Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 17 Nama baru


__ADS_3

Rafael sungguh bingung kali ini. Menurut orang-orang kepercayaannya, yang melakukan teror di rumahnya waktu itu adalah perempuan dan sudah bisa dipastikan bahwa peneror tersebut adalah Ruby.


Namun, saat ini dia bertambah bingung karena orang yang meletakkan box teror di teras rumah Ayana adalah orang suruhan si peneror. Dan yang lebih membingungkannya lagi, orang tersebut mengatakan jika yang menyuruhnya adalah seorang laki-laki.


Siapa kira-kira yang meneror kami? Apa benar Ruby atau orang lain? Rafael bertanya-tanya dalam hatinya.


"Bos, orang ini mau diapakan?" tanya salah satu dari bodyguard tadi.


Rafael menatap orang tersebut dengan tatapan penasaran. Kemudian dia berkata,


"Urus dia dan buat dia mengatakan siapa orang yang menyuruhnya."


Setelah mengatakan itu, Rafael segera bergegas kembali pulang ke rumah mertuanya. Dia takut jika istrinya mencarinya dan mengkhawatirkannya.


Sesampainya di rumah mertuanya, Rafael berhenti sejenak untuk menenangkan dirinya sebelum masuk ke dalam kamar Ayana.


Dia menghirup udara dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan untuk menormalkan kembali nafasnya yang terengah-engah setelah berlari dari pantai menuju rumah tersebut.


Dengan sangat perlahan dan hati-hati sekali Rafael membuka pintu kamar tersebut. Dilihatnya ibu mertuanya sedang duduk untuk menemani Ayana yang sedang tertidur nyenyak di tempat tidurnya.


"Bu, biar saya saja yang menemani Ayana," ucap Rafael lirih di sebelah Bu Anisa agar Ayana tidak terbangun.


Bu Anisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Rafael. Kemudian dia beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Akan tetapi langkah kakinya terhenti sebelum dia membuka pintunya.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Bu Anisa yang kembali menoleh ke arah Rafael.


"Sudah Bu," jawab Rafael sambil tersenyum pada ibu mertuanya.


Dia tidak ingin membebani mertuanya dengan situasi saat ini yang sangat meresahkan mereka. Terlebih lagi ibu mertuanya yang sudah pasti akan sangat khawatir pada Ayana dan bayi yang ada dalam kandungannya.


Setelah ibu mertuanya keluar dari kamar tersebut, Rafael segera merebahkan badannya di sebelah istrinya. Dia membawa Ayana dalam pelukannya dan memeluknya dengan penuh cinta agar istrinya bisa merasakan cintanya untuk istri dan anaknya.

__ADS_1


Diusapnya perlahan rambut istrinya itu dan diselipkannya anak rambut tersebut agar tidak menghalangi wajah cantiknya.


Rafael menatap lekat wajah cantik istrinya itu dan berkata,


"Kamu cantik sekali Ay. Aku lelaki bodoh jika menyia-nyiakan istri cantik dan baik seperti kamu. Aku sangat mencintaimu Ay."


Tanpa sadar bibir Rafael bergerak secara perlahan mendekati bibir istrinya. Layaknya orang yang sedang terhipnotis, Rafael mendaratkan bibirnya pada bibir Ayana yang sangat menggoda dan terlihat seperti sedang memanggilnya untuk dicicipinya.


Merasa ada pergerakan dari istrinya, dengan segera Rafael menghentikan ciumannya itu dan memejamkan kedua matanya untuk berpura-pura tertidur.


Namun, beberapa saat dia tidak merasakan apa pun dari Ayana. Matanya kembali terbuka dan memandangi objek yang sangat digemarinya ketika pertama kali membuka matanya.


Wajah ayu Ayana yang selalu dilihatnya ketika pertama kali membuka matanya, membuatnya merasa sangat bahagia dan merasa sangat bersyukur telah mempertemukannya dengan sosok bidadari seperti Ayana dan membuat mereka menjadi sepasang suami istri untuk saling memiliki.


Perlahan mata Rafael pun terpejam. Dia tidur dengan memeluk tubuh istrinya. Kini mereka berdua sejenak meninggalkan kekhawatirannya tentang teror tersebut. Mereka berdua sedang merajut mimpi bersama dengan saling berpelukan.


Di luar kamar Ayana, Bu Anisa dan Pak Rahman sedang membicarakan tentang teror tersebut. Bu Anisa kembali menangis mengingat putri semata wayangnya yang sedang hamil besar itu menangis ketakutan.


