
"Hai! Tidak disangka kita akan bertemu lagi," ucap seorang perempuan gendut dan berwajah garang yang ada di dalam sel tahanan tersebut.
"Sepertinya dia baik-baik saja dan bahagia hidup di luar," sahut perempuan lainnya dengan seringainya pada Ruby.
Ruby menatap mereka semua dengan tatapan ketakutan. Tangan dan kakinya gemetar menghadapi segerombolan perempuan yang ada di dalam sel tahanan tersebut.
Seorang perempuan beranjak dari duduknya. Dia berjalan mendekati Ruby dan menepuk-nepuk pundaknya seraya berkata,
"Bagaimana kabarmu? Apa kamu merindukan tempat ini sehingga kamu kembali ke sini menemui kami?"
Ruby semakin gemetaran ketakutan. Dia tidak berani berkutik di tempat itu. Ruby yang angkuh dan sombong lenyap dengan seketika di hadapan mereka.
"Hei! Apa kamu jadi tidak bisa berbicara setelah keluar dari tempat ini?" tanya salah seorang dari mereka pada Ruby yang hanya diam saja ketakutan.
Perempuan yang ada di dekat Ruby tiba-tiba merangkul pundaknya dan membawanya dengan paksa berjalan menuju teman-temannya yang sedang duduk bergerombol.
"Rupanya kamu masih bisa hidup setelah menipu kami?" tanya perempuan gendut yang berwajah garang tadi sambil memegang dengan kasar dagu Ruby seolah penuh dendam.
__ADS_1
Mata Ruby berkaca-kaca. Dia tidak bisa meminta pertolongan pada siapa pun di sana. Semua orang dalam sel tahanan tersebut tidak menyukainya. Mereka sudah menjadi korban dari kelicikan Ruby selama berada di dalam ruangan jeruji besi itu.
Tangan perempuan yang merangkulnya tadi berpindah ke lehernya. Tangan tersebut merangkul erat leher Ruby hingga Ruby kesusahan bernafas.
"Apa kamu sudah siap menghadapi kami?" tanya perempuan tersebut lirih sambil mengencangkan tangannya pada leher Ruby.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut menyeringai melihat Ruby yang ketakutan pada mereka. Bahkan mereka terlihat sangat bahagia menyambut kedatangan Ruby dalam ruangan sempit yang sangat dingin dan dikelilingi jeruji besi itu.
"A-ampun...," ucap Ruby terbata-bata dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.
Semua orang tertawa mendengar Ruby meminta ampun pada mereka. Sayangnya mereka tidak percaya begitu saja. Karena mereka tahu sendiri kelicikan Ruby, sehingga mereka merasa harus selalu waspada dengan adanya Ruby di tempat tersebut.
Perempuan yang merangkul lehernya itu, tiba-tiba melepaskan tangannya, sehingga Ruby bisa bernafas dengan lega.
Namun, mereka tidak begitu saja melepaskan Ruby. Badan Ruby didorong dari belakang dengan kerasnya sehingga dia jatuh tersungkur di lantai dengan wajahnya yang mendarat terlebih dahulu pada lantai tersebut.
Tidak ada yang menolongnya meskipun Ruby dalam keadaan mengenaskan sekalipun. Semua hanya menertawakannya dan menyumpahinya. Bahkan tidak ada kata iba dari mereka untuk Ruby.
__ADS_1
Ruby meringis kesakitan merasakan perih pada wajahnya. Hidung mancungnya terasa pedih seperti tersayat akibat terseret di atas lantai. Begitu pula dengan pipinya yang terasa panas bagai tersayat, sama seperti hidungnya. Dan juga giginya yang merasa nyeri serta sedikit berdarah terkena lantai.
Kerasnya mereka menghajar Ruby menggambarkan betapa benci dan marahnya mereka pada Ruby. Lebih tepatnya mereka marah pada apa yang telah dilakukan Ruby kepada mereka semua.
Wajah cantik Ruby dan kepandaian Ruby dalam merayu kaum pria, tidak berlaku pada mereka. Semua sudah mengetahui kelicikan Ruby. Karena itulah mereka bersama-sama waspada dan bersatu untuk membalas Ruby.
"Bangun!" seru perempuan gendut yang berwajah garang itu pada Ruby.
"Kamu tidak dengar atau pura-pura tuli hah?!" tanya salah satu dari mereka sambil menjambak rambut Ruby.
Wajah Ruby mendongak karena rambutnya dijambak oleh orang tersebut. Matanya berkaca-kaca dengan penuh dendam menatap orang tersebut. Bahkan wajah Ruby terlihat sangat mengenaskan saat ini.
Derai tawa menggema di ruangan yang hanya sepetak itu. Mereka merasa puas melihat wajah menderita Ruby saat ini. Kebahagiaan mereka saat ini seolah sedang bersuka cita dalam sebuah pesta.
Kalian semua pengecut! Sialan kalian semua! Lihat saja pembalasanku nanti! Ruby mengumpat dalam hatinya dengan tatapan matanya yang penuh dendam melihat mereka semua satu per satu.
Perempuan gendut berwajah garang itu beranjak dari tempatnya menghampiri Ruby. Dia memelototkan matanya seraya berkata,
__ADS_1
"Apa? Kenapa kamu melihat kami seperti itu? Kamu menantang kami?"
Plak!