
Ayana semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan Rafael bisa merasakan ketakutan istrinya itu. Bahu Ayana bergetar hebat karena ketakutannya. Tangannya pun mencengkeram dengan kuat baju Rafael yang sedang memeluknya.
"Jangan takut Sayang. Ada aku di sini," bisik Rafael di telinga Ayana yang berada dalam pelukannya.
"Aku takut Raf. Aku takut dia akan menyakiti anak kita," ucap Ayan lirih dalam pelukan Rafael.
Rafael semakin mempererat pelukannya seraya berkata,
"Itu gak akan terjadi Sayang. Ada aku dan semua orang yang menjaga kita. Lihatlah, mereka berhasil menangkap si Rubah betina itu."
Perlahan Ayana mengendurkan pelukannya. Dia menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rafael. Benar saja, di sana Ruby telah ditahan oleh beberapa orang berbadan kekar dan berjalan ke arahnya.
Tangan Ayana kembali mencengkeram baju Rafael ketika dia melihat Ruby menyeringai dan menatap tajam padanya.
"Lepaskan!"
"Sialan kalian semua!"
"Lepaskan aku!"
Teriak Ruby yang sedang berjalan ke arah Ayana dan Rafael dengan tangannya yang diikat dan dikelilingi oleh para laki-laki berbadan kekar yang merupakan bodyguard Ayana dan Rafael.
"Ini Bos, perempuan yang mencurigakan dan sedari tadi mengintai kalian," ucap salah satu dari bodyguard itu yang menjadi ketua tim mereka.
"Stop! Biarkan dia di situ saja!" teriak Rafael memerintahkan pada mereka.
Tampak terlihat Ayana yang sangat ketakutan melihat Ruby yang berjalan mendekat padanya. Sontak saja Ayana menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Rafael dan mengeratkan pelukannya.
"Buat dia mengakui perbuatannya!" perintah Rafael pada para bodyguard nya.
"Baik Bos!" seru para bodyguard tersebut menanggapi perintah Rafael.
Mereka mulai menjalankan perintah Rafael untuk membuat Ruby mengakui perbuatannya. Salah satu dari merek-merek rambut Ruby dengan kerasnya seraya bertanya padanya,
"Apa saja yang kamu lakukan? Katakan!"
"Awwww...! Sialan kalian! Lepaskan aku!" teriak Ruby dalam posisi yang masih dijambak rambutnya oleh mereka.
Bugh!
"Berani-beraninya kamu meneror Bos kami!" seru salah satu bodyguard itu yang berusaha membuat Ruby berbicara.
Ruby meringis kesakitan mendapatkan pukulan yang sangat keras di perutnya. Itu hanya berlangsung sebentar saja. Ruby menatap tajam pada para bodyguard yang berada di hadapan mereka, kemudian dia menyeringai dan meludah tepat di hadapan mereka.
__ADS_1
"Sialan!"
"Wanita tidak tau diuntung!"
Para bodyguard itu bersahut-sahutan mengumpat dan memaki Ruby. Keberanian Ruby itu membuat mereka menjadi marah.
Plak!
Bugh!
Ruby kembali meringis kesakitan. Wajahnya memar karena tamparan keras dari salah satu bodyguard yang ada di dekatnya. Dan bersamaan dengan itu, dia menerima pukulan kembali di perutnya.
Tentu saja pukulan itu sangat keras. Mereka tidak akan melunak meskipun Ruby seorang wanita. Bagi mereka Ruby bukanlah seorang wanita lemah. Dia wanita yang sangat berbahaya dan nekat untuk melakukan apa saja demi tercapainya apa yang diinginkannya.
Ayana semakin mempererat cengkeramannya pada baju suaminya. Dia semakin ketakutan mendengar suara pukulan dan umpatan-umpatan dari bodyguard tersebut dan juga Ruby yang masih saja melawan mereka.
"Sayang, aku takut," ucap Ayana dengan suara yang bergetar.
Sontak saja Rafael menggendong tubuh istrinya dan berjalan menuju rumah orang tua Ayana.
"Buat dia mengaku sebelum aku datang kembali ke sini!" perintah Rafael pada para bodyguard nya ketika berjalan melalui mereka.
"Siap Bos!" seru mereka bersamaan menanggapi perintah dari Rafael.
Berjalanlah Rafael dengan tergesa-gesa menuju rumah mertuanya sambil menggendong Ayana di depan tubuhnya layaknya pengantin yang sedang tergesa-gesa menuju kamarnya.
Kedua tangan Ayana meraih tangan Rafael dan memegangnya seraya berkata,
"Jangan lama-lama Raf, aku takut."
Rafael tersenyum manis dan mencium dengan lembut kedua tangan istrinya yang sedang memegang tangannya untuk menenangkan hati istrinya. Kemudian dia berkata,
"Aku gak akan bisa jauh darimu Sayang. Aku akan segera membereskannya agar gak akan lagi kejadian teror yang menimpa kita."
Ayana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menghela nafasnya dan berkata,
"Hati-hati Sayang. Dia wanita yang sangat berbahaya. Entah mengapa kamu bisa berpacaran dengannya waktu itu."
"Sayang, itu sudah cerita lalu. Dulu aku sangat bodoh dan langsung saja menerimanya ketika dia mengajakku berpacaran. Bahkan aku gak pernah menyentuh di sedikit pun," sahut Rafael sambil mengusap pipi istrinya.
"Kalau cium?" tanya Ayana menyelidik.
Rafael tersenyum dan menggelengkan kepalanya seraya berkata,
__ADS_1
"Gak pernah. Sebab itulah dia mencari kesenangan sendiri dengan berhubungan badan bersama laki-laki lain."
Ayana menatap intens manik mata suaminya untuk mencari kebenarannya. Dan Rafael tahu akan hal itu.
"Aku sungguh-sungguh Sayang. Aku gak bohong. Jika aku melakukan itu semua, dia gak mungkin mencari laki-laki lain," ucap Rafael sambil menatap mata istrinya dengan sungguh-sungguh.
Rafael kembali mengecup kedua telapak tangan istrinya dan mengecup punggung tangan istrinya. Kemudian dia berkata,
"Aku ke sana dulu ya. Aku akan segera kembali."
Ayana menganggukkan kepalanya dan kembali memperingatkan suaminya,
"Hati-hati Sayang."
Rafael tersenyum dan mengecup dengan lembut dahi istrinya. Setelah itu dia keluar dari kamar Ayana dan menemui ibu mertuanya.
"Bu, saya titip Ayana sebentar ya. Saya akan menyelesaikan urusan yang sangat penting," pinta Rafael pada ibu mertuanya.
"Ke mana Raf?" tanya Bu Anisa sedikit cemas karena melihat wajah serius dari menantunya.
Rafael menghela nafasnya. Dia mendekati ibu mertuanya dam berkata,
"Ibu tidak perlu khawatir. Saya akan baik-baik saja. Semua ini harus cepat di selesaikan Bu agar tidak ada lagi yang meneror Ayana."
Bu Anisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kemudian dia berkata,
"Hati-hati ya, cepat selesaikan dan jangan sampai terluka. Ayana pasti akan mengkhawatirkan kamu."
"Iya Bu. Rafa janji akan segera kembali dalam keadaan baik-baik saja," ucap Rafael sambil tersenyum manis pada ibu mertuanya.
Setelah itu dia segera berjalan keluar rumah menuju tempat penyanderaan Ruby. Sedangkan Bu Anisa, dia segera masuk ke dalam kamar Ayana untuk menemaninya dan menenangkannya.
Kini Ruby telah dipindahkan ke suatu tempat tidak jauh dari rumah Ayana. Rumah untuk tempat beristirahat para bodyguard Ayana dan Rafael. Beberapa dari mereka masih berada di sekitar rumah Ayana untuk berjaga-jaga.
Rafael duduk tidak jauh dari Ruby berada. Dia duduk di depan Ruby sehingga bisa melihat dengan jelas ekspresi wajahnya.
Wajah Ruby sudah memar terkena tamparan dari beberapa bodyguard yang bertanya padanya. Bahkan sudut bibirnya mengeluarkan sedikit cairan berwarna merah.
Perut dan badannya pun sudah beberapa kali terkena hantaman dari tangan para bodyguard itu, hingga dia meringis kesakitan.
Namun, dia masih tetap bertahan untuk tidak mengatakan apa pun. Dia tidak mau mengatakan apa saja yang telah diperbuatnya dan apa saja rencananya selanjutnya.
"Dasar wanita sialan! Katakan!" seru bodyguard tersebut dengan amarahnya yang meluap dengan tangannya menjambak kuat rambut Ruby.
__ADS_1
Bugh!
Plak!