
Hari-hari telah berganti. Ayana dan Rafael sudah berpindah kembali ke rumah mereka. Tentu saja dengan keamanan yang sangat ketat pada rumah mereka. Rafael dan keluarganya tidak ingin kecolongan lagi meskipun Ruby berada di dalam tahanan.
Apalagi saat ini, mereka benar-benar was-was mengetahui keberadaan Ruby di rumah sakit. Karena mereka tahu, siapa Ruby yang sebenarnya. Ruby yang licik dan nekat berbuat apa pun untuk mendapatkan semua keinginannya, karena itulah mereka merasa harus berhati-hati padanya.
Pagi ini Rafael dan Ayana sangat betah berada di ranjang mereka. Sepertinya mereka enggan mengawali aktifitas pagi mereka untuk mengawali hari.
Rafael mengusap lembut perut Ayana dan menciumnya. Kemudian dia mengajak berbicara buah hatinya yang masih berada di dalam perut ibundanya. Dia terkekeh melihat gerakan perut Ayana yang disebabkan oleh gerakan dari bayi di dalam perutnya.
"Sayang, nanti ada jadwal periksa ke rumah sakit kan?" tanya Rafael yang masih betah mengusap perut istrinya.
Ayana mengusap lembut rambut suaminya yang sedang memasang telinga di perutnya untuk mendengarkan apa yang sedang dilakukan oleh bayi mereka. Dia pun berkata,
"Iya, sekitar jam sepuluh pagi. Apa kamu nanti akan menjemput kami Sayang?"
Rafael mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah cantik istri tercintanya seraya berkata,
"Tentu saja. Aku tidak akan membiarkan istri dan anakku tercinta pergi sendirian tanpa aku."
Ayana tersenyum dan mencubit hidung suaminya seraya berkata,
"So sweet banget sih Sayangnya aku."
Rafael beranjak dari tempatnya dan duduk di sebelah istrinya. Dia mencium dengan lembut dan penuh cinta dahi istrinya. Kemudian dia menatap mata istrinya dengan penuh cinta seraya berkata,
"Nanti tunggu saja aku di rumah. Dan jangan ke mana-mana tanpa aku. Mengerti?"
Bagai terhipnotis, Ayana menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apa pun. Ayana memang sangat penurut dan berbakti pada suaminya. Dia tidak pernah membantah, menolak ataupun berkata kasar pada suaminya. Karena itulah Rafael merasa sangat beruntung mempunyai istri seorang Ayana yang kini sedang mengandung buah cinta mereka.
Rafael tersenyum melihat istri cantiknya itu selalu menurut padanya. Tangannya mengusap lembut pipi istrinya seolah memberitahukan betapa besar cintanya pada istrinya.
Ayana mengambil tangan Rafael yang ada di pipinya dan mencium telapak tangannya. Dia tersenyum seolah mengatakan bahwa dia juga sangat mencintai suaminya.
__ADS_1
Tidak mau kalah dengan Ayana, Rafael mengambil kedua tangan istrinya itu dan mencium kedua telapak tangan istrinya secara bergantian. Setelah itu dia mencium kedua punggung tangan istrinya secara bergantian. Berkali-kali dia melakukan hal itu, hingga Ayana tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang tidak mau kalah dengannya.
"Cintaku lebih besar dan lebih dalam padamu," ujar Rafael sambil mencubit gemas hidung istrinya yang sedang menertawakannya.
Ayana menyingkirkan tangan Rafael dari hidungnya. Kemudian dia berkata,
"Benarkah? Apa kamu yakin?"
"Tentu saja. Tidak ada yang melebihi cintaku padamu," jawab Rafael dengan penuh percaya diri.
Ayana menatap intens manik mata suaminya dan berkata,
"Bagaimana dengan cintaku padamu? Apa tidak cukup besar untuk mengalahkan cintamu?"
Rafael mengernyitkan dahinya dan menatap mata istrinya seolah sedang berpikir. Kemudian dia berkata,
"Mmm... Sudah cukup besar sih, tapi sepertinya memang tidak bisa mengalahkan betapa besar, dalam dan luasnya cintaku padamu."
"Ternyata Tuan sombong ini masih saja bisa sombong di hadapan istrinya," ujar Ayana di sela kekehannya.
"Aku hanya menyombongkan besarnya cintaku pada istriku agar orang lain sadar bahwa tidak lagi ada tempat di hatiku untuk wanita lain. Kecuali wanita yang bernama Ayana dan anak kami nantinya," tukas Rafael dengan tegasnya.
