Ternyata Suamiku Luar Biasa 2

Ternyata Suamiku Luar Biasa 2
Bab 33 Suami cemburuan


__ADS_3

Ayana sedih mendengar suaminya bertanya padanya apa yang diinginkannya untuk sarapannya saat ini.


Rafael meraih tubuh istrinya dan membawanya dalam pelukannya seraya berkata,


"Ada apa Sayang?"


Ayana menggelengkan kepalanya dalam pelukan suaminya. Terdengar isakan tangis dari Ayana dalam pelukan suaminya itu.


Rafael mengusap lembut rambut istrinya seraya berkata,


"Ada apa Ay? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"


Ayana kembali menggelengkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan suaminya padanya.


Rafael mengurai pelukannya dan menatap lekat manik mata istrinya seraya berkata,


"Jangan menangis Sayang. Hatiku sangat sakit melihat air mata yang keluar dari mata indah mu ini."


Tangan Rafael mengusap lembut air mata istrinya yang menetes di pipinya. Kemudian dia mencium dengan lembut dan penuh cinta pada kedua mata istrinya secara bergantian, berharap agar air mata tersebut tidak lagi keluar dari mata indah istrinya itu.


"Ada apa hmmm?" tanya Rafael dengan pelan dan hati-hati.


"Aku merasa sangat bersalah dan berdosa tidak membuatkan sarapan untuk suamiku. Terlebih lagi suamiku yang bertanya padaku untuk mengetahui makanan apa yang aku inginkan pada saat sarapan sekarang," jawab Ayana di sela isakan tangisnya.


Rafael tersenyum mendengar penyebab tangisan istrinya. Dia meraih dagu istrinya dan mencium lembut bibir pink alami milik istrinya itu dengan penuh cinta. Setelah beberapa saat, Rafale melepaskan pelan-pelan bibir yang membuatnya candu itu.


"Ay, kenapa kamu merasa bersalah dan berdosa? Aku tidak memintamu untuk membuatkan aku makanan. Aku sendiri yang menginginkan untuk memanjakan dan membuatkan makanan buat istri dan bayi yang ada dalam kandungannya," tutur Rafael sambil menatap Ayana dengan penuh cinta.


"Tapi Raf, aku--"


Perkataan Ayana tidak bisa dilanjutkannya. Bibir Ayana kembali dibekap oleh bibir Rafael. Begitulah cara Rafael selama ini membuat Ayana diam dan tidak mengatakan keresahannya.


Perlahan bibir Rafael melepas bibir Ayana. Dia menatap kembali wajah cantik istrinya dan berkata,


"Aku tidak mau mendengar itu semua Ay. Aku yang menginginkannya dan kamu tidak usah merasa bersalah dan berdosa. Karena aku ingin mempersembahkan hidupku hanya untuk kamu istriku dan juga untuk anak-anakku."


Mata Ayana kembali berkaca-kaca. Bahkan air mata itu sudah terkumpul di pelupuk matanya. Akan tetapi, sekuat tenaga dia menahannya agar air mata itu tidak keluar. Karena dia tidak mau jika suaminya bersedih karena melihat air matanya, meskipun air mata tersebut adalah air mata kebahagiaan.


Mata Rafael menatap lekat manik mata Ayana seolah mencegah air mata istrinya itu untuk keluar dari matanya. Dia tersenyum manis dan berkata,

__ADS_1


"Ayo, lebih baik kita sarapan sekarang. Istri cantikku ini ingin makan apa?"


"Aku bisa sarapan sendiri Raf. Lebih baik kamu berangkat ke kantor saja sekarang," jawab Ayana sambil mengusap lembut pipi suaminya.


Rafael memegang tangan istrinya yang berada di pipinya seraya berkata,


"Sejak kapan kita makan sendiri-sendiri? Aku tidak mau seperti itu. Sampai kapan pun jik kita bisa makan bersama, kita wajib makan bersama. Aku tidak mau kita makan sendiri-sendiri seolah sedang bertengkar."


Ayana tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan suaminya. Kemudian dia berkata,


"Lalu, kita akan sarapan apa Sayang?"


Rafael berpikir sejenak. Dia mencoba mencari jalan keluar agar istrinya tetap mau bersamanya. Kemudian dia berkata,


"Bagaimana kalau kita sarapan di luar. Setelah itu kamu ikut aku ke kantor. Nanti kita berangkat bersama dari kantor ke rumah sakit."


Ayana masih berpikir. Dia ragu untuk menyetujui permintaan suaminya. Selama ini memang dia tidak pernah mengikuti suaminya ke kantor karena dia takut mengganggu pekerjaan suaminya. Dan sekarang suaminya itu memintanya untuk ikut bersamanya ke kantornya.


"Aku tidak menerima penolakan Ay," ucap Rafael sambil menatap dalam mata istrinya.


"Tapi Raf, aku takut jika nanti malahan mengganggu--"


Ayana merasa tidak tega melihat suaminya yang mengharap padanya. Akhirnya Ayana menuruti permintaan suaminya. Dia menganggukkan kepala dengan lemah, seolah berat menyetujuinya.


Namun, seketika mata Ayana terbelalak ketika bibir Rafael mencium kedua pipinya dan berkata,


"Terima kasih Sayang."


Bibir Ayana melengkung ke atas. Dia senang keputusannya bisa membuat suaminya bahagia. Kemudian dia berkata,


"Ayo Sayang kita berangkat sekarang. Takutnya nanti kamu malah terlambat datang ke kantor."


"Ck! Kamu lupa ya Sayang. Aku kan bosnya," sahut Rafael sambil mencubit gemas hidung mancung istrinya.


Ayana menangkap tangan suaminya dan berkata,


"Maka dari itu, seorang bos harus mencontohkan yang baik untuk karyawannya agar mereka tidak malas-malasan. Jika ada karyawan yang malas-malasan, tegur saja. Bilang kalau bosnya saja tidak malas, kenapa kalian yang karyawan bisa malas-malasan."


Rafael tertawa mendengar perkataan istrinya. Dia memeluk gemas tubuh istrinya seraya berkata,

__ADS_1


"Siap Bu Bos. Akan saya laksanakan."


Ayana mengurai pelukan suaminya. Dia menarik tangan suaminya agar berjalan keluar dari kamar mereka.


...----------------...


Kini mereka berdua berada di sebuah rumah makan yang diinginkan oleh Ayana. Pagi ini tiba-tiba dia menginginkan nasi uduk dari rumah makan tersebut.


"Bagaimana rasanya Ay? Sesuai dengan keinginanmu?" tanya Rafael di sela kunyahan makannya.


Ayana menganggukkan kepalanya dan menelan makanannya. Kemudian dia berkata,


"Iya Raf. Ini yang aku inginkan. Sudah lama sejak aku masih bekerja di rumah sakit waktu itu."


Seketika Rafael menghentikan makannya. Dia menatap Ayana sambil mengernyitkan dahinya dan berkata,


"Sama siapa kamu makan di sini?"


Ayana menghentikan makannya. Dalam hati dia berkata,


Gawat! Kenapa aku keceplosan mengatakannya. Pasti dia akan marah nanti. Kamu cari penyakit Ayana. Sudah tau suami kamu cemburuan, masih saja kamu membuatnya cemburu.


"Ay! Sayang, apa kamu menyembunyikan sesuatu dari suamimu ini?" tanya Rafael dengan tatapan menyelidik.


Ayana menghela nafasnya. Dia menatap intens manik mata Rafael dan berkata,


"Aku ke sini bersama dengan dokter Anton. Waktu itu kami sedang seminar dan pulangnya makan di sini. Aku memang tidak memberitahukan kamu karena aku takut kamu akan marah. Maafkan aku Sayang. Aku pikir tidak apa-apa tidak mengatakannya padamu karena kami hanya sebatas teman sejawat saja."


Rafael menghela nafasnya dan memegang tangan istrinya seraya menatap matanya dengan tatapan mengiba dan berkata,


"Sepertinya memang aku harus melarang kamu untuk bekerja. Aku tidak bisa melihat laki-laki lain dekat denganmu."


Ayana tersenyum dan berganti memegang tangan suaminya yang sedang memegang tangannya seraya berkata,


"Bukannya aku sudah tidak bekerja?"


"Iya. Beruntungnya Mama dan Papa melarang kamu bekerja," jawab Rafael disertai helaan nafasnya.


Tiba-tiba terdengar suara dering telepon dari ponsel Ayana. Dengan cepatnya Rafael berkata,

__ADS_1


"Dari siapa Sayang?"


__ADS_2