"Kita percayakan saja sama Rafael Bu. Bapak yakin jika Rafael tidak akan begitu saja membiarkan istrinya dalam keadaan takut seperti itu. Apa lagi Ayana sedang mengandung anak mereka," tutur Pak Rahman sambil mengusap lembut punggung istrinya.


"Semoga semuanya baik-baik saja ya Pak. Ibu tidak mau jika terjadi hal yang buruk pada Ayana dan bayinya."


Pak Rahman membawa Bu Anisa dalam pelukannya. Dia mencoba menenangkan istrinya agar kekhawatirannya dan pikirannya yang berlebihan itu tidak mengganggu kesehatannya.


"Tenang ya Bu. Kita doakan saja agar Ayana dan cucu kita diberi kesehatan dan keselamatan. Bapak juga yakin jika keluarga Rafael tidak akan membiarkan semua ini berlarut-larut," ujar Pak Rahman kembali untuk menenangkan istrinya.


Bu Anisa menganggukkan kepalanya dalam pelukan Pak Rahman. Mereka saling menenangkan dan menguatkan, tidak kalah dengan Ayana dan Rafael.


...----------------...


Di sisi lainnya, para bodyguard Rafael masih saja berusaha mendapatkan informasi dari orang yang meletakkan box teror di teras rumah Ayana. Mereka menggunakan segala cara agar orang tersebut mau membuka mulutnya dan berbicara mengenai peneror yang sebenarnya.

__ADS_1


Sayangnya informasi yang mereka dapatkan masih sama. Orang tersebut tetap mengatakan jika dia tidak mengenali si peneror yang sebenarnya. Dan dia juga mengatakan jika peneror tersebut benar-benar seorang laki-laki, bukan perempuan yang menyamar sebagai laki-laki seperti yang dibicarakan Rafael padanya.


"Bagaimana ini? Dia tetap saja mengatakan hal yang sama. Tidak ada informasi tambahan yang kita dapatkan," ucap salah satu bodyguard yang ada di sana.


"Kita bunuh saja dia," sahut bodyguard lainnya sambil menyeringai melihat ke arah tawanan mereka.


Seketika mata tawanan tersebut terbelalak. Dia berpikir dan mencari cara agar mereka tidka membunuhnya. Dia juga mengingat-ingat apa saja tentang orang yang menyuruhnya agar dia bisa terbebas dari hukuman yang diberikan Rafael melalui para bodyguard nya padanya.


Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Dia mengingat gelang yang dipakai oleh laki-laki tersebut. Pada tangan kiri laki-laki yang menyuruhnya meletakkan box teror tersebut memakai gelang yang bertuliskan 'satria' yang bisa terlihat jelas olehnya.


"Satria," celetuk orang tersebut ketika mengingat baik-baik apa yang dilihatnya.


Para bodyguard tersebut saling memandang. Mereka mengerubungi orang tersebut untuk memperoleh keterangan lebih lanjut darinya.


"Katakan lebih jelas lagi!" perintah bodyguard yang ada di hadapan orang tersebut.


"Satria. Orang itu, laki-laki itu memakai gelang di tangan kirinya yang bertuliskan 'satria'. Iya, benar, saya yakin itu," ucap orang tersebut dengan sedikit terbata-bata.


Semua yang dikatakan oleh orang tersebut telah direkam oleh mereka. Seperti sebelumnya, mereka akan mengirimkan rekaman video tersebut pada Rafael.


"Katakan lagi, apa yang kamu ketahui. Cepat!" perintah kembali bodyguard tersebut dengan garangnya pada tawanannya itu.


Orang yang menjadi tawanan mereka itu menggeleng lemah. Dia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk bernafas dan mengingat-ingat kembali orang yang telah menyuruhnya melakukan kejahatan itu.


"Tinggi. Beralis tebal. Berkulit sedikit sawo matang," ucap tawanan tersebut dengan terbata-bata dan mata yang terpejam.


Para bodyguard tersebut tersenyum setelah mendapatkan informasi tersebut. Mereka segera mengirimkan pada Rafael apa yang telah mereka dapatkan saat ini.


...----------------...


Notifikasi pesan pada ponsel Rafael mengganggu tidurnya. Dia meraba kantongnya dan mengambil ponsel tersebut.

__ADS_1


Matanya terbelalak ketika melihat pesan yang dikirimkan oleh bodyguard nya padanya seraya berkata lirih,


"Apa ini?"


__ADS_2