Mendengar perkataan suaminya itu membuat Ayana sangat bahagia. Dia sangat bersyukur karena Rafael lah yang menjadi suaminya. Dan tentu saja dia juga sangat bersyukur atas besarnya cinta yang diberikan oleh Rafael padanya.
Tiba-tiba keromantisan mereka dibuyarkan oleh alarm yang berbunyi dari ponsel Rafael. Mereka berdua tertawa mendengar suara alarm yang seolah menginstruksikan pada mereka untuk menyudahi perbincangan mereka.
"Sudah diperingatkan tuh sama alarmnya. Lebih baik kamu mandi dulu Raf," tutur Ayana sambil mendorong-dorong pelan tubuh suaminya sambil terkekeh.
"Sirik aja tuh jam. Aku malas mandi, malas ngapa-ngapain. Untuk hari ini saja sebaiknya kita begini. Aku akan berangkat bekerja nanti selesai mengantarmu periksa di rumah sakit," ucap Rafael yang mencoba bernegosiasi bersama istrinya.
Ayana menatap lekat wajah suaminya fan berkata,
__ADS_1
"Sayang, aku tidak keberatan sama sekali. Bahkan aku sangat menyukainya. Hanya saja aku takut jika pekerjaanmu akan terlantar dan akan membuatmu lembur, sehingga kamu akan selalu pulang telat nantinya."
"Ck! Benar juga. Istriku memang pintar. Tapi... Aku benar-benar malas mandi sendiri. Apa istriku ini mau menemani suaminya untuk mandi bersama? Lagi pula suamimu ini ingin memastikan bahwa istrinya yang berperut besar ini baik-baik saja ketika berada di dalam kamar mandi. Sangat rawan sekali jika sendirian. Dan suamimu ini selalu saja memikirkan istrinya, takut terjadi apa-apa dengan istrinya," ujar Rafael panjang lebar untuk merayu Ayana.
"Modus!" seru Ayana sambil beranjak dari tempat tidurnya.
Rafael menatap istrinya seolah bertanya tentang keinginannya. Ayana menghela nafasnya melihat tatapan penuh harap dari suaminya. Kemudian dia mengulurkan tangannya dan berkata,
"Ayo, katanya mau mandi?!"
Dengan semangatnya saat itu juga Rafael beranjak dari tempat tidurnya dan tersenyum sambil memeluk tubuh istrinya. Kemudian dia mencium kedua pipi istrinya secara bergantian.
"Terima kasih Sayang. Kamu memang selalu tau apa yang suamimu inginkan," ucap Rafael sambil menuntun istrinya menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka.
Ayana tidak bisa berkata-kata. Dia tidak bisa menandingi sikap manis suaminya yang setiap saat ditunjukkan padanya. Dia hanya tersenyum dan selalu mengucap syukur dalam hatinya.
Di dalam kamar mandi, Rafael memperlakukan Ayana layaknya bocah yang sedang dimandikannya. Dia memandikan istrinya dengan sangat hati-hati dan penuh dengan cinta. Terkadang tangan Rafael memainkan bagian tubuh Ayana yang menjadi favoritnya.
Namun, Ayana tidak marah atau melarangnya. Dia tahu jika di dalam kamar mandi tersebut mereka tidak hanya mandi seperti biasa. Pasti ada saja yang diinginkan Rafael pada dirinya.
Setelah beberapa saat, mereka berdua keluar dari kamar mandi tersebut. Senyum Rafael begitu cerah saat ini. Itu semua berkat Ayana yang mau menuruti semua keinginannya di dalam kamar mandi.
Rafael mengambil alih baju yang dipegang oleh Ayana. Dia memakaikannya dan menyisir rambut istrinya layaknya merawat anaknya sendiri. Setelah itu dia bersiap untuk berangkat ke kantor.
"Sayang, mau sarapan apa?" tanya Rafael pada Ayana.
Tiba-tiba wajah Ayana bersedih mendengar pertanyaan suaminya. Bahkan matanya kini berkaca-kaca mengiringi wajah sedihnya.
Rafael melemparkan tas yang sudah dibawanya ke sembarang arah ketika melihat wajah istrinya yang sedang bersedih. Dengan sigapnya dia memeluk tubuh istrinya dan berkata,
"Ada apa Sayang?"
__ADS_1