
Rafael segera beranjak dari tidurnya. Dengan sangat berhati-hati sekali dia melepaskan tangan istrinya yang berada di pinggangnya. Dia mencoba untuk beranjak dari tidurnya tanpa mengganggu tidur istrinya.
Dia tersenyum ketika melihat istrinya hanya bergerak sedikit saat dirinya mencoba untuk lepas dari pelukannya.
Dengan sangat pelan dan hati-hati sekali Rafael berjalan mengendap-endap keluar dari kamar tersebut. Dia kembali menghubungi nomor bodyguard yang menghubunginya tadi.
"Halo, ada apa?" sapa Rafael ketika panggilan teleponnya diangkat oleh seseorang di seberang sana.
Halo, Bos, apa tidak sebaiknya wanita ini kita serahkan saja ke polisi? tanya orang tersebut pada Rafael melalui telepon.
"Ada apa? Apa dia berbuat ulah?" tanya Rafael dengan cepatnya.
Tidak bos. Hanya saja kami takut dia akan tidak bernyawa karena dia menolak untuk makan dan minum, jawab orang tersebut dengan hati-hati.
"Apa kalian sudah mendapatkan info lainnya dari wanita sialan itu?" tanya Rafael disertai helaan nafasnya.
Belum Bos. Dia tidak mau membuka mulutnya sejak kepergian Bos tadi, jawab orang tersebut dengan sedikit ragu.
"Bodoh kalian! Kenapa kalian tidak bisa membuka mulut seorang wanita seperti dia? Takuti dia seperti perintahku tadi agar dia mau membuka mulutnya dan mengakui apa saja yang sudah dilakukannya serta apa saja yang akan dilakukannya pada keluargaku!" perintah Rafael dengan suara yang tertahan dan menekankan di setiap katanya.
Baik Bos, sahut orang tersebut dengan tegas dari seberang sana.
Rafael menghela nafasnya. Matanya berkabut emosi kala mendengar dan mengingat tentang Ruby. Saat ini kebenciannya pada Ruby melebihi segalanya.
Dia membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamar tersebut. Dilihatnya istrinya yang masih tertidur dengan nyenyak.
Duduklah Rafael di kursi yang ada di dalam kamar tersebut. Dia memandang wajah damai istrinya yang sangat dicintainya melebihi nyawanya sendiri.
__ADS_1
"Aku harus bisa menjauhkan wanita gila itu dari kehidupan kami. Sebentar lagi anakku akan lahir dan aku gak mau dia mengganggu keluargaku," ucap lirih Rafael sambil memandang istrinya dari tempatnya berada saat ini.
Kini Rafael berpikir untuk mencoba mencari jalan keluar agar keberadaan Ruby tidak bisa lagi mengganggunya.
"Kenapa aku gak nanya sama Papa saja?" celetuk Rafael ketika mengingat sosok papanya yang selalu membantunya untuk memecahkan kesulitan yang dihadapinya.
Segera dia kembali keluar dari kamarnya untuk menghubungi papanya. Hanya selama beberapa menit saja mereka berbicara membahas tentang hal itu, setelah itu Rafael kembali masuk ke dalam kamarnya.
Rafael kembali berbaring di sebelah istrinya. Dia mengusap lembut pipi istrinya dan menatap wajah cantik nan damai dalam tidurnya.
Semoga apa yang direncanakan oleh Papa benar ya Sayang. Semoga keluarga kita dijauhkan dari manusia serakah seperti si Rubah betina itu, Rafael berkata dalam hatinya.
Ayana hanya bergerak sedikit karena sentuhan dari suaminya. Setelah itu dia kembali tertidur dengan nyenyak dalam pelukan suaminya.
Rafael kembali mengingat apa yang dibicarakan oleh papanya. Jujur saja hatinya sedikit ragu dengan apa yang direncanakan oleh papanya. Dia merasa akan terjadi hal lain yang mungkin saja tidak sesuai dengan keinginannya juga papanya, mengingat kelicikan Ruby yang sangat di luar batas.
Rafael menghela nafasnya yang terdengar sangat berat saat mengingat perkataan papanya. Dalam hatinya berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana mereka.
...----------------...
Di tempat lain, tepatnya di tempat penyekapan Ruby, para bodyguard tersebut masih berusaha untuk membuat Ruby mengakui semua perbuatannya dan mengatakan rencana apa saja yang akan dilakukannya untuk meneror keluarga Rafael. Semua itu akan digunakan sebagai bukti untuk menjebloskan Ruby ke dalam tahanan kepolisian dalam waktu yang cukup lama.
Kondisi Ruby sudah tidak seperti awal dia ditahan. Kesombongan dan keangkuhannya memudar ketika hantaman, pukulan, tamparan serta rambutnya yang dijambak itu sangat menyiksanya.
"Apa tidak sebaiknya kita nikmati saja tubuhnya sebelum dia tidak bernafas?" tanya salah satu bodyguard pada bodyguard lainnya sambil terkekeh.
Kini Ruby menjadi bahan lelucon mereka. Bahkan tatapan mereka pada Ruby sangat merendahkannya seolah menginjak-injak harga dirinya sebagai seorang wanita.
__ADS_1
Namun, Ruby masih tetap Ruby yang licik meskipun dalam keadaan yang sangat menyudutkannya sekalipun.
Dia masih bisa bersikap tenang meskipun berada di antara banyaknya para laki-laki berbadan kekar yang mampu menghajar dan menyiksanya. Kelicikannya itu mampu membuatnya memikirkan sesuatu yang di luar prediksi Rafael.
Ruby sangat mengenal Rafael. Dia sangat mengerti sikap dan sifat Rafael yang tidak pernah tega pada siapa pun. Bahkan dia sangat yakin jika Rafael tidak akan tega untuk benar-benar menghabisinya.
Mereka berhasil membuat Ruby membuka mulutnya untuk berbicara semuanya sebagai bukti untuk menghukumnya. Mereka semua berakting seolah akan mengeroyoknya untuk menikmati tubuhnya secara bersamaan. Saat mereka semua sudah berada hampir tidak berjarak dengannya, Ruby memutuskan untuk membuka mulutnya, menjawab semua yang mereka tanyakan padanya.
Setelah mendapatkan semua pengakuan dari Ruby, ketua dari para bodyguard tersebut menghubungi Antonio untuk melaporkan semuanya. Bahkan dia mengirimkan hasil pengakuan Ruby pada Rafael dan Antonio.
Akhirnya Antonio memutuskan untuk menyerahkan Ruby pada pihak kepolisian. Tentu saja dia meminta hukuman yang sangat berat agar Ruby tidak bisa lagi mengganggu keluarga Rafael.
Dengan berbekal pengacara yang hebat dan pihak kepolisian yang mengenalnya, mereka bersama-sama mengusahakan agar peneror keluarga Rafael yang sangat berbahaya itu mendekam selamanya di dalam jeruji besi. Atau mungkin jika Ruby dihukum mati, dia akan mati sebagai tahanan bukan ditangan mereka saat menyekapnya.
Malam itu juga mereka mengusung Ruby untuk dibawa ke kota dan menyerahkannya pada pihak yang berwajib dan sudah diinformasikan oleh pengacara Antonio pada pihak kepolisian. Mereka menunggu kedatangan Ruby di kantor polisi yang sudah ditentukan.
Perjalanan dari desa ke kota yang memakan waktu berjam-jam itu membuat Ruby memikirkan ide untuk melarikan diri dari para bodyguard itu sebelum diserahkan pada pihak kepolisian.
Selama perjalanan itu dia berpikir keras untuk melarikan diri. Sayangnya, banyaknya bodyguard Rafael yang menjaganya tidak bisa ditembusnya. Dia tidak bisa mengelabuhi mereka meskipun dia berakting kesakitan atau sedang ingin ke toilet.
Ruby menghela nafasnya ketika melihat mobil yang ditumpanginya memasuki halaman kantor polisi. Dalam hatinya berkata,
Tamat sudah riwayatku. Kenapa aku harus masuk ke dalam bangunan ini lagi? Bagaimana jika aku kembali masuk ke dalam tahanan seperti waktu itu?
Tiba-tiba Ruby menyeringai tatkala dia mendapatkan ide sebelum keluar dari mobil tersebut.
Semoga saja rencanaku ini berhasil, Ruby berkata dalam hatinya disertai senyuman tipis di bibirnya.
__ADS_1