto tersebut. Bahkan dia memperbesar foto Satria yang sedang memakai gelang tersebut di tangan kirinya pada foto lainnya.
Sial! Apa-apaan ini? Rafael mengeram marah salam hatinya ketika melihat foto-foto tersebut.
Bahkan banyak sekali foto-foto Ayana yang masih kuliah pada saat itu. Rafael sadar jika pada saat itu memang Ayana sedang berteman dekat dengan Satria. Hanya saja Satria mengharapkan lebih dari sekedar pertemanan dengannya.
__ADS_1
Rafael menatap wajah damai istrinya yang sedang bermimpi indah di alam mimpinya. Dalam hatinya berkata,
Ay, benarkah kamu memberi gelang itu pada Satria? Aku sangat cemburu padanya Ay. Kenapa dia mendapatkan barang seperti itu darimu sedangkan aku tidak? Padahal aku tau jika saat itu memang aku yang salah. Kamu memang gak pernah salah Ay. Bahkan pada saat aku masih bersama dengan Ruby, kamu masih saja setia dengan pernikahan kita. Maafkan aku Ay, aku sangat menyesal. Aku berjanji gak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi. Aku janji Ay.
Rafael kembali mencium pucuk rambut istrinya lama dan penuh dengan rasa cinta. Tanpa disadarinya, air matanya menetes begitu saja. Tidak pernah dia meneteskan air matanya untuk hal lainnya. Air mata itu selalu saja menetes hanya untuk istrinya, Ayana.
Ponsel yang ada dalam genggamannya itu bergetar. Rafael segera melihat pesan yang sedari tadi ditunggunya.
Dadanya bergerak naik turun dengan nafasnya yang tidak beraturan. Dia mengeratkan gigi-giginya menahan amarahnya saat ini.
Aku gak akan melepaskan mu Satria! Aku akan membuat perhitungan denganmu! Rafael mengeram marah dalam hatinya.
Bodyguard Rafael mengirimkan pesan padanya yang berisikan video pengakuan dari peneror pengganti tersebut yang kini telah menjadi tawanan mereka. Bahkan mereka mengirimkan pesan untuk memperjelas bahwa memang benar Satria yang dimaksud oleh tawanan mereka adalah Satria yang fotonya dikirimkan oleh Rafael pada mereka.
Satria yang ketika dulu mempunyai perasaan cinta pada Ayana dan ingin sekali mendapatkan hati serta cinta Ayana itu, kini datang kembali. Entah itu memang benar Satria atau bukan, Rafael belum tahu. Yang dia tahu saat ini adalah kemarahannya pada Satria karena melakukan teror di rumah mertuanya.
Malam ini Rafael benar-benar tidak bisa tidur. Dia sangat penasaran ingin bertemu dengan Satria dan mencari tahu kebenarannya.
Rafael menatap langit-langit kamarnya. Dia menghela nafasnya saat pikirannya kembali pada saat dia berbicara empat mata dengan Satria pada saat itu. Dalam hatinya berkata,
Dulu kamu mengatakan padaku jika kamu telah merelakan dan mengikhlaskan Ayana padaku, lalu kenapa sekarang kamu kembali dan melakukan semua ini pada kami Satria?
Tiba-tiba getaran ponsel milik Rafael mengalihkan perhatiannya. Dengan segera dia mengambil ponsel dari atas meja yang ada di sebelah tempat tidurnya.
"Papa?" celetuk Rafael lirih ketika melihat nama kontak yang tertera pada layar ponselnya.
Papanya sengaja tidak meneleponnya karena takut jika akan mengganggu Ayana dan Rafael. Antonio hanya mengirimkan pesan pada putranya berharap agar putranya segera merespon pesan yang dikirimkan olehnya.
Rafael menghela nafasnya ketika membaca pesan dari papanya. Sudah dia duga jika papanya akan tahu semua kejadian yang sedang menimpanya dan Ayana hari ini. Dan dia pun yakin jika apa saja kegiatannya bersama dengan Ayana tidak luput dari pengamatan papa dan mamanya.
Siapa Satria yang meneror kalian? Apa kalian kenal?
__ADS